×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Kearifan lokal bagi edukasi kesetaraan gender dalam rumah tangga

0

Ilmiah

Kearifan lokal bagi edukasi kesetaraan gender dalam rumah tangga

Nenek moyang kita memang sudah paham tentang rumus rumah tangga yang aman dan tenteram, salah satunya dalam wujud sibaliparri.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Muhammad Rizky

27 / 05 / 2021 13:37

Nenek moyang bangsa Indonesia memiliki banyak budaya dan kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur. Budaya serta kearifan lokal ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kehidupan berumah-tangga, bertetangga, adat-istiadat, kesenian hingga spiritualitas. Namun dengan masuknya berbagai kebudayaan baru dengan nilai-nilainya tersendiri, budaya dan kearifan lokal asli Indonesia semakin dilupakan. Hal ini sangat disayangkan, karena terdapat banyak budaya dan kearifan lokal yang dapat menjadi solusi bagi kehidupan saat ini, khususnya perspektif peran gender dalam kehidupan berumah tangga. Salah satu contoh adalah budaya Sibalipari dari Suku Mandar, Sulawesi Barat (Syasmitha, 2019).

Peran gender merupakan tingkah laku kompleks dari suatu gender yang diharapkan oleh lingkungan sosial (Barbara sebagaimana dikutip dalam Syasmitha, 2019). Karena peran gender dipengaruhi oleh lingkungan sosial, maka sangat memungkinkan terdapat perbedaan peran gender di masing-masing daerah. Pada umumnya, peran gender yang ada di masyarakat Indonesia adalah gender maskulin (laki-laki) memiliki sifat yang tegas, rasional dan dapat jadi pemimpin sehingga gender ini memiliki peran sebagai kepala rumah tangga, pengambil keputusan dan pencari nafkah utama. Berbeda dengan gender feminin yang diasosiasikan dengan perempuan dengan memiliki sifat yang lemah-lembut dan mengayomi, sehingga memiliki peran sebagai ibu rumah tangga (Sumiyati, 2012).

Namun, peran gender dalam masyarakat Mandar memiliki perbedaan dari peran gender pada umumnya. Syasmitha (2019) menjelaskan bahwa masyarakat Mandar menganggap bahwa peran gender antara laki-laki dan perempuan dalam membangun rumah tangga bersifat setara. Peran-peran maskulin dan feminin yang ada pada peran gender umum, tidak terlalu tampak terlihat dalam kehidupan masyarakat Mandar. Terbentuknya peran gender yang setara di Suku Mandar ini merupakan hasil pedoman budaya yang dianut, yaitu Sibaliparri.

Sibaliparri terdiri dari dua suku kata, yaitu "sibali" yang berarti menghadapi dan "parri" yang berarti kesusahan atau masalah. Dengan kata lain, sibaliparri dapat diartikan sebagai "saling membantu dan menguatkan dalam membangun rumah tangga" (Syasmitha, 2019). Sibaliparri terlahir dari konsep yang dipegang oleh Suku Mandar, yaitu Sipamandar yang berarti saling kuat-menguatkan (Syasmitha, 2019).

Budaya Sibaliparri ini telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Suku Mandar. Sibaliparri membuat perempuan dan laki-laki saling membantu dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hal tersebut membuat masyarakat Mandar tidak terlalu memusingkan siapa yang harus mencari nafkah dan siapa yang harus melakukan tugas-tugas domestik seperti mengurus rumah dan mengurus anak. Mereka fokus pada bagaimana mereka saling berkontribusi dalam memenuhi dan melakukan hal-hal yang harus dilakukan. Hal tersebut membuat peran perempuan Mandar dipandang sebagai sosok yang setia dan tahu bagaimana menempatkan diri dalam berbagai situasi dan peran laki-laki Mandar yaitu sebagai pemimpin dalam rumah tangga, namun bersikap “flexible” dalam melakukan pekerjaan domestik atau mencari nafkah (Syasmitha, 2019).

Loading...

Bentuk langsung dari budaya Sibaliparri pada Suku Mandar dapat dilihat langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk-bentuk ini seperti seorang istri yang juga ikut bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, seorang suami yang mau mengurus anak dan melakukan pekerjaan rumah saat sedang tidak pergi melaut, hingga proses pengambilan keputusan yang selalu dilakukan secara bersama-sama sehingga menimbulkan kondisi rumah-tangga yang positif tanpa adanya konflik berkepanjangan (Syasmitha, 2019).

Sibaliparri juga menciptakan budaya baru di kehidupan Suku Mandar. Budaya ini adalah Panette atau budaya menenun yang dilakukan para perempuan Suku Mandar. Walau dilakukan oleh mayoritas perempuan, namun budaya ini sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Sibaliparri. Nilai dari Sibaliparri yang digunakan adalah kerja sama satu keluarga dalam membentuk sebuah kain tenun (Sahabuddin, 2013).

Para suami Suku Mandar jika tidak sedang pergi melaut akan membantu istrinya dalam membuat seperangkat alat tenun. Setelah alat tenun selesai, istri-istri Suku Mandar akan mulai menenun kain. Motif kain tenun dari Suku Mandar memiliki filosofinya tersendiri yang mengandung pelajaran akan hidup. Salah satu motif kain tenun Mandar yang umum digunakan adalah motif kotak-kotak. Motif ini terdiri dari gari lurus dan garis melinting. Kedua garis ini mengajarkan bahwa manusia terikat pada dua hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Saat menjadi kotak, motif tersebut akan melambangkan kekuatan dan kesejahteraan (Sahabuddin, 2013).

Para anak-anak Suku Mandar biasanya akan duduk memperhatikan ibu mereka menenun. Sambill menenun, ibu mereka menceritakan filosofi dari kain yang ditenun dan anak-anaknya akan mengamati filosofi dan cara membuat kain tenun tersebut. Saat semua unsur terpenuhi, maka tercipta kain tenun Suku Mandar yang cantik dan indah serta memastikan bahwa akan selalu ada penerus dari proses pembuatan kain tenun Mandar. Kain tenun yang telah selesai akan dijual demi memenuhi kebutuhan rumah atau diberikan pada suami mereka yang pulang dari melaut (Sahabuddin, 2013).

Saat ini, masih banyak ketimpangan peran yang terjadi dalam rumah tangga. Konstruksi gender tradisional membuat laki-laki harus fokus pada mencari nafkah dan perempuan harus fokus pada pekerjaan domestik (Putri, 2021). Hal ini terkadang menimbulkan permasalahan yang merugikan masing-masing gender. Apalagi di saat pandemi, banyak laki-laki yang terkena dampak seperti PHK dan lain-lain sehingga laki-laki merasa tidak berharga karena tidak dapat mencari nafkah. Perempuan juga merasa tidak dapat berbuat apa-apa karena perannya yang fokus pada pekerjaan domestik. Hal tersebut dapat menimbulkan konflik-konflik lainnya.

Mengedukasi diri dengan kearifan lokal seperti Sibaliparri dapat menjadi salah satu cara untuk menjawab permasalahan rumah tangga yang dihadapi. “Flexible” dalam mengurus dan memenuhi kebutuhan rumah, serta saling menguatkan satu sama lain dapat membuat keutuhan rumah tangga terjaga dan terhindar dari konflik yang ada. 

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red