×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Jenius Co. Creation Week 2019: Antara pengguna, UI/UX & cara bersosmed

0

Komunitas

Jenius Co. Creation Week 2019: Antara pengguna, UI/UX & cara bersosmed

Selain 10 seminar dengan narasumber ahli, ada 6 lokakarya dalam acara bertemakan "Berbagi Inspirasi dengan Berkokreasi" ini.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Hafizh Alfarisi

25 / 02 / 2019 16:45

Bos-bos kami, kurang lebih lima sampai enam tahun yang lalu, melihat adanya technology disruption. Kami industri perbankan harus bagaimana nih?

Itulah sepenggal kalimat yang diutarakan Richard Durant, Head of Talent Acquisiton BTPN dalam selingan penutup lokakarya “Social Media Content Workshop” di Menara BTPN, Kuningan, pada Minggu (24/2) kemarin.

dokumentasi pribadi

Bagi perusahaan sebesar dan selama BTPN, perkembangan teknologi yang pesat mengharuskan mereka melakukan perombakan signifikan dalam sistem pelayanannya. Soal keuangan di era modern ini, orang-orang mulai menjadikan gawai mereka sebagai moda transaksi sehari-hari tanpa harus repot lagi pergi ke bank dan mengantre di barisan yang panjang.

Hal ini jugalah yang mendorong lahirnya Jenius sebagai segmen usaha BTPN. Aplikasi pengatur keuangan ini pun tidak begitu saja langsung dilirik banyak orang. Ada peran krusial antara UI/UX, Sosial Media, dan pengguna yang memutari tren aplikasi tersebut.

Loading...

 

UI/UX, wajah di balik pasar digital.

Sesuai namanya, UI (User Interface) dan UX (User Experience) sangat berkaitan dengan pengguna suatu aplikasi maupun produk. Kedua hal ini pula yang menjadi esensi dari terciptanya suatu aplikasi digital. Bagi Cipta Pratama, selaku mantan UI/UX Digital Banking Lead di Jenius, bagusnya suatu aplikasi diukur dari intuitivitas orang awam dalam menggunakannya.

Cipta Pratama /dokumentasi pribadi

Gamblangnya, seseorang akan langsung terpikat dengan sebuah aplikasi yang mudah digunakan tanpa perlu bantuan orang lain ataupun buku manual. Keterpikatan itu tentu juga tak bisa lepas dari fitur yang ditawarkan di dalamnya.

Lalu bagaimana cara menciptakan aplikasi yang semenarik itu? Dalam seminar bertajuk “Fundamental of UX: Building Blocks of Design Process” pada Sabtu (23/2) lalu, Cipta menekankan konsep “metal model”. Istilah ini merujuk pada pemahaman yang dibuat dari pengalaman seseorang menggunakan sebuah aplikasi maupun barang di masa lalu, seperti sistem operasi Windows, Android, ataupun Mac.

Cara orang itu berinteraksi dengan model yang sudah ada mendukung bagaimana ia memahami model aplikasi yang muncul setelahnya.

Selain itu, Co-Founder UXiD itu juga menyatakan pentingnya riset sebelum tahap pembuatan dan peluncuran aplikasi, terlebih dengan melakukan wawancara hingga tahap akhir di mana calon pengguna mengetes seberapa layaknya aplikasi yang ditawarkan kepadanya.

Di dalam seminar ini pula, Cipta mengajak para pesertanya memahami dan menciptakan prototipe aplikasi sendiri. Kegiatan ini dimulai dari riset yang dikumpulkan dari wawancara antar kelompok. Hasil jawaban responden kemudian diolah dan masing-masing dikelompokkan ke dalam kategori “latar belakang”, “kebutuhan”, “motivasi”, “kompetitor”, dan “pain points”.

dokumentasi pribadi

Selanjutnya para peserta berdiskusi sambil membuat tampilan aplikasi, dari menu utama sampai fitur tambahan, dan mengaplikasikannya ke dalam Marvel App. Tak sampai di situ, aplikasi buatan mereka juga dipresentasikan di depan untuk kemudian diuji serta diberikan saran.

dokumentasi pribadi

Dari proses-proses tersebut, peran responden cukuplah berpengaruh. Sebab, yang dicari tidak hanya terpatok pada seberapa baik dan luwesnya mereka menggunakan suatu aplikasi di percobaan pertama dan kedua, namun juga pentingnya suatu aplikasi maupun produk dalam memenuhi dan menjadi solusi dari kebutuhan sosial.

