×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Menapaki kesejukan dan pesona alam Gunung Gede di awal musim penghujan

0

Jalan-Jalan

Menapaki kesejukan dan pesona alam Gunung Gede di awal musim penghujan

Salah satu keindahan Hutan Hujan Tropis ada di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Menelusuri pesona alamnya memberikan keseruan tersendiri.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Dodi Bayu Wijoseno

05 / 12 / 2019 11:00

Bagi para pencinta dan penyuka wisata alam, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango merupakan salah satu tempat yang begitu familiar dengan pesona keindahan alamnya. Lokasinya yang relatif tidak begitu jauh dari Kota Jakarta ataupun Bandung menjadi daya tarik tersendiri bagi yang memiliki keterbatasan waktu untuk membuat liburan singkat dan berkualitas. Tidak melulu mengenai pendakian sampai ke puncak gunungnya, beberapa lokasi yang berada di jalur pendakiannya dan terletak tidak begitu jauh dari pintu masuk rute Cibodas juga menarik untuk dikunjungi.

Karena letaknya yang relatif tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami di Jakarta, membuat kami berdelapan pada hari Sabtu, 30 November 2019 lalu memutuskan untuk melakukan short escape dari rutinitas kesibukan pekerjaan ke tempat ini untuk sekadar jalan-jalan dan refreshing menyegarkan pikiran di alam. Kami menetapkan tujuan akhir jalan-jalan adalah di Air Terjun Cibeureum, sebuah air terjun yang berada di jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango.

Karena kawasan puncak dan sekitarnya terkenal dengan kemacetan parahnya pada liburan weekend, ada tips untuk menghindari kemacetan tersebut dengan berangkat jam 4 subuh di hari Sabtu pagi karena lalu lintas jalan raya menuju puncak pada jam-jam tersebut masih relatif lancar. Untuk keefektifan waktu menuju ke Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango pintu Cibodas, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan yang biayanya bisa dibagi bersama-sama sehingga lebih murah.

Perjalanan dari Jakarta ke Cibodas dengan mobil pada pagi hari menjelang subuh tanggal 30 November 2019 lalu memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan kondisi lalu lintas yang relatif lancar. Dari lokasi parkiran mobil di seputaran Pasar Cibodas, sambil pemanasan kami berjalan santai menuju ke Pintu Gerbang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Letak pintu masuk Taman Nasional tersebut ada di sebelah kanan gerbang masuk Taman Cibodas. Setelah sampai di depan gerbang masuk Taman Cibodas, kami berbelok ke kanan dan mengikuti jalan sampai di depan pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Ada tulisan besar di dinding sebagai penunjuknya.

Pintu Masuk Taman Nasional

Loading...

Keterangan Foto: Pintu Gerbang Masuk Taman Nasional Gunung Gede- Pangrango pintu Cibodas. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Tidak jauh dari pintu masuk setelah menaiki beberapa anak tangga, kami akan menemui rumah tempat loket penjualan tiket dan pengurusan administrasi pendakian bagi yang akan mendaki hingga puncak gunung dan bermalam di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Karena hanya akan menuju Air Terjun Cibeureum, maka kami hanya membeli tiket untuk tujuan tersebut dan tidak ada persyaratan khusus seperti halnya bila ingin melakukan pendakian hingga puncak Gunung Gede atau Pangrango. Untuk tiket menuju Air Terjun Cibeureum harganya Rp18.500 per orang. 

Dari tempat pembelian tiket, kita akan mulai berjalan memasuki jalur pendakian Gunung Gede Pangrango. Mengikuti jalan yang tidak begitu lebar dan terbuat dari susunan batu-batu alam dengan elevasi yang semakin lama semakin menanjak dan cukup membuat napas memburu bagi yang tidak terbiasa dengan berolah raga. Namun setelah terbiasa, medan yang ditapaki tidaklah terlalu sulit. Vegetasi khas hutan hujan tropis dengan pohon-pohon tinggi dan agak rapat terlihat di sepanjang jalur jalan ini. Menurut sejumlah sumber, Kawasan hutan di Gunung Gede-Pangrango merupakan salah satu kekayaan hutan hujan tropis yang dimiliki oleh Indonesia. 

Vegetasi Hutan Hujan tropis

Keterangan Foto: Vegetasi rapat  khas hutan hujan tropis dengan pohon-pohonnya yang tinggi sehingga memberikan kesejukan meskipun matahari telah bersinar. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Aroma tanah dan batu basah yang sepertinya baru terkena hujan pada malam sebelumnya seperti menjadi penanda dimulainya peralihan musim dari musim kemarau ke musim penghujan. Ketika berjalan-jalan di area ini jangan lupa melengkapi diri dengan jas hujan karena curah hujan mulai meningkat di awal musim penghujan. Selain itu bawalah snack dan minuman dalam jumlah yang cukup demi nyamannya perjalanan. Selalu ingat untuk tidak membuang sampah secara sembarangan.

Kira-kira setelah berjalan santai selama 45 menit, kami sampai di spot yang dikenal dengan nama Telaga Biru, sebuah telaga yang berwarna hijau kebiru-biruan dan bisa menjadi spot yang menarik untuk berfoto. Kami beristirahat sejenak untuk merasakan kesejukan di tempat ini sambil mendengarkan suara gemericik air yang mengalir, kicauan burung, dan suara binatang hutan lainnya. Bagi para penggemar flora, di tempat ini juga hidup berbagai jenis tumbuhan.

