×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
3 Hal tentang Idulfitri yang rupanya tak banyak diketahui

0

News

3 Hal tentang Idulfitri yang rupanya tak banyak diketahui

Jangan sampai salah! Berikut ini cara yang benar dalam merayakan Idulfitri

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

gladys velonia

17 / 06 / 2018 09:50

Setelah “berperang” satu bulan penuh melawan rasa lapar, haus, dan dahaga, seluruh umat muslim di dunia dihadiahi satu hari kemenangan yang mengembalikan diri ke fitrahnya alias suci kembali, yakni Hari Idulfitri. Di tahun 2018 ini, Idulfitri 1 Syawal 1439 H ditetapkan oleh Menteri Agama RI jatuh pada tanggal 15 Juni 2018.

Di balik semua keceriaan di hari-hari kemenangan ini, ada beberapa hal yang sebaiknya jangan kamu lakuin karena dapat merusak makna Idulfitri itu sendiri.

1. Memberi Ucapan

Nabi Muhammad S.A.W tidak mengajarkan secara gamblang bagaimana cara mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri kepada sesama muslim. Karena itulah terjadi kerancuan, di mana setiap orang punya pendapatnya masing-masing. Yang harus kamu ketahui:

· Minal Aidin Wal Faidzin tidak sama artinya dengan Mohon Maaf Lahir Batin

Loading...

Dalam Bahasa Arab, Minal Aidin Wal Faidzin memiliki arti “orang-orang kembali dan meraih kemenangan”. Karena itulah penggunaan kalimat tersebut dalam ucapan Selamat Idulfitri tidak relevan karena artinya tidak jelas karena mau kembali ke mana? Ke maksiat lagi? Atau kembali beribadah tidak serajin di Ramadan? Apalagi jika disambung dengan Mohon Maaf Lahir Batin, seolah-olah menjadi lanjutannya. Sangat tidak nyambung, kan?

 

· Happy Eid Mubarak juga kurang tepat

Arti kata Eid dalam Bahasa Arab adalah perayaan, sedangkan Mubarak adalah diberkati. Eid Mubarak sendiri tidak ditujukan khusus untuk Idulfitri, karena perayaan hari besar bukan cuma Idulfitri tapi juga ada Iduladha, bahkan di beberapa negara ada yang mengucapkan Mubarak sebagai tanda merayakan liburan. Selain itu yang harus kamu perhatikan, dalam Eid Mubarak, Mubarak memiliki arti lain yang setara dengan kata selamat. Jadi saat kamu bilang “Happy Eid Mubarak”, kamu hanya melakukan pengulangan “Selamat Selamat Perayaan (Hari Besar)”.

 

· Bagaimana dengan Taqabalallahu minna wa minkum?

Dari semua ucapan Selamat Idulfitri, kalimat satu inilah yang paling baik karena disunahkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Beberapa hadis dan riwayat memuat sapaan ini paling sering digunakan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Lantas, apa artinya kalimat tersebut? Taqabalallahu minna wa minkum memiliki arti semoga Allah menerima amalku dan amal kalian.

 

2.       Penulisan yang benar, Idul Fitri atau Idulfitri?

Idulfitri berasal dari Bahasa Arab yang jika ditulis dalam huruf alfabet menjadi EidulFitri.

3 Hal tentang Idulfitri yang rupanya tak banyak diketahui

Dari tulisan Arab tersebut, kita bisa lihat bahwa frasa ini memiliki 2 unsur, yakni unsur “Eidu” dan “Alfitri”. Harakat dammah pada “Eidu” harus merekat pada “Alfitri” (ingat hukum tajwid saat membaca Al-Quran?). Sehingga jika hendak ditulis dalam Bahasa Indonesia, menjadi Idulfitri (ditulis serangkai).

 

3. Tradisi Sungkeman

Di Hari Idulfitri, sudah menjadi kebiasaan jika seorang anak melakukan sungkem atau gerakan membungkuk di depan orangtua sebagai tanda penghormatan dan memohon maaf. Tradisi ini hanya ada di Indonesia dan berasal dari Jawa. Namun, beberapa ulama menganggap hal tersebut tidak boleh karena seperti hendak menyembah kepada selain Allah. Ada pula ulama yang memperbolehkan sungkem atas dasar tidak diniatkan sebagai ruku’ kepada selain Allah.

Tapi jika kamu mau menunjukkan rasa sayang dan hormat kepada orangtua, dikutip dari buku Fatawa Samahatus Syeikh Abdullah bin Humaid hal 256 dengan nomor fatwa di buku tersebut 272, “Imam Malik mengatakan, ‘Sesungguhnya cium tangan itu adalah sujud kecil-kecilan’. Imam Syafii juga melarang cium tangan. Namun sebagian ulama membolehkan cium tangan ortu atau cium tangan ulama. Namun yang lebih baik adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah. Cium dahi ibu atau ayah (sebagai bentuk penghormatan) itulah yang lebih afdhol dan tidak mengapa untuk dilakukan”.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red