×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Kecerdasan emosional menurut psikolog Daniel Goleman

0

Kepribadian

Kecerdasan emosional menurut psikolog Daniel Goleman

Jadi kapan terakhir kali kamu meluapkan emosi diri hingga tidak terkendali?

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Harry Rezqiano

08 / 08 / 2019 09:54

“Kecerdasan Emosional”. Sebuah istilah yang mungkin tidak terlalu populer di masyarakat karena parameter ‘kecerdasan’ lebih sering digunakan untuk ilmu pelajaran yang ‘nyata’ seperti cerdas dalam matematika, fisika, kimia, dan ilmu-ilmu pasti lain.

Emosi maupun emosional lebih sering ditempatkan oleh masyarakat pada sesuatu yang tidak punya nilai ukur. Tanpa parameter. Sesuatu yang tidak punya ukuran kecerdasan. "Orang yang emosional = tidak cerdas". Kira-kira seperti itulah posisi rasa emosi di masyarakat kebanyakan. Lihat saja; mulai sekolah dasar hingga level universitas sekalipun tidak pernah diajarkan bagaimana cara mengenali dan mengatasi emosi dalam diri sendiri maupun dari orang lain di sekitar kita. Sementara hal-hal seperti itu penting dan sangat berharga serta berguna di kehidupan sosial; tapi jangan harap ilmu untuk itu diajarkan secara formal/resmi di ruangan belajar sekolah.

Kecerdasan emosional menurut psikolog Daniel Goleman

(Sumber gambar: YouTube)

Menurut beberapa peneliti psikologis manusia, sesuatu yang disebut sebagai 'kecerdasan emosional' adalah deskripsi tentang sebagus dan seideal apa seseorang dalam mengatur emosi dirinya serta bagaimana dia bereaksi terhadap emosi orang.

Loading...

Dengan skill seperti itu, orang dengan kecerdasan emosional akan mampu menjalankan fungsi sosialnya dengan baik. Berkelas. Bukan kelas dalam hal harta atau level pendidikan formal (saja) namun lebih ke pandangan sosial sebagai manusia yang stabil dengan emosi terjaga. Dengan kata lain: memiliki kecerdasan emosional.

Contoh situasi seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Salah satu contoh menarik adalah saat wawancara penyanyi R. Kelly dengan Gayle King dari stasiun televisi CBS beberapa waktu lalu. Kelly mendadak murka dan emosional saat King menanyakan soal tuduhan kekerasan seksual yang dilakukan Kelly kepada gadis-gadis di bawah umur. Namun saat itu Gayle King tetap terlihat dan bersikap tenang saat R. Kelly meledak marah kepadanya. Dan semua itu terekam dalam kamera televisi secara live alias siaran langsung.

https://www.youtube.com/watch?v=pafJHx-o21k

Apa yang ditunjukkan baik oleh R. Kelly maupun Gayle King merupakan contoh kecil mengenai kecerdasan emosional. Terlepas dari pendidikan formal yang dialami oleh keduanya, terlihat kalau King mampu mengendalikan diri di saat situasi tidak kondusif seperti itu. Sementara Kelly nampak tidak bisa bersikap tenang saat merasa ‘diserang’ secara psikologis dengan pertanyaan yang merugikan dirinya secara citra. Pada situasi inilah, kecerdasan emosional seseorang dapat terlihat dan terbaca.

Kecerdasan emosional menurut psikolog Daniel Goleman

(Sumber gambar: People)

Dapatkah kita mengukur kecerdasan emosional seperti kita mengukur kecerdasan di bidang ilmu eksakta? Beberapa ukuran tercipta untuk hal ini sejak pertengahan 80-an. Seperti misalnya “Mixed Model” karya psikolog Daniel Goleman. Ukuran Goleman itu memiliki lima area kunci yang meliputi:

1. Kesadaran diri.

Ini termasuk mengetahui dan sadar pada perasaan diri sendiri. Tidak berbohong kepada diri sendiri. Mampu mengukur kemampuan yang dapat dilakukan oleh diri sendiri namun juga paham dan tahu kapan harus meminta/menerima pertolongan untuk diri sendiri. Juga mengerti hal-hal yang memancing timbulnya rasa emosi pada diri sendiri. Seperti misalnya seseorang yang suka kerapihan dan tahu dirinya akan murka saat melihat situasi berantakan. Memiliki kesadaran seperti ini adalah ukuran memiliki kecerdasan emosional yang baik.

