×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Sisi psikologis dari film Joker (2019)

0

Film

Sisi psikologis dari film Joker (2019)

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Maria Kalista MJ

10 / 10 / 2019 10:55

Sejak dirilis pada tanggal 02 Oktober 2019, film Joker (2019) telah banyak menyita perhatian. Salah satunya adalah mulai beredarnya foto dengan kutipan, "Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti."

Sebagai orang yang tidak terlalu update dengan film Hollywood, saya mengernyitkan kening, bertanya-tanya tentang kutipan yang banyak berseliweran di media sosial tersebut.

"Apakah Joker sebelumnya adalah orang baik?" pikir saya penasaran sehingga saya kemudian memutuskan mencari tahu sinopsis tentang film ini. Menariknya, sinopsis yang terpampang di berbagai website menyiratkan hal serupa. Yaitu bahwa Joker yang pada dunia nyata bernama Arthur Fleck adalah komedian gagal dan diabaikan oleh masyarakat sehingga berubah menjadi keji.

Apakah kemudian sinopsis itu sukses menarik perhatian saya untuk menontonnya? Tidak. Ironisnya, sinopsis tersebut tidak terlalu menarik perhatian saya.

Beberapa hari kemudian, bermunculan kontroversi lantaran banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka menonton film ini meskipun mereka tahu bahwa film ini masuk dalam kategori "Dewasa".

Loading...

Mengapa hal ini menjadi kontroversi? Bukankah sudah sering terjadi seperti itu di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk menonton film Joker (2019).

Setelah menonton film tersebut, kutipan, "Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti," menurut saya tidaklah tepat untuk menggambarkan kondisi Joker. Mengapa demikian?

Patut menjadi catatan penting adalah bahwa Arthur Fleck digambarkan sebagai seorang pria dengan kondisi gangguan psikologis yang membuatnya tidak dapat mengontrol tawanya. Dalam istilah medis, gangguan tersebut disebut Pseudobulbar Affect (PBA), yaitu gangguan saraf yang diakibatkan oleh kerusakan pada korteks prefrontal yaitu area otak yang membantu mengendalikan emosi dan salah satunya dapat disebabkan oleh trauma otak. Pada kasus Arthur Fleck, trauma otak dialami ketika dia kerap dianiaya pada usia sangat muda. Sehingga kondisi ini dapat dengan mudah mencoret pandangan bahwa Joker terlahir akibat penganiayaan yang kerap diterima oleh Arthur Fleck.

Selain mengidap PBA, Arthur Fleck juga digambarkan sebagai sosok yang delusional, salah satunya yaitu ketika dia mengimajinasikan hubungan asmaranya dengan seorang wanita yang juga tinggal di komplek apartment yang sama. Sehingga pandangan bahwa Joker terlahir akibat dikecewakan oleh seorang wanita juga terbantahkan karena hubungan asmara tersebut hanya sebatas imajinasi. Dan perlu kita ketahui bahwa ciri tersebut termasuk dalam gangguan kejiwaan skizofrenia (schizophrenia).

Masih belum jelas penyebab seseorang dapat mengidap skizofrenia, namun menurut penelitian, penyebab utama seseorang mengidap gangguan ini adalah akibat faktor genetika.

Apakah kemudian Arthur Fleck menjadi brutal karena dia mengalami masa kecil traumatis, kegagalan dalam karir, dan pengkhianatan? Dalam hal ini saya memiliki pendapat sendiri.

Jika kita perhatikan dengan saksama, Arthur Fleck berusaha sangat keras untuk menahan sifat brutalnya dengan tidak memberikan perlawanan ketika dipukuli, dihina, dan difitnah. Dia menahan emosinya seorang diri lantaran tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan keluhannya, termasuk ibunya yang mengharapkan Arthur Fleck untuk selalu memasang wajah bahagia dan psikiaternya yang setiap sesi pertemuan menanyakan keadaannya namun tidak benar-benar mendengarkannya.

Meski demikian, Arthur tetap berusaha menahan sifat brutalnya. Hal ini dapat dilihat pada adegan ketika Arthur melampiaskan rasa frustasinya pada tumpukan sampah.

Lalu apa yang membuat Arthur Fleck memutuskan untuk menjadi Joker? Ketidaksengajaan.

Kali pertama Arthur Fleck membunuh seseorang adalah akibat ketidaksengajaan, yaitu ketika dia mengalami hari yang kurang beruntung, dia dikeroyok oleh 3 pemuda sehingga dengan panik dia menarik pelatuk dan membunuh salah satu pemuda yang mengeroyoknya. 2 pemuda lainnya kemudian dia bunuh tanpa dia sadari karena dia merasa puas ketika membunuh korban pertamanya. Namun kemudian dia menyesalinya. Dia sempat menyangkal beberapa kali bahwa dialah yang membunuh ketiga pemuda itu.

Kemudian mengapa akhirnya Arthur Fleck memutuskan membuka jati dirinya sebagai Joker?

"I have nothing to lose," adalah ucapan Arthur Fleck ketika menyatakan dirinya sebagai Joker. Karena dia tidak perlu berpura-pura bahagia lagi dan karena dia telah kehilangan orang-orang terdekatnya sekaligus mendapatkan impiannya untuk menjadi terkenal. Karena alasan itulah Arthur Fleck memilih menjadi Joker.

Film ini menggambarkan bahwa penyakit kejiwaan adalah hal yang patut menjadi perhatian. Bukan untuk menjadi bahan olok-olok. Dan saya rasa, adalah keputusan yang sangat tepat untuk memberikan kategori dewasa untuk film ini mengingat cukup banyak adegan brutal yang harus ditampilkan demi memahami karakter. Dan pemahaman karakter itulah yang belum dapat dilakukan oleh audiens yang belum memasuki kedewasaan karena sering kali orang dewasa pun luput memperhatikan hal esensial semacam ini.





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

-->
MORE
Wave red