×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Mengenal Pulo Majeti dan mitos seram yang mengelilinginya

0

Jalan-Jalan

Mengenal Pulo Majeti dan mitos seram yang mengelilinginya

Pulo Majeti sejak lama memang dikenal sebagai tempat mistis dan memiliki mitos-mitos di luar nalar yang masih lekat hingga sekarang.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

teguh iman perdana

30 / 09 / 2020 14:55

Kota Banjar, daerah paling timur Jawa Barat ini memiliki legenda yang tidak bakal lekang ditelan ingatan. Pulo Majeti namanya. Pulo majeti berada di tengah Rawa Onom, tepatnya di Lingkungan Siluman Baru, Kelurahan Purwaharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Pulo Majeti sendiri lokasinya dikelilingi oleh area pesawahan yang konon dulunya adalah rawa dengan luas mencapai 947 hektar. Saat musim penghujan tiba, airnya akan luber hingga memenuhi sawah penduduk. Hanya saja kini kejadian tersebut telah jarang terjadi karena air yang meluap akan langsung disalurkan ke Sungai Citapen yang berhulu di Sungai Citanduy.

Sebelum memasuki daerah ini, pohon-pohon besar berumur ratusan tahun telah terlihat jelas dari jauh. Rindang dan juga dedaunan yang berguguran terkadang menutupi jalan.

Dari cerita yang beredar di masyarakat, Pulo Majeti yang dulunya berada di tengah Rawa Onom dipercaya sebagai pusat Kerajaan Onom. Onom sendiri merupakan bala tentara Kerajaan Medang yang telah ditaklukkan oleh Kerajaan Galuh.

Karena kecewa atas kekalahan tersebut, maka Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom, Ibu Ratu Gandrawati Ingkanggarwa, Raden Patih Kalintu Undara Pamerat Jagat, Raden Jaksa Jagabuana, Kiai Bagus Tol Malbaeni, dan Kiai Bagus Mantereng serta para pengikutnya melakukan “tilem” (baca: tidur) di Pulo Majeti.

Loading...

Bekas petilasan yang digunakan untuk bersemedi dan menyepi oleh Kanjeng Ibu Ratu Gandrawati Ingkanggrawa pun masih ada. Petilasan tersebut berbentuk seperti bangunan makam yang memiliki tiga undakan serta pada puncaknya terdapat dua pasang batu nisan berbentuk persegi panjang kira-kira setinggi 60 cm.

Lebih lanjut, cerita lain yang beredar pun menyebut bahwa Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom tersebut memerintah kerajaan dengan sebuah cincin bertuah. Cincin bertuah tersebut diturunkan pada anaknya dan dimiliki terakhir oleh Syech Syarif Hidayatullah dengan diberi nama cincin Ampal Fatullah.

Mitos-mitos seram yang megelilinginya.

Onom, kata yang tersemat pada Rawa Onom, juga Pulo Majeti selalu bersangkut paut dengan kisah mistik, kesan angker, dan menyeramkan. Pun dengan mitos yang mengelilinginya.

Salah satu mitos turun temurun yang tak lekang ditelan zaman adalah kepercayaan bahwa Onom merupakan mahluk halus atau siluman. Onom juga dipercaya mampu memberikan bantuan dan sumber kekuatan bagi yang memanggilnya.

Konon, Onom akan datang ketika dipanggil apabila ada warga tersebut mengalami kesulitan dan sedang terkepung marabahaya sehingga orang tersebut dimudahkan dan diselamatkan dari apa pun yang membahayakanya.

Selain itu, mitos lain yang beredar menyebut bahwa dengan bertapa atau berziarah ke Pulo Majeti, segala rezeki akan dilancarkan. Hal tersebut dapat terjadi karena disinyalir tempat ini mampu menjadi perantara sehingga Yang di Atas akan memberi pitulung. Sehingga orang-orang yang berziarah tidak hanya dari Kota Banjar saja, namun juga dari luar seperti Ciamis, Bandung, Kudus, Jember, hingga Kediri.

Alasan lain mengapa banyak peziarah dari luar kota pun diungkapkan oleh juru kunci yang menyebut karena keadaan di hutan Pulo Majeti begitu sunyi sehingga peziarah dapat berdoa lebih khusyu.

Mitos terakhir yang mengelilinya adalah ketika di Pulo Majeti, pengunjung dilarang kencing sembarangan karena bisa kena akibatnya. Hal tersebut juga berkaitan erat dengan norma kesopanan dan adab sebagai tamu yang berkunjung. 

Pengunjung atau warga pun juga dilarang berburu hewan yang ada di dalam Pulo Majeti. Bahkan konon, dulu pernah ada seorang warga yang memburu seekor hewan biawak. Belum sempat disembelih untuk dinikmati sebagai kudapan, tiba-tiba ada mahluk yang datang dan meminta untuk dikembalikan lagi ke Pulo Majeti.






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red