×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
10 Film keren dari Blumhouse ini wajib kamu tonton

0

Film

10 Film keren dari Blumhouse ini wajib kamu tonton

Blumhouse sukses bikin film keren rendah bujet seperti Split, The Purge, Truth or Dare, hingga Get Out yang raih banyak penghargaan dan pujian.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Farrel Zahdie

09 / 07 / 2019 14:26

 

Blumhouse Productions adalah perusahaan produksi film dan televisi Amerika yang didirikan oleh Jason Blum. Meski rumah produksi Blumhouse ‘baru’ berdiri pada 2000 dengan andalkan film-film berbiaya rendah, mereka sukses bersaing dengan produksi studio besar. Rahasianya? Blumhouse banyak bekerja sama dengan sutradara keren!

logo blumhouse

Inilah 10 daftar film Blumhouse keren yang wajib ditonton.

10. Sinister (2012).

Loading...

sinister

(Bughuul dalam Film Sinister)

Film keluaran  tahun 2012 yang disutradai oleh Scott Derickson merupakan salah satu film terbaik buatan Blumhouse. Sinister mengisahkan tentang satu keluarga yang terdiri dari Elisson (Ethan Hawke), Tracy (Juliet Rylance), Ashley (Ciare Foley) dan Trevor (Michael Hall). Rumah baru yang mereka tempati bukanlah seperti apa yang mereka impikan. Rumah baru tersebut menyimpan sebuah misteri yang telah membunuh keluarga lainya. Membunuh keluarga tersebut di sebuah pohon yang ada di sekitar rumah tersebut. Elisson memutuskan untuk mencari tahu akan pembunuhan tersebut yang semakin membawanya ke masalah yang lebih besar.

Film ini cukup menegangkan dari awal hingga akhir, ditambah dengan beberapa yang mengerikan dari video-video pembunuhan yang ditonton Elisson. Walaupun adegan jumpscare tidak banyak diberikan, namun film ini tetap memberikan sensasi yang menyeramkan. Ditambah lagi ending-nya yang plot twist yang bisa membuat penonton tidak menyangka. Tambah lagi sosok hantu Bughuul yang hadir juga cukup menyeramkan. Namun sayang, sosok hantu tidak dijelaskan lebih detail.

Film ini juga memiliki kelanjutan yang dirilis tahun 2015 lalu. Sedikit berbeda dengan film pertama, namun kehadiran hantu utama (Bughuul) masih menghantui. Dalam sekuelnya yang kedua, sosok hantu Bughuul lebih dijelaskan dan ceritanya lebih hidup (konfliknya sangat terasa). Film kedua memiliki rating dan komentar yang tak terlalu bagus ketimbang yang pertama. Untuk itu bagi yang masih asing dengan film ini, saya menyarankan untuk menonton film pertama. Namun, kalau saya pribadi, saya lebih senang film kedua (karena saya menilai film dari cerita, bukan dari adegan).

9. Insidious Franchise.

para hantu

(Para Hantu dari Serial Insidious)

'Insidious' bisa dibilang merupakan salah satu film bergenre horor yang menarik perhatian dan laris di pasaran. Kesuksesan film tersebut membuat nama sang sutradara, James Wan semakin melejit.

Film ‘Insidious’ pertama kali dirilis pada 1 April 2011 di Amerika Serikat. Film ini menceritakan tentang keluarga Josh Lambert (Patrick Wilson) dan Renai (Rose Byrne) yang baru saja pindah ke rumah baru bersama anak-anak mereka. Salah satu dari anak mereka yang bernama Dalton (Ty Simpkins), memiliki kemampuan melakukan Astral Projection, suatu keadaan di mana rohnya keluar dari tubuh kemudian pergi ke alam lain yang disebut The Futher.

Roh jahat pun kerap mengganggu dan memberikan teror pada kehidupan keluarga mereka. Tujuannya adalah untuk mengambil alih tubuh Dalton agar si roh jahat bisa kembali hidup. Mereka dihantui oleh roh jahat yang disebut Red-Faced Demon dengan wajah berwarna merah.

