×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Inilah makna filosofis dari 5 ilmu pusaka masyarakat Sunda

0

N/A

Inilah makna filosofis dari 5 ilmu pusaka masyarakat Sunda

"Ngamumule budaya jasana sanes lumayan" yang berarti melestarikan budaya jasanya tidaklah kecil.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Aditia Lesmana

21 / 01 / 2020 20:30

Suku Sunda merupakan salah satu dari sekian banyak suku bangsa yang hidup di wilayah Indonesia. Suku Sunda berada di dataran Pulau Jawa yang hidup berdampingan sejak dulu dengan Suku Jawa. Meskipun masih satu pulau, tetapi kebudayaan di antara keduanya jelas berbeda, apalagi dalam segi tutur bahasa dari masing-masing suku. Suku Sunda mayoritas hidup di sebelah barat Pulau Jawa, yaitu di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Tempat tinggal Suku Sunda sering disebut dengan Tanah Sunda, Tanah Pasundan, atau Tanah Parahyangan.

Motto hidup yang sangat terkenal di Tanah Sunda adalah “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” yang berarti “Saling Bertukar Pikiran/Saling Menajamkan Pikiran, Saling Mengasihi, dan Saling Menjaga.” Makna dari ketiga kalimat tersebut begitu dalam dan filosofis, menggambarkan karakter “urang” Sunda yang ramah, santun, penyayang, dan kritis. Semuanya sudah lama terkandung dalam tata laku dan hidup Suku Sunda sejak dahulu kala, bahkan sampai sekarang pun masyarakat Sunda modern tidak sedikit yang masih mengamalkan nilai-nilai di atas sebagai pedoman etika sehari-hari meskipun di tengah arus Globalisasi dan Modernisasi yang kian menghujam dalam berbagai segi kehidupan masyarakat Sunda. Hal itu tidak sedikit pun mengubah karakter asli dari sebagian besar masyarakat Sunda, apalagi yang hidup di wilayah pedesaan.

Selain ketiga kalimat indah di atas, juga terdapat lagi istilah-istilah kuno dalam kebudayaan Sunda yang memiliki nilai-nilai dan makna filosofis yang dalam, di antaranya adalah 5 istilah ilmu pusaka kuno yang terdapat dalam kebudayaan Sunda. Masyarakat Sunda sering menyebutnya dengan istilah 5 Elmu Ki Sunda (5 ilmu orang Sunda).

Ilmu-ilmu orang Sunda tersebut sangat erat maknanya dengan istilah ilmu “kanuragan” atau ilmu kesaktian yang sering kali dimiliki oleh orang-tua zaman dahulu, tetapi semakin berkembangnya pola pikir masyarakat Sunda, makna dari istilah ilmu kesaktian tersebut ternyata sering kali disalahartikan sehingga dimaknai benar-benar ilmu kesaktian yang dipelajari turun temurun. Padahal istilah-istilah tersebut hanyalah istilah simbolis yang memiliki makna dan filosofis bagi kehidupan masyarakat Sunda.

Apa saja istilah-istilah tersebut? Sebagaimana yang dilansir dari salah satu laman Facebook bernama Sunda Bijak dengan judul “Kintunan Ti Sepuh Kanggo Anaking Jimat Awaking” (Titipan dari orang tua untuk anakku yaitu jimat diri), berikut 5 ilmu pusaka “Ki Sunda”.

Loading...

1. Elmu Saepi.

Elmu Saepi bukanlah berarti sebuah ilmu yang dapat menyampaikan seseorang ke suatu tempat atau ilmu yang bisa membuat seseorang terbang layaknya Superman. Tetapi Elmu Saepi merupakan singkatan dari Sae Pikiran (bagus pemikiran), yang merujuk pada karakter cerdas, inovatif, dan juga kreatif.