Telaga Biru

Keterangan foto: Lokasi Telaga Biru di jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango dengan kekayaan Flora dan Faunanya . Sumber gambar: Dok. Pribadi

Selain sebagai tempat wisata alam, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango juga berfungsi sebagai tempat konservasi alam dengan segala keanekaragaman flora dan faunanya. Di jalur pendakiannya, kami banyak menemui tempat di mana air mengalir dari beberapa sumber. Diketahui bahwa kawasan ini juga memiliki mata air dengan debit cukup besar yang berperan penting sebagai sumber air bersih bagi Kota Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta, dan sekitarnya.

Air dari mata air

Keterangan foto: Di Sepanjang jalur pendakian kita banyak menemui tempat di mana air mengalir karena kawasan Gunung Gede memiliki mata air dengan debit yang cukup besar . Sumber gambar: Dok. Pribadi

Ditemani udara sejuk dan segar pagi hari, kira-kira setengah jam setelah melanjutkan perjalanan dari Telaga Biru, kami mencapai jalan dalam bentuk sebuah jembatan yang didirikan di atas rawa-rawa. Tempat ini bernama Rawa Gayonggong yang menjadi salah satu spot favorit para pendaki untuk berfoto karena keindahan panoramanya. Mata pun disegarkan oleh pemandangan alam yang hijau di tempat ini.

Rawa Gayonggong

Keterangan foto: Rawa Gayonggong, menurut informasi pada waktu-waktu tertentu tempat ini menjadi salah satu tempat perlintasan satu-satunya spesies kucing besar Tanah Jawa yang masih tersisa: Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Sumber gambar: Dok. Pribadi

Menurut informasi, pada waktu-waktu tertentu Rawa Gayonggong merupakan tempat perlintasan dan daerah jelajah salah satu hewan eksotik tanah Jawa yang sudah mulai langka, yaitu Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Macan Tutul Jawa menjadi satu-satunya spesies kucing besar Tanah Jawa yang tersisa setelah Harimau loreng Jawa (Panthera tigris sondaica)  dinyatakan punah oleh otoritas yang berwenang lebih dari 20 tahun lalu. Ini karena tidak terdapat bukti otentik perjumpaan dengan manusia dalam bukti foto maupun rekaman kamera trap sampai saat ini. Namun hingga saat ini masih ada laporan dari masyarakat pemanen hasil hutan di Pulau Jawa yang mengaku masih bertemu dengan satwa legendaris tersebut meskipun belum bisa diverifikasi secara valid apakah yang dilihat Harimau loreng atau Macan Tutul.

Kira-kira 15 menit perjalanan dari Rawa Gayonggong, kami sampai di Pos Panyangcangan. Jika lurus akan terus masuk ke jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango, tetapi karena tujuan hanya sampai air terjun Cibeureum maka kami berbelok ke kanan keluar dari jalur pendakian menuju jalan menurun ke lokasi Air Terjun Cibeureum berada. Dari kejauhan sayup-sayup sudah terdengar gemuruh suara air terjun. Dari Pos Panyangcangan jarak ke air terjun sudah tidak jauh lagi, hanya sekitar 0.3 km. Dari pintu masuk Cibodas hingga air terjun total waktu tempuh sekitar 1 jam 45 menit sudah termasuk istirahat dan berfoto.

Foto bersama di depan air terjun

Keterangan foto: Berfoto bersama sahabat di tengah kesejukan air terjun. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Perasaan penat  langsung hilang melihat kemegahan dan kesejukan kawasan di sekitar air terjun. Terlihat ada dua air terjun di kawasan tersebut. Lokasinya sejuk dan bagus untuk berfoto bersama. Selain itu, lokasinya juga cocok untuk sejenak menghabiskan waktu bersama para sahabat atau keluarga tercinta. Bagi yang ingin bermain air di pinggirannya bisa merasakan segarnya air pegunungan namun tetap memperhatikan faktor keselamatan.

Menapaki kesejukan dan pesona alam Gunung Gede di awal musim penghujan

Keterangan foto: Air terjun kedua yang tampak lebih tinggi dari air terjun di sebelah kirinya . Sumber gambar: Dok. Pribadi

Dari sisi filosofis, salah satu manfaat berwisata di alam akan membuat kami menyadari bahwa kekuatan kita tidak ada artinya di tengah kekuatan alam ciptaan-Nya. Dari situ kami belajar untuk menghindari kesombongan. Selain itu, berada di tengah keindahan alam ciptaan-Nya membuat kami mensyukuri segala anugerah-Nya. Seorang sahabat juga pernah berkata keindahan alam adalah salah satu penyembuh luka hati terbaik. Rasakanlah dinginnya embun pagi, tataplah fajar yang menyingsing, dengarlah kicauan merdu burung dan desiran angin yang seolah berbisik semua akan baik-baik saja.

Total waktu perjalanan pulang pergi ke air terjun Cibeureum sekitar 5 jam. Jam 08.00 pagi masuk pintu Taman Nasional dan jam 13.00 kami semua sudah siap di parkiran untuk melanjutkan perjalanan. Liburan yang cukup singkat namun cukup menyegarkan dan bisa me-refresh pikiran sehingga siap kembali untuk melanjutkan rutinitas pekerjaan dengan semangat baru.






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red