Merasa tak sanggup menghadapi semua masalah, melalui ibu Josh, Lorraine Lambert (Barbara Hershey) memanggil seorang cenayang bernama Elise (Lin Shaye) yang akan membantu mengusir roh jahat. Tak hanya sendiri, Elise dibantu oleh dua orang asistennya, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson).

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2013, ‘Insidious’ pun dibuat sekuel dengan judul ‘Insidious: Chapter 2’. Film ini masih disutradarai dan dibintangi oleh aktor dan aktris dari seri sebelumnya.

Film yang dirilis pada 13 September 2013 itu menceritakan tentang kisah Josh yang mengalami hal serupa dengan anaknya. Ia dibantu oleh Elise untuk mengusir roh jahat tersebut. Dalam cerita pun mengungkap sosok roh jahat yang selama ini telah menghantui hidup mereka atau dikenal sebagai The Bride in Black yang menggunakan baju pengantin serba hitam.

Dua tahun kemudian, film ‘Insidious’ kembali hadir dengan judul ‘Insidious: Chapter 3’. Berbeda dengan dua film sebelumnya yang disutradarai oleh James Wan, film tersebut kali ini disutradarai oleh Leigh Whannell, yang juga menjadi penulis cerita.

Film yang dirilis pada 5 Juni 2015 ini tidak melanjutkan cerita tentang keluarga Lambert di dua film sebelumnya. Film 'Insidious: Chapter 3' menceritakan tentang teror yang terjadi beberapa tahun sebelum kejadian yang menimpa keluarga Lambert. Pada film ini Elise dengan kelebihan yang dimilikinya berusaha membantu Quinn Brenner (Stefanie Scott) agar bisa terlepas dari roh jahat yang menempel dan menginginkan jiwanya.

Teror itu pertama kali terjadi saat Quinn berusaha untuk berkomunikasi dengan ibunya yang telah meninggal. Namun, yang datang bukanlah sosok yang diharapkannya, karena ia malah didatangi oleh roh jahat. Setelah kejadian itu, Quinn mengalami kecelakaan yang menyebabkan kondisinya memburuk.

Keluarga dari Quinn meminta bantuan kepada Elise. Awalnya, Elise sempat menolak untuk membantu karena takut dengan ancaman The Bride in Black yang bisa mengambil jiwanya.

Yang terbaru adalah ‘Insidious: The Last Key’. Penulis cerita dari film ini masih tetap sama dengan film sebelumnya. Film berdurasi 103 menit ini disutradarai oleh Adam Robitel.

Film 'Insidious: The Last Key' bercerita tentang kehidupan Elise di masa lalu ketika ia menyadari memiliki kelebihan untuk bisa berkomunikasi dengan roh dari alam lain. Bertahun-tahun kemudian, Elise bekerja sebagai cenayang yang bisa membantu orang untuk mengusir roh jahat.

Saat itu, ia mendapat telepon dari klien bernama Ted Garza (Kirk Acevedo), yang tanpa disangka menuntunnya untuk kembali ke rumah tempat tinggalnya dahulu. Elise sempat menolak untuk membantu, karena rumah itu hanya mengingatkannya dengan kenangan masa lalunya yang buruk di sana. Lagi-lagi Elise pun berubah pikiran dan memutuskan untuk membantu kliennya itu.

elise

(Elise Sang Cenayang)

Cerita film ‘Insidious’ berkesinambungan satu sama lain. Urutannya adalah ‘Insidious: The Last Key’, ‘Insidious: Chapter 3’, ‘Insidious’, dan yang terakhir adalah ‘Insidious: Chapter 2’. 

Dan terdapat rumor bahwa Blumhouse akan membuat film crossover Insidious dengan Sinister, di mana Elise akan melawan Bughuul. Kemungkinan akan dibuat pada Chapter 6. Wow, penasaran gak?

8. The Purge Franchise.

Purger

(Para Komploter The Purge)

Salah satu film favorit saya adalah The Purge series. Kalau misalnya pembunuh biasanya hanya melibatkan beberapa orang, bagaimana kalau seluruh masyarakat saling membunuh satu sama lain? Bisa dibayangkan, ada satu malam dalam setahun, semua kejahatan dilegalkan termasuk membunuh, bahkan yang lebih diutamakan adalah membunuh. Tentu adalah suatu plot yang crazy lah.

