×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Jangan disepelekan, ini 5 cara mengurangi konflik dalam kehidupan

0

Kepribadian

Jangan disepelekan, ini 5 cara mengurangi konflik dalam kehidupan

Coba lakukan lima cara ini agar konflik dalam kehidupanmu dapat berkurang dan hubunganmu dengan orang lain pun menjadi lebih langgeng.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Ditha Audia Ghaisani

16 / 01 / 2020 12:20

Ayo, ngaku, siapa yang sering cekcok dengan teman sendiri? Saya pun terkadang masih sering ngambek dengan teman. Ada saja hal-hal sepele, baik sengaja maupun tidak disengaja, yang memancing kekesalan atau amarah. Namun sebagai makhluk yang dianugerahi dengan perasaan, merasa marah, kesal ataupun kecewa adalah hal yang wajar. Saya rasa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tidak pernah kesal dengan sahabatnya.

Saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, di mana kontrol emosi masih labil, saya sering mengalami salah paham dengan teman. Tidak ada satu pun dari kami yang ingin memulai pembicaraan, jadinya masalah pun tidak ada kejelasan. Namun anehnya, saya dan teman kembali akrab dengan sendirinya tanpa ada perkataan maaf terlebih dahulu seakan-akan tidak ada masalah yang terjadi. Persahabatan memang selucu itu. Beranjak dewasa, saya belajar satu hal yang penting dalam sebuah hubungan. Ya, benar, komunikasi.

Menurut Pace dan Faules, dua orang ahli Ilmu Komunikasi mengatakan bahwa, “Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami.” Kurangnya keterbukaan dalam berkomunikasi dapat memicu pertikaian. Dalam hubungan persahabatan, jika ada salah satu anggota yang enggan membuka diri, maka kamu perlu untuk memahami bahwa ada alasan di balik keengganannya dalam membuka diri. Beberapa orang memang lebih memilih untuk tidak terang-terangan mengekspresikan masalahnya. 

Coba deh, kamu yang lagi ada konflik dengan teman-temanmu, berintrospeksi diri dahulu, apakah kamu pernah melakukan kesalahan atau tidak. Bahkan hal-hal kecil seperti tidak membalas pesan online darinya dapat dianggap masalah oleh temanmu. Satu orang dari kalian harus ada yang bertindak agar konflik cepat terselesaikan. Jika kamu bisa membicarakan masalah tersebut dengan kepala dingin, maka saya yakin kamu dan teman tidak perlu repot untuk saling menjauh. Malahan, konflik yang terjadi bisa menjadi pelajaran yang mempererat hubungan pertemananmu.

Berikut ini merupakan beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi konflik dalam kehidupan.

Loading...

1. Kamu bisa menerapkan penggunaan komunikasi yang membentuk iklim yang menyehatkan.

Ibarat tiang yang menyangga bangunan, komunikasi adalah salah satu faktor yang menyangga sebuah hubungan. Hargailah orang lain dengan cara merespon keadaan mereka sebisa mungkin. Studi yang dilakukan oleh beberapa ahli komunikasi, Harter, Waters, Pettitt, Whiteshell, & Kofkin, mengatakan bahwa, “Orang merasa kurang tervalidasi dan tidak mampu mengekspresikan diri otentiknya ketika pasangannya berfokus pada diri sendiri dan tidak mengakui mereka.”

Kamu juga bisa bertindak sebagai pengarah komunikasi dalam hubunganmu untuk menciptakan perasaan positif di dalamnya. Jika kamu mendapati sesuatu yang janggal dalam hubunganmu, kamu bisa melakukan pembicaraan santai dengan sahabatmu agar tidak terjadi konfik yang lebih rumit. Berusahalah untuk lebih peka dengan hal-hal sepenting itu. Toh, jika kamu memberikan respon yang sahabatmu inginkan, maka ia pasti akan senang juga.

