Brilio.net - Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Impossible is nothing, seperti slogan sebuah jenama olahraga terkenal. Seperti itu pula gambaran hidup Ariyanto biasa dipanggil Arya, 49 tahun. Bermula dari sebuah desa yang dikelilingi belantara jati di pelosok Bojonegoro, Jawa Timur, Arya meniti karier sebagai pengusaha sukses di Yogyakarta.

Arya kini memiliki sebuah brand penganan khas Yogyakarta, bakpia yang rata-rata setiap harinya mengolah bahan mentah 500 kilogram kacang hijau.

Dari bisnis bakpianya, Arya melebarkan sayap hingga memiliki dua restoran besar di kota pendidikan yang juga populer sebagai tujuan wisata itu. Satu restoran yaitu Sekarwangi berada di Jalan Wates, satu lagi Restoran Jamur Jawa berdiri megah di Jalan Wonosari. Sebagai gambaran, area parkir restoran Sekarwangi mampu menampung 20 bus wisata sekaligus.

Sukses Arya dalam bisnis bakpia bermula dari perantauannya ke Yogyakarta. Putra pasangan pegawai kecamatan dan pedagang pecel lele itu menjalani masa kecil di Ngraho, Bojonegoro. Tempat tinggalnya berada di lintas lalu lintas antara Kabupaten Ngawi dengan Kabupaten Bojonegoro. Tanahnya tandus, lebih banyak berupa hutan jati. Tempatnya di pelosok. Jarak dari ibukota kabupaten mencapai 50 kilometer.

Dia lantas hijrah ke Yogyakarta untuk kuliah di Politeknik Akademi Pariwisata Indonesia. "Orangtua saya ketika itu tidak tahu kalau saya kuliah di Jogja," ujar Arya.

Dari kampus inilah jalan bisnis Arya terbuka. Dia bertekad setelah lulus menekuni dunia yang sejalan dengan pendidikannya yaitu pariwisata.

Arya lalu bekerja di sebuah kelompok usaha yang terkenal dengan bisnis oleh-oleh. Tidak mau hanya menjadi pegawai, Arya menguji jiwa kewirausahaannya.

Dia resign setelah di tempat lamanya mengaku sudah belajar banyak hingga mampu menguasai resep dan cara memasarkan bakpia. Jurus bisnis amati, tiru, dan modifikasi (ATM) lantas dia terapkan.

Seperti halnya problem perintis wirausaha lainnya, Arya cekak dalam urusan modal. Dengan berpegang pada resep dan kemampuan pemasaran, Arya berhasil menemukan pemodal. Sistem bagi hasil pun diterapkan dengan pemodal.

Namun, jalan tak selamanya mulus. Arya mengaku sempat gagal berkali-kali dengan berbagai macam brand bakpia. Semula dia menggunakan merk Bakpia Toegoe, tetapi gagal. Lalu dia berganti dengan bran Tugu Cis hingga kembali kandas. Dia kemudian mengubah peruntungan dengan merk Sumodigdo. Lagi-lagi bubar.

Barulah setelah menggunakan nama Jogkem yang merupakan akronim Jogja Kembali, Arya menuai hasil. Dengan brand Bakpia Jogkem, Arya berhasil membuka empat outlet di berbagai tempat di Yogyakarta. Pertama di Jalan Ireda, lalu di Gedong Kuning, kemudian di Alun-Alun Selatan dan outlet terakhir dibuka di kawasan Mangkuyudan. "Dalam sistem kemitraan, kuncinya adalah transparansi," jelas Arya.

Salah satu trik kenapa bisnisnya berhasil, Arya mengaku memproduksi berbagai macam rasa dengan kualitas yang sudah teruji. Ada rasa orisinil kacang hijau, lalu keju, coklat, bumbu hitam, capucino, green tea, tiramisu, susu, red velvet, pisang, alpukat, nangka, dan duren. "Semua laris manis. Khusus untuk rasa pisang dan nangka kami hanya memproduksinya di hari Sabtu dan Minggu," ujarnya.

Dia tidak mau terbuka soal omset. Tetapi sebagai gambaran, pabrik bakpianya memproses bahan mentah rata-rata 500 kilogram per hari. "Satu kilogram itu menghasilkan tujuh dus bakpia berisi 15 biji. Kalau ramai satu titik outlet bisa kedatangan 100-150 bus," ujar bapak lima anak itu.

Arya menyadari dirinya sudah berada pada titik mewujudkan impian. Kini dia berusaha menularkan ilmunya kepada anak-anak muda. Arya kemudian merintis lembaga diklat pariwisata dan kapal pesiar bernama Sun Marino. Kini, total karyawan Arya mencapai 300 orang. "Dalam bisnis, lima persen keuntungan sebaiknya jangan dihabiskan. Gunakan untuk melebarkan sayap," ujar Arya berfilosofi.