×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Atasi sampah plastik, ini inovasi dari 3 orang 'Pahlawan Lingkungan'

0

Sosok

Atasi sampah plastik, ini inovasi dari 3 orang 'Pahlawan Lingkungan'

Mereka mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Nana

28 / 09 / 2018 15:25

Plastik merupakan komponen yang sulit terurai oleh tanah. Sebuah kantong plastik saja membutuhkan waktu 10 sampai 12 tahun untuk terurai. Bayangkan, dengan banyaknya sampah plastik yang ada di Bumi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menguraikannya?

Sampah plastik memang menjadi masalah yang sangat pelik bagi kita. Namun berkat kepedulian dari para pahlawan lingkungan ini, lahirlah inovasi yang membantu kita mengatasi masalah tersebut. Berkat ketekunannya, mereka berhasil menemukan cara untuk mengubah sampah plastik menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan juga sangat kita butuhkan, yaitu bahan bakar minyak.

Datang dari berbagai latar belakang, siapa saja mereka?

1. Dimas Bagus Wijanarko.

Dimas Bagus Wijanarko

Loading...

Pria 42 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang sablon di Jakarta ini merupakan penggagas komunitas Gerakan Tarik Plastik (Get Plastik). Dimas mengatakan bahwa ia hanya menggunakan alat sederhana yang ia rakit sendiri, dengan berbekal ilmu yang ia dapat dari berbagai artikel. Ia memulai riset sejak 2014 silam, dan akhirnya berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar melalui proses distilasi yang menghasilkan minyak berupa solar, premium, dan minyak tanah. Meskipun minyak yang dihasilkan belum sama dengan standar yang diberlakukan oleh Pertamina, namun menurutnya untuk mesin 2 tak aman digunakan dan tidak akan terpengaruh kinerjanya. Sedangkan untuk minyak tanah, sangat aman digunakan untuk memasak.

Ia mengatakan, ada banyak cara untuk mengolah sampah plastik. Namun menurutnya, metode ini cukup efektif untuk menghilangkan sampah yang paling sulit terurai itu. Dengan mengubahnya menjadi bahan bakar, ia beranggapan bahwa sampah ini akan bernilai ekonomi jika dilakukan penelitian lebih serius. Namun bagi Dimas, yang terpenting saat ini adalah mengurangi sampah itu agar tidak terus menumpuk.

2. Pandji Prawisudha.

Pandji Prawisudha

Pandji Prawisudha merupakan seorang pakar konversi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia membuat sebuah reaktor pirolisis yang mampu 'menyulap' 200 gram bungkus mi instan menjadi 120 mililiter minyak. Minyak itu dihasilkan dalam proses pemanasan selama dua jam.

Pandji mengawali proyek penelitiannya ini dengan maksud mengurangi sampah plastik, mengingat Indonesia menyandang predikat sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia setelah Cina. Targetnya adalah untuk mengubah sampah plastik rumah tangga, seperti bungkus mi instan, bungkus kopi, dan kemasan plastik berjenis polypropylene (PP) lainnya, menjadi minyak tanah. Menurutnya, minyak dari sampah plastik lebih cocok untuk dipakai sebagai pengganti kerosin atau minyak tanah dibanding bensin. Sebab, minyak yang dihasilkan dari sampah plastik sudah tercampur dengan zat lain, sehingga berisiko bila digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Ke depan, dia berharap bisa merancang reaktornya dengan konsep yang portabel dan komunal agar bisa digunakan masyarakat di daerah yang tidak memiliki akses terhadap bahan bakar cair. Minyak tersebut dapat menggantikan elpiji ataupun minyak tanah yang harganya lebih mahal dengan harga yang jauh lebih ekonomis.

3. Muryani.

Muryani

Muryani merupakan kakek berusia 59 tahun yang hanya lulusan SD. Namun ia mampu membuat alat destilator yang ia beri nama BBM Plast. Setelah melakukan eksperimen berulang kali, akhirnya ia bisa mengubah sampah plastik menjadi 3 jenis bahan bakar, yaitu solar, premium dan minyak tanah. Ia menggunakan sampah plastik yang ia dapat dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan untuk bahan percobaan.

Dengan kapasitas destilator 10 kg plastik, 60% disuling menjadi solar, 25% menjadi premium dan 15% disuling menjadi minyak tanah. Muryani menjelaskan setiap kali proses penyulingan, alat destilator bisa menghasilkan 6 liter solar, 2,5 liter premium dan 1,5 liter minyak tanah.

BBM Plast karya Muryani ini sangat diminati oleh warga sekitar sebagai bahan bakar memasak maupun untuk kendaraan bermotor, karena harga yang lebih murah dari harga BBM di pasaran. Saat ini Muryani mengaku sedang mengurus hak paten untuk destilator buatannya. Selain menambah nilai ekonomis sampah plastik, mesin suling Muryani juga menjadi satu solusi mengatasi pencemaran lingkungan akibat limbah plastik.

Intinya, siapapun kita, jika kita peduli pada isu lingkungan sekitar kita, bumi kita akan menjadi tempat yang  lebih baik. Mereka adalah contoh dari orang-orang yang peduli lingkungan dan juga sesamanya. Kita juga bisa memulai dengan cara-cara yang sederhana tapi berdampak sangat besar di masa depan, seperti mengurangi penggunaan plastik.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red