2. Pengaturan diri.

Merupakan kemampuan pengendalian diri saat emosi meluap; terutama jika sedang dalam situasi/ berada di lokasi yang tidak menguntungkan. Mampu mengatur emosi agar selalu terjaga dan proporsional. Bahkan dalam situasi yang tidak ideal seperti saat berdiskusi dengan orang yang tidak sependapat dengan kita dalam satu topik yang sama. Ini sering terlihat di perdebatan media sosial. Perlu ketenangan saat berhadapan dengan situasi seperti itu dan dari sana bisa terlihat besaran kecerdasan emosional seseorang.

3. Motivasi.

Berbeda dengan motivasi kebanyakan yang lebih berorientasi ke benda berharga (uang) atau posisi di kehidupan sosial (status), ukuran Goleman untuk motivasi ini adalah lebih ke "perasaan kesenangan pribadi, rasa penasaran akan sesuatu, ataupun kepuasan pasca melakukan sesuatu yang produktif". Tentu hal-hal itu bisa didapat berbarengan dengan duit ataupun gelar sosial, namun prioritasnya adalah sebuah ‘private emotion’. Perasaan yang hanya kita yang rasa. Motivasi untuk meraih itu menunjukkan kalau seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik untuk diri sendiri.

4. Empati.

Ini hal yang semakin berkurang dimiliki manusia modern. Sebuah empati merupakan perasaan emosional yang kita berikan; bukan yang kita dapatkan. Tentu dengan memberikan empati kita bisa (dan bahkan berhak) mendapatkan ‘balasan setimpal’ namun orang dengan kecerdasan emosional yang baik akan lebih memilih memberi ketimbang menerima. Rasa empati bukan juga berarti rasa menyepelekan atau mengecilkan seseorang dalam situasi tertentu; empati merupakan cara seorang manusia untuk menghargai diri sendiri dengan melakukan penghargaan kepada orang lain. Seperti seorang kawan pernah berkata “Jadilah cermin! Aku akan memantulkan apa yang diberikan kepadaku!”. Berikan empati dan empati akan kembali kepada kita. Jika tidak? Tidak mengapa! Karena tidak semua orang memiliki kecerdasan emosional yang baik.

5. Kemampuan sosial/sosialiasi.

Hal ini termasuk menyamakan persepsi, kebutuhan, dan kepentingan diri dengan lingkungan sosial. Termasuk juga mencari dan menjalankan persamaan diri dengan orang lain. Sesama pemain video game tentu akan lebih mudah membaur dan berinteraksi ketimbang antara pemain video game dengan pemancing, misalnya. Kecerdasan emosional antar dua ‘jiwa’ ini bisa jadi berbeda karena memiliki minat/hobi yang berbeda. Tapi jika keduanya mampu me-manage kemampuan bersosialisasi maka bisa jadi dua orang berbeda kesenangan ini dapat berinteraksi dan bersosialisasi tanpa merasa canggung ataupun asing satu sama lain.

By the way kecerdasan emosional tidak ada hubungan dengan tingkatan pendidikan akademik karena saya tahu ada orang dengan kecerdasan akademik (ironisnya pelajar ilmu psikologi) tinggi namun terlihat tidak punya cukup kecerdasan emosional saat berada di media sosial.

Kecerdasan emosional menurut psikolog Daniel Goleman

(Sumber gambar: EDWeek.org)

Jadi jika kamu merasa masih mudah untuk ‘meledak emosi’ dan menumpahkannya tanpa terkendali, mungkin mempelajari ukuran kecerdasan emosional ala Daniel Goleman bisa jadi masukan menarik untuk diri sendiri. Namun perlu diingat kalau menekan dan menahan emosi bukanlah hal sehat maupun ukuran kecerdasan emosional yang ideal. “Keseimbangan” adalah kunci.

Luapkan emosi dengan kecerdasan emosional yang ada di dalam diri. Jangan seperti R. Kelly. Jadilah seperti Gayle King. Good luck!






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red