×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Grieving: Apakah sulit untuk melalui kedukaan?

0

Kesehatan

Grieving: Apakah sulit untuk melalui kedukaan?

"Grieving doesnt make you imperfect. It makes you human." - Sarah Dessen

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Ellyana Dwi Farisandy, M.Psi., Psikolog

06 / 01 / 2022 13:58

Tidak ada satu pun orang yang siap dengan kehilangan. Sesempurna apa pun kita mencegah dan mempersiapkannya dengan matang, ketika kehilangan itu terjadi, kita tetap akan merasa hancur dan terluka. Secara harfiah, grieving atau kedukaan adalah perasaan, pikiran, dan perilaku yang muncul ketika seseorang dihadapkan pada kehilangan. Kehilangan bisa memiliki banyak bentuk—seseorang yang kita kasihi meninggal, seseorang memutuskan untuk pergi meninggalkan kita karena suatu alasan, pun juga bisa berbentuk kehilangan pekerjaan, uang, dan sebagainya.

Dalam merespons kehilangan, individu perlu melalui tahapan kedukaan. Kubler Ross menjelaskan mengenai lima tahap kehilangan sebagai hasil dari pekerjaannya dengan melakukan penelitian terhadap lebih dari 200 pasien kanker dan keluarga pasien tersebut. Perlu dipahami bahwa tahapan setiap orang dalam memproses rasa dukanya tidak selalu sama dan linier seperti tahapan yang dijelaskan setelah ini—because we are human and we are unique as it is.

1. Denial.

Denial adalah ketidakmampuan individu untuk mengakui bahwa seseorang yang sangat kita kasihi meninggalkan kita. Rasanya, terlalu menyakitkan untuk diterima. Denial memungkinkan kita untuk menerima kenyataan dalam dosis kecil, pun mendorongnya menjauh—setidaknya untuk sementara waktu. Hal ini memberikan kita kebebasan untuk tidak langsung menghadapi reaksi kesedihan sehingga kita bisa mengurus kebutuhan yang "lebih penting" pada saat itu. Perlu diketahui bahwa denial adalah tahapan yang normal terjadi sebagai bentuk pertahanan diri kita agar kita tidak benar-benar hancur. Beberapa contoh kalimat ketika seseorang mengalami denial, yakni:

“Ini nggak benar-benar terjadi.”

Loading...

“Kayaknya dia nggak mau putus, kok. Cuma mau break aja.”

“Dia cuma pingsan, kan. Nggak mungkin meninggal.”

“Ini semua bohong.”

2. Anger.

Anger adalah multifaceted emotion atau emosi yang cukup beragam—dimulai dari kesal, jengkel, frustasi, atau bahkan kemarahan yang meluap-luap. Kemarahan yang kita rasakan bisa ditujukan kepada siapa pun, mulai dari diri sendiri, orang yang meninggalkan kita, orang lain, dokter, media sosial, pun Tuhan. Rasanya, harus ada seseorang atau sesuatu yang bertanggung jawab atas kehilangan yang kita rasakan.

Ketika kita marah kepada diri sendiri, biasanya hal itu dikarenakan penyesalan dan rasa bersalah yang kita miliki. Rasa bersalah itu timbul dari sesuatu yang tidak kita lakukan di mana seharusnya kita lakukan dan bisa mencegah terjadinya kehilangan. Kita semua tahu bahwa sekuat apa pun kita mencoba untuk mencegahnya, saat itu, kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Beberapa contoh kalimat seseorang berada di tahap anger adalah sebagai berikut.

“Tuhan jahat. Kenapa sih Tuhan kasih aku masalah yang nggak selesai-selesai?”

“Seharusnya aku tepatin janji saat itu dan ini semua nggak akan terjadi.”

“Kenapa sih kamu pergi ninggalin aku? Kamu jahat!”

3. Bargaining.

Tawar menawar merupakan tahapan yang umum dalam menghadapi kedukaan. Tawar menawar bisa dilakukan kepada orang yang meninggalkan kita maupun kepada Tuhan. Banyak sekali pertanyaan “what if” dalam tahap ini. Beberapa contoh kalimat seseorang berada di tahap bargaining adalah sebagai berikut.

“Kalau aja aku shalatnya lebih rajin, Tuhan mau nggak ya angkat kanker ini dari tubuh aku?”

“Kalau aja aku lebih sayang sama dia, mungkin nggak ya dia nggak ninggalin aku sendirian?” 

4. Depression.

Depression dalam tahap keberdukaan berbeda dengan Major Depressive Disorder (MDD) sebagai diagnosis klinis. Mengapa? Karena dalam tahap berduka, wajar jika seseorang mengalami perubahan pola tidur dan makan, minat dan energi yang berkurang, kesedihan yang mendalam, pun sulit untuk menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Rasanya, tidak ada yang bisa diharapkan dari masa depan—semua menjadi blurry. Dunia tidak akan sama lagi dan kita jadi tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup setelah kehilangan itu terjadi. 

5. Acceptance.

Dalam mencapai tahap ini, kita tidak harus 100% baik-baik saja dengan kehilangan yang telah kita alami. Faktanya, kita tidak akan pernah merasa baik-baik saja setelah melalui hal itu. Acceptance berarti kita telah belajar untuk hidup dengan kenyataan baru yang telah dipaksakan oleh kehidupan kepada kita. Kita mulai menerima kenyataan se-apa adanya, bertumbuh, pun mampu memberikan makna dari kehilangan yang terjadi. 

Kehilangan memang sangat dekat dengan kehidupan kita. Dan ketika kehilangan itu terjadi, dunia kita tidak sama lagi. But it’s okay too because not all wound are meant to heal. Elisabeth Kubler Ross dan David Kessler mengatakan hal ini: “The reality is that you will grieve forever. You will not ‘get over’ the loss of a loved one; you’ll learn to live with it. You will heal and you will rebuild yourself around the loss you have suffered. You will be whole again but you will never be the same. Nor should you be the same nor would you want to."

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red