 

Sosial media juga butuh strategi lho!

Aplikasi atau produk sudah dibuat. Lalu, bagaimana menggaet banyak orang untuk menggunakannya?

Nah, di zaman modern inilah peran pemasaran digital sangat penting. Sosial media (sosmed) pun menjadi medium paling praktis untuk memasarkan sekaligus menjual produk. Sosmed bahkan terbilang efisien ketimbang cara konvensional karena segi penyebarannya amat cepat dan minim biaya.

Bagi seseorang yang bekerja di digital marketing, platform seperti Instagram, Facebook, Twitter, hingga Youtube memiliki keunikan tersendiri. Hal ini pula yang diamini tiga narasumber lokakarya “Social Media Content Workshop”.

Dimas Novriandi sebagai Digital Banking Public Relations, Social, and Content Lead Jenius memanfaatkan tiap sosmed dengan penyampaian yang berbeda. Facebook dipakainya untuk mengedukasi pengguna tentang produk; Instagram untuk promosi dan menarik peminat; Twitter untuk berdiskusi langsung dengan pengguna dan menjawab pertanyaan mereka; serta Youtube untuk memvisualisasikan produk dan mendapat tanggapan jujur.

Dimas Novriandi /dokumentasi pribadi

Penggunaan beragam sosmed ini pun ada strateginya. Seperti halnya pada optimalisasi Youtube sebagai platform yang paling sering diakses. Enrico Jonathan, Creative Leads Kokbisa.co.id, menjabarkan pentingnya menyampaikan konten dari relevansinya dengan permasalah yang sedang ramai diperbincangkan.

Enrico Jonathan /dokumentasi pribadi

Bahkan, konten Youtube (dan sosmed lainnya) yang bagus harus dapat menimbulkan respons positif hingga membuat penasaran penontonnya. Hal ini bisa dipicu dengan deskripsi serta thumbnail yang atraktif.

Story atau cerita yang unik juga menjadi inti dari konten suatu sosmed. Seperti yang diungkapkan Alexander Thian. Sebagai seorang Content Creator dan penulis, baginya isi cerita yang bagus harus punya konsistensi, orisinalitas, bersifat magnetis, dan punya integritas.

Alexander Thian /dokumentasi pribadi

Hal menarik lainnya dari sesi ini adalah bagaimana para narasumber menjelaskan pentingnya komunikasi dua arah antara penikmat maupun penyedia konten sosmed. Follower hingga orang-orang yang menekan tombol like harus diperlakukan dengan baik dan setara karena dari merekalah suatu produk dan jasa dapat berkembang.

Kehadiran brand advocator juga menjadi penggerak utama dari promosi produk. Tak hanya berasal dari mereka yang sudah punya nama, pengguna sosmed dengan follower tak terlalu banyak pun punya kapabilitas untuk menaikkan nilai produk.

Di Jenius sendiri, tanggapan, saran, serta kritik pengguna sosmed merupakan hal yang tak boleh diabaikan. Dengan menjawab langsung respons tersebut, mereka secara perlahan menggaet orang-orang baru yang tertarik dengan produk mereka. Bahkan karyawan mereka diajak pula menjadi bagian dari brand advocator.

Cara ini juga tidak terbatas pada menanggapi berbagai komentar sosmed. Mereka juga seringkali mengadakan promo, kuis, serta polling atau pertanyaan trivial, baik itu di website atau melalui brand advocator.

https://pbs.twimg.com/media/C_32aasUIAAGFu6.jpg:large

Melihat terperincinya sistem aplikasi hingga pemasaran berbasis digital tersebut, tak heran bila Jenius sudah memperoleh jutaan pengguna di usianya yang baru dua tahun ini.

 







Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red