Brilio.net - Alkisah ada seorang tokoh bernama Samara Kindi. Sam, sapaan akrab Samara Kindi, mengenal sosok Baharudin Lopa (Barlop). Barlop terkenal sebagai pendekar hukum dan keadilan Indonesia.

Kesederhanaan, sikap tegas dan taat agama membuat Barlop muncul sebagai sosok langka di sebuah negeri di mana kejujuran mulai luntur. Barlop telah berhasil memanfaatkan dan menyatukan tiga unsur sebagai pemimpin, keberanian, kebenaran dan kesempatan.

Dan kisah Sam tentang sosok Barlop ini merupakan penggalan novel berjudul The Djaksa. Novel ditulis jurnalis Harian Suara Merdeka Nurokhman Takwad. Intisari dari novel yang ditulis jurnalis muda ini adalah pergulatan seorang jaksa dalam penegakan hukum di Indonesia.

"Kisah tentang profesi jaksa yang selama ini kita tahu kadang tak sepenuhnya benar. Ada banyak pergulatan di sana. Novel ini hadir untuk membantu menjawabnya. Kenapa novel karena model tulisan beginilah yang akan membuat orang tertarik membaca, ketimbang tulisan ilmiah atau karya lainnya," ujar Nurokhman kepada brilio.net, Selasa (17/11).

Novel karya jurnalis ini ungkap pergulatan hidup seorang jaksa
Nurokhman Takwad. foto: istimewa

Jurnalis yang memang sudah lama bergelut dengan Korps Adhyaksa ini memahami untuk menjangkau pembaca di era digital ini, khususnya pembaca muda, dia harus merambah online. Untuk itu, secara khusus novel The Djaksa pun dipublikasikan terlebih dahulu melalui blog thedjaksa.blogspot.com.

"Saya luncurkan melalui blog karena sekarang orang sudah terbiasa membaca berita dan novel melalui telepon genggam," ujar Nurokhman. Dia menambahkan dengan cara ini, harapannya, karya yang dia buat semakin mudah diakses oleh semua kalangan. Versi cetaknya baru akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Dan satu yang menarik dari novel ini adalah sebuah pesan mendalam tentang kepemimpinan dan kejujuran.

"Di negeri ini banyak orang benar tapi tidak punya nyali menjadi pemimpin. Atau menjadi pemimpin bernyali tetapi mengabaikan kebenaran. Ada yang sudah memiliki tekad berbuat benar, namun belum memiliki kesempatan.

Ironisnya lagi, sudah ada pemimpin yang pemberani menegakkan kebenaran, namun terseok-seok berjalan sendirian melawan jaringan mafia terorganisir dan kejahatan tersistem."