×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Anakmu tidak suka matematika? Bisa jadi ini penyebabnya

0

Orangtua

Anakmu tidak suka matematika? Bisa jadi ini penyebabnya

Mengapa anak-anak kebanyakan tidak menyukai matematika? Apakah karena materi atau gurunya?

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Nanda Novira

23 / 09 / 2019 13:33

Masa kanak-kanak sangat erat sekali kaitannya dengan perkembangan kognitif. Perkembangan bukan suatu bawaan melainkan suatu yang berkembang secara bertahap sesuai dengan bertambahnya usia seseorang. Kecerdasan sebagai  suatu  kemampuan  yang  dimiliki  individu  yang  dapat berkembang secara alami dan dapat pula dikembangkan melalui pembelajaran dan pengalaman.  Dengan demikian lingkungan  dapat  berperan  dalam  membantu  individu untuk mengembangkan kemampuannya (Gardner dalam Widyastuti, 2018).

Kecerdasan  logika  matematika  ini  ditandai  dengan  kemampuan seorang berinteraksi dengan  angka-angka dan bilangan, berpikir logis dan ilmiah, adanya  konsistensi  dalam  pemikiran. Seseorang  yang  cerdas  secara  logika matematika  sering  kali  tertarik  dengan  pola  dan  bilangan  / angka-angka. Kecerdasan ini amat penting karena akan membantu mengembangkan ketrampilan berpikir dan logika seseorang (Widyastuti, 2018).

“Aku gak suka matematika”

“Matematika itu sulit”

Mengapa banyak anak yang menganggap matematika itu sulit?

Loading...

Prof. Dr. rer. nat. Widodo, MS, Profesor Matematika dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa ada tiga penyebab mengapa fenomena tersebut bisa terjadi. "Berdasarkan survei dari Indonesia Mathematics Society tahun 2010, ada tiga penyebab yaitu buku, guru, dan siswa itu sendiri," tukasnya dalam Talk Show 21st Century Math Skills: Change The Focus From Calculation to Exploration, Selasa (4/10/2016).

Survei tersebut juga menyebutkan bahwa hanya 11,35 persen guru yang memiliki kompetensi dan ketrampilan yang mumpuni dalam bidang matematika. Sementara itu, dari sisi siswa, adanya tanggapan turun temurun dari orang tua yang mengatakan bahwa pelajaran matematika sulit membuat pola pikir ini menjadi melekat di pikiran (Nainggolan, 2016).

Tidak jarang kita mendengar kalimat keluhan seperti itu, terutama di lingkungan para siswa. Pelajaran matematika dari dulu hingga saat ini nampaknya masih menjadi momok yang sangat mengerikan bagi pelajar di Indonesia. Tak sedikit anak yang tidak suka dengan matematika dengan berbagai alasan, salah satunya adalah susah. Namun tidak sedikit juga anak yang mempunyai prestasi di bidang tersebut, mereka adalah anak-anak yang menggemari matematika. Mengapa hal ini memiliki dua respon yang berbeda?

Respon manusia terhadap sesuatu memang dapat berbeda, tergantung bagaimana proses belajar dan stimulus yang diberikan kepada mereka. Suatu stimulus dapat dikondisikan, namun ada juga yang alami (unconditioned stimulus). Unconditioned stimulus merupakan salah satu teori yang dikemukakan oleh Pavlov dalam Classical Conditioning. Pengondisian klasik merupakan perubahan perilaku yang diharapkan adalah adanya stimulus langsung. Terjadinya perilaku tertentu disebabkan oleh stimulus tertentu yang secara langsung terkait (Sanyata, 2012).

Prinsip-prinsip Classical Conditioning dalam pembelajaran menurut Pavlov (Nur, 2010) sebagai berikut:

1. Belajar adalah pembentukan kebiasaan dengan cara menghubungkan antar stimulus

2. Proses belajar terjadi apabila ada interaksi antara organisme / makhluk hidup dengan lingkungan.

3. Belajar adalah membuat perubahan-perubahan pada individu

4. Setiap stimulus akan menimbulkan aktivitas otak

5. Semua aktivitas susunan saraf pusat diatur oleh eksitasi dan inhibitasi.

Kelebihan dan kelemahan teori Classical Conditioning menurut Nur (2010) yaitu:

a. Kelebihan.

Di saat individu tidak  menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya , akan memudahkan pendidik dalam melakukan pembelajaran terhadap anak didik tersebut.

b. Kelemahan.

Jika ini dilakukan secara terus-menerus maka ditakutkan murid akan memiliki rasa ketergantungan atas stimulus yang berasal dari luar dirinya. Padahal seharusnya anak didik harus memiliki stimulus dari dirinya sendiri dalam melakukan kegiatan belajar dan kegiatan pemahaman.

Menurutnya belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dengan respon. Hal ini berdasarkan hasil eksperimennya, apabila stimulus yang netral (NS) selalu disertai dengan stimulus alami (US) cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respon terkondisi (CR) secara konstan (Sutrisno, 2018).

Secara garis besar hukum-hukum belajar menurut Ivan Pavlov (Syahruni, 2018) meliputi :

a. Law of Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut.

Jika dua macam stimulus dihadirkan secara stimulan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforce), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat).

b. Law of Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang dituntut.

Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcement, maka kekuatan akan menurun Pavlov menemukan bahwa respons yang menjadi terkondisikan pada stimulus yang sebelumnya netral juga menjadi terasosiasikan dengan stimuli yang mirip, sebuah proses yang disebut generalisasi.

Apabila kita terapkan pembelajaran Pavlov, matematika sebagai Netral Stimulus (NS) dan penampilan guru matematika yang terlihat menyeramkan atau yang sering disebut guru killer dan suka menghukum (Maulaty, 2014) sebagai Stimulus Alami (US) apabila kedua stimulus tersebut sering digabungkan, pada akhirnya akan membentuk respon terkondisi (CR) berupa anak tidak suka matematika. Guru juga harus bisa memotivasi siswa untuk berhasil. Beri kesempatan kepada siswa yang kurang bisa matematika untuk berhasil, misalnya dengan memberi perhitungan sederhana. Ketika berhasil, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan semangat mereka akan meningkat (Panca, 2016).

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red