2. Elmu Napak Sancang.

Secara bahasa, Elmu Napak Sancang diartikan sebagai ilmu kanuragan yang bisa membuat seseorang berjalan di atas air, layaknya sosok Naruto dan ninja lainnya dalam serial anime terkenal Naruto. Tetapi makna di balik Elmu Napak Sancang adalah bahwa seseorang harus bisa menapaki kehidupan ini dengan segala gelombang dan lika likunya, serta dapat berjalan di atas segala keadaan tanpa merasa putus asa.

Selain itu, Elmu Napak Sancang juga bermakna bahwa seseorang yang memiliki ilmu ini adalah seseorang yang memiliki sifat ataupun watak yang dapat diterima oleh seluruh golongan ataupun mazhab, dan tidak “merekedeweng” (keras kepala). Sebagaimana air yang dapat menerima kita untuk berjalan di atasnya, begitu juga bagaimana penerimaan sosial masyarakat kepada kita.

3. Elmu Kebal.

Elmu Kebal sendiri sering diartikan sebagai ilmu yang bisa membuat seseorang kebal atau tahan dipukul atau ditusuk oleh senjata tajam ataupun bahkan ditembak oleh senapan apa pun. Sedangkan makna filosofis dari Elmu Kebal adalah bahwa seseorang yang memiliki ilmu memiliki karakter kuat, disiplin, teguh pendirian, dan konsisten. Dan juga memiliki karakter yagng tidak mudah terbawa oleh arus negatif pergaulan, terutama godaan dari setan, yang juga sering dimaknai dengan istilah istikamah.

4. Elmu Rawa Rontek.

Pernah mendengar kisah Rahwana, tokoh antagonis dalam kisah pewayangan Ramayana? Jika kita melihat sekilas, dia memiliki semacam ajian atau mantra sakti yang bernama “Rawa Rontek”, yaitu suatu ilmu sakti yang berfungsi agar seseorang yang memilikinya tidak akan mati dan mampu menyambungkan kembali anggota tubuh yang semual terpotong, dengan syarat pemiliknya harus menginjak Bumi.

Tetapi bukan itu maksud dari Elmu Rawa Rontek. Makna dalam dari ilmu tersebut bahwa seseorang yang memiliki ilmu ini adalah sosok yang dapat selalu menyambungkan tali silaturahmi antar keluarga dan sesama, ataupun bahkan dapat menyambungkan kembali tali persaudaraan yang sempat putus karena persengketaan dan permusuhan. Selain itu juga mampu untuk menentramkan orang-orang yang terbawa oleh nafsu, dan dapat merangkul setiap orang meskipun di atas perbedaan.

5. Elmu Halimun.

Secara bahasa keseharian, Elmu Halimun sering diartikan sebagai sebuah ilmu kesaktian yang dapat membuat seseorang menghilang dan tidak tampak oleh indra penglihatan manusia. Tetapi hakikat makna di balik Elmu Halimun adalah bahwa seseorang yang memilikinya adalah seseorang yang mampu untuk “bersembunyi di dalam terang”, dan “muncul dalam kegelapan”.

Maksudnya adalah berkarakter rendah hati, tidak mengunggulkan diri di atas orang lain, dan tidak menampakkan kebaikan-kebaikan palsu di hadapan orang banyak agar dipandang baik, serta tidak merasa paling benar dan paling segala-galanya. Sebaik mungkin harus mampu menyembunyikan setiap kebaikan dari pandangan manusia sebagai bentuk keikhlasan dalam berbuat baik, dan mampu hadir tatkala dibutuhkan oleh orang lain yang sedang kesusahan.

Itulah tadi kelima filosofi Elmu Ki Sunda yang dapat menjadi motivasi diri bagi kita untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri dan juga pengingat bahwa segala bentuk budaya memiliki kearifan dan makna filosofis yang mendalam sebagai bentuk keragaman budaya Indonesia.

Elmu Ki Sunda juga tidak hanya berlaku bagi seluruh orang Sunda semata, melainkan dapat menjadi pelajaran hidup bagi seluruh orang dari manapun asal sukunya. Karena esensi nilai yang dikandungnya merupakan etika pergaulan yang berlaku baik di seluruh komunitas sosial.

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

-->
MORE
Wave red