Brilio.net - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, resmi menghentikan sayembara penyelamatan buaya berkalung ban di Sungai Palu. Upaya penyelamatan usai penghentian sayembara segera dilakukan petugas ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kepala BKSDA Sulteng, Hasmuni Hasmar mengungkapkan, sebelum resmi menghentikan sayembara yang sempat dibuka sejak 28 Januari tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak KLHK khusus membahas sayembara itu.

Hasilnya, Kementerian LHK di Jakarta memutuskan akan membantu upaya penyelamatan buaya berkalung ban oleh BKSDA Sulteng dengan mengirim petugas dan tenaga ahli. Tenaga ahli yang disiapkan KLHK itu, Hasmuni menjelaskan, bahkan berasal BKSDA dari semua provinsi di Indonesia.

Rencananya, Selasa (4/2/2020) nanti para petugas yang diutus itu akan tiba di Kota Palu untuk membahas strategi penyelamatan buaya Sungai Palu dari jerat ban yang sedang menjadi perhatian publik itu.

"Benar, sayembara telah kami tutup. Ada petugas KLHK dan tim ahli lengkap dengan peralatan yang akan membantu kami ( BKSDA Sulteng) untuk menyelamatkan buaya berkalung ban itu," ungkap Hasmuni kepada Liputan6.com, Minggu (2/2/2020), malam.

Loading...

Menurut pantauan liputan6.com di Sungai Palu, tepatnya di bawah jembatan I Jalan I Gusti Ngurahrai, sabtu pagi hingga siang, tidak tampak adanya warga yang berupaya menangkap dan melepaskan jeratan di leher buaya itu.

Buaya berkalung ban yang jadi target sayembara itu sesekali muncul ke permukaan air, sementara sekitar 200 meter dari situ aktivitas warga penambang pasir tetap berjalan tanpa merasa terganggu buaya berkalung ban itu.

Mengenai sayembara yang diadakan BKSDA Sulteng, warga yang tinggal tak jauh dari tepi Sungai Palu, Jalan Gusti Ngurahrai, Palu Selatan mengungkapkan, meski buaya yang kini berukuran hampir lima meter itu kerap menampakkan diri di tepi sungai dekat permukiman mereka, namun upaya menangkap untuk melepas ban di leher hewan buas itu urung dilakukan karena saat akan ditangkap justru buaya itu tidak muncul.

Buaya berkalung ban  Liputan6.com

foto: liputan6.com/Heri Susanto

Selain itu peralatan yang tidak memadai warga khawatir aktivitas pelepasan ban itu justru makin membuat sang buaya terluka.

"Sebenarnya niat menangkap dan melepas ban di leher buaya itu ada, kasihan juga rasanya. Tapi itu buaya kan besar sekali, jadi tidak sembarangan orang yang bisa, Panji saja mengalah!" kata Daeng Raja (50 th) warga Kelurahan Tatura, Palu Selatan, di tepi Sungai Palu seperti dikutip brilio.net dari liputan6.com, Senin (3/2).

Di luar sayembara itu, kemunculan buaya berkalung ban itu juga membuat warga punya hubungan spesial dengan sang buaya. Bagaimana pun, warga kasihan dengan si buaya.

Jika buaya berkalung ban muncul, warga kerap memberi makan dengan seekor ayam. Perilaku si buaya berkalung ban tersebut menurutnya juga tidak begitu agresif.

Buaya berkalung ban  Liputan6.com

foto: liputan6.com/Heri Susanto

Bahkan di sekitar permukimannya belum pernah terjadi kasus serangan buaya ke warga ataupun hewan ternak yang digembalakan di padang rumput tepi sungai.

"Dia (buaya berkalung ban) sering diberi makan warga kalau muncul. Yang penting tidak diganggu, dia tidak agresif. Bahkan banyak orang mendekat kalau dia muncul," ucap pria paruh baya yang akrab dengan sapaan 'Daeng' itu.

Bahkan di sekitar permukimannya belum pernah terjadi kasus serangan buaya ke warga ataupun hewan ternak yang digembalakan di padang rumput tepi sungai.

"Dia (buaya berkalung ban) sering diberi makan warga kalau muncul. Yang penting tidak diganggu, dia tidak agresif. Bahkan banyak orang mendekat kalau dia muncul," ucap pria paruh baya yang akrab dengan sapaan 'Daeng' itu.