2. Coba untuk menerima dan mengonfirmasikan orang lain.

Mengonfirmasi di sini bukanlah seperti meminta persetujuan, namun berupa merespon jika seseorang sedang berbicara denganmu. Kamu tidak perlu untuk selalu setuju dengan perkataan maupun perbuatan sahabatmu, namun yang terpenting adalah kejujuranmu, sekalipun itu menyakitkan untuk dikatakan. Riset komunikasi yang dilakukan oleh Rawlins, mengindikasikan bahwa, “Orang mengharapkan teman sejati untuk berkomunikasi dengan jujur, bahkan jika tidak selalu enak didengar.”

3. Kamulah yang harus menerima dan mengonfirmasi diri sendiri.

Hal ini sama pentingnya dengan mengonfirmasi orang lain. Kamu memilki hak juga untuk bercerita dan didengarkan. Ada kesalahpahaman di mana orang-orang dalam berkomunikasi hanya memerhatikan bagaimana kita harus bersikap terhadap lawan bicara, namun hal itu berlaku juga kepada diri sendiri. Jika kamu tidak menyatakan apa yang kamu rasakan, maka orang lain tidak akan bisa untuk mengonfirmasi kamu. Untuk menciptakan iklim komunikasi yang sehat, orang-orang yang terlibat di dalamnya harus bisa menghormati pendapat atau pilihan dirinya serta orang lain.

4. Kamu harus tahu kapan waktu yang tepat untuk membuka diri.

Mengapa hal ini penting? Karena ketika kamu dapat membuka diri di saat yang tepat, akan muncul peningkatan dalam hal kepercayaan dan rasa kedekatan. Keterbukaan diri sebagai bukti bahwa kamu percaya dengan sahabat-sahabatmu. Eits, tetapi kamu harus bijak dalam membuka diri juga, karena keterbukaan diri yang salah bisa mendatangkan masalah kepadamu. Di dunia ini tidak ada orang yang sepenuhnya baik dan tidak sombong. Untuk mengurangi risiko kebocoran hal-hal yang tidak kamu inginkan, kamu harus paham sifat orang-orang di sekitarmu. Sebelum membuka diri terlalu jauh, amatilah bagaimana orang-orang terdekatmu menanggapi ceritamu dan bagaimana mereka menggunakan informasi itu.

5. Pahami keragaman dalam hubungan.

Tidak hanya orang-orangnya saja yang beragam, bentuk pendekatan orang-orang dalam berhubungan juga bervariasi. Di lingkup pertemananmu, bisa jadi ada temanmu yang termasuk ke dalam golongan yang kurang nyaman dengan keterbukaan. Tetapi, pasti ada juga yang senang untuk berbagi ceritanya. Kamu tidak bisa mengubah sifat-sifat mereka, karena setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing.

Dalam riset yang dilakukan oleh Inman, Johnson, dan Wood, menunjukkan bahwa ada dua jenis kedekatan yang umum digunakan, ada kedekatan dalam dialog, yaitu pengungkapan kedekatan melalui kata-kata serta penggunaan penekanannya. Lalu, ada kedekatan dalam tindakan, yaitu pengungkapan kedekatan melalui bagaimana berperilaku terhadap orang-orang sekitar. Kamu bebas menentukan jenis apa yang ingin kamu terapkan, sesuai dengan kenyamananmu.

Saya tahu bahwa konflik itu tidak dapat dihindari. Kesalahan kecil yang dilakukan oleh temanmu ataupun dirimu sendiri dapat memicu konflik dalam hubungan. Kamu salah bicara sedikit, bisa jadi temanmu langsung menjadikan itu masalah. Temanmu mengabaikanmu di kelas karena suatu hal, seketika kamu beranggapan ia membencimu. Konflik tidak akan terpecahkan jika tidak ada yang ingin berterus terang. Kamu harus ingat bahwa komunikasi adalah hal yang paling vital dalam kelanggengan hubungan. Untuk mengurangi terjadinya konflik, kamu bisa belajar untuk mengonfirmasikan orang lain dan diri sendiri, membuka diri tepat pada konteksnya, serta menghargai keragaman dalam hubungan. Tidak ada paksaan untuk melakukannya, saya hanya sekadar memberitahu. Pilihan ada di tanganmu.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red