Brilio.net - Kebanyakan anak remaja merasakan yang namanya bersekolah dan bermain bersama teman seusianya. Namun berbeda dengan yang dirasakan oleh bocah tunanetra dari Surabaya, Jawa Timur, ia harus bekerja untuk bertahan hidup meski memiliki kekurangan secara fisik.

Di tengah segala keterbatasan yang ia miliki, ia harus berjuang untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup dan menyisihkan sedikit untuk biaya sekolah. Meski cobaan hidup terasa berat, dia tetap menjalani keadaan tersebut dengan rasa syukur dan perjuangan.

Bocah laki-laki bernama Riko (15) merupakan seorang siswa dari SMPLB-AYPAB Gebang Putih Surabaya. Dirinya merupakan bocah penyandang tunanetra. Bukan hanya itu saja, kisah miris berlanjut ketika kedua orang tua Riko memilih untuk berpisah. Namun, Riko beruntung memiliki kakek dan nenek yang sangat baik dan dengan senang hati merawat Riko sedari kecil.

Anak tunanetra hebat Berbagai sumber

foto: Instagram/@kitabisacom

Loading...

Dilansir brilio.net dari merdeka.com pada Selasa (13/10). Kakek Riko awalnya bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan Rp 30 ribu per hari. Sayangnya, sejak kebutaan akibat glaukoma menyerang kakeknya karena tak pernah diobati, kini ia tak bisa bekerja.

Riko kemudian turut mencari nafkah sebagai seorang penjual nasi bungkus, dia juga sempat mendapatkan pengalaman pahit. Ketika berjualan, ada beberapa cobaan yang dirasakan oleh Riko, salah satunya adalah ketika dia sedang mendapat protes karena lauk yang kecil atau porsi yang terlalu sedikit.

Tak jarang ada pelanggan yang sampai tak mau membeli nasi bungkus yang dijual Riko. Hal tersebut sontak diceritakan kepada sang nenek yang akhirnya ikut mengolah nasi bungkus sedari pukul 3 dini hari di dapur.

Anak tunanetra hebat Berbagai sumber

foto: Instagram/@kitabisacom

Menjual nasi bungkus setiap harinya sebenarnya tak membuat Riko dapat memenuhi kehidupan sehari-harinya. Penghasilan yang didapatkannya sangat minim dan jauh dari kata cukup.

Anak tunanetra hebat Berbagai sumber

foto: Instagram/@kitabisacom

Setiap harinya Riko bisa menjual nasi sebanyak 25 bungkus dengan pendapatan Rp 35 ribu per harinya. Ia begitu semangat menjual nasi dengan cara menerawang jalan menggunakan tangannya meski nggak ada yang menemani sama sekali.

Sebelum memutuskan untuk berjualan nasi, Riko bahkan sempat mencari nafkah dengan menjadi seorang tukang pijat tunanetra. Namun, hal tersebut tidak berlanjut sebab ia hanya mendapatkan upah Rp 5 ribu saja.

Kini, Riko hanya berjuang melawan kehidupan yang keras dengan menjadi seorang penjual nasi bungkus. Begitu mulia, semangat Riko tak pernah padam demi mencari nafkah untuk kakek dan neneknya.