Serial The Purge menceritakan di mana Amerika di tahun 2022 adalah sebuah negara yang makmur dengan tingkat kemiskinan dan kejahatan paling rendah sepanjang sejarah. Hal itu terjadi berkat sebuah hari bernama purge. Dalam satu hari tersebut, selama 12 jam semua orang diberi kebebasan untuk melakukan tindak kejahatan apapun entah itu mencuri, memperkosa, bahkan membunuh sekalipun. Semua tindakan kriminal tesebut tidak akan dijatuhi hukuman dan selama satu hari itu pula semua social service seperti polisi, ambulans hingga pemadam kebakaran tidak beroperasi demi mendukung kelancaran hari pembersihan tersebut.

Film karya James DeMonaco memiliki 4 karya film, yakni The Purge (2013), The Purge Anarchy (2014), The Purge Election Year (2016), The First Purge (2018). Walau setiap film menceritakan tema yang sama, namun memiliki plot berbeda-beda. Intinya adalah how do you survive the night.

Bagi kalian yang ingin merasakan nuansa ketegangan, film ini sangat cocok untuk kalian. Ditambah lagi, Blumhouse akan merilis film kelima (masih upcoming sih, judul lengkapnya masih belum diketahui.

7. The Visit (2015).

Kakek Nenek The Visit

(Kakek dan Nenek The Visit)

M. Night Shyamalan is baaack! Kita semua tahu persis gimana ‘prestasi’ sutradara yang satu ini. Siapa coba yang tak ingat kepada twist dan revealing cerita film The Sixth Sense, Unbreakable, ataupun Signs. Akan tetapi setelah The Village (2004) yang sudah php-in banyak orang –semua nyangka film itu adalah kisah misteri menyeramkan padahal ‘hanya’ sebuah kisah cinta terlarang–film-film buatan mister Shyamalan mengalami penurunan kualitas yang drastis.

Lihat saja The Happening (2008); orang-orang dalam film tersebut memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara yang terduga. Diniatkan sebagai experience yang mengerikan, nyatanya malah jadi lucu. Alih-alih dianggap serius, The Happening malah diketawain. Tidak hanya penonton, rekan-rekan kerja pun tampaknya tidak lagi percaya kepada M. Night Shyamalan. After Earth praktisnya sama saja dengan disabotase oleh Will Smith. Makanya, film The Visit ini disebut Shyamalan sebagai usahanya untuk kembali ke basic. Dengan budget rendah dan cerita yang ditanganinya sendiri, M. Night Shyamalan mempersembahkan film ini sebagai, bukan hanya ‘jalan pulang’, namun juga sebagai jalan tengah antara horor dan komedi. Dan meskipun memakai gaya found-footage, The Visit bukanlah film hantu.

Becca (Olivia DeJonge leads this story dengan sangat likeable) dan Tyler (sebagian besar gelak tawa datang dari Ed Oxenbould) sedang dalam misi mendamaikan keluarga ibu mereka (Kathryn Hahn manages to stay wonderful meski nampil paling sedikit). Kedua kakak beradik ini menginap seminggu di rumah kakek dan nenek yang baru pertama kali berkontak dengan mereka. Siang hari dalam film ini kerasa hangat dan akrab semestinya drama keluarga yang penuh kasih sayang. Tapi begitu jam menunjukkan pukul 21.30, Pop Pop (aku gak mau punya kakek se-creepy Peter McRobbie dalam film ini) melarang keras mereka untuk keluar kamar. Di lain pihak, Nana (tepuk tangan buat penampilan berlapis dari Deanna Dunagan) meminta kedua kakak beradik tersebut untuk tidak mengganggu Pop Pop jika sang kakek sedang khusyuk di gudang.

6. The Gift (2015).

The Gift Poster

(Poster The Gift)

Pasangan suami istri, Simon (Jason Bateman) dan Robyn Callum (Rebecca Hall), baru saja pindah dari Chicago ke daerah suburb di Los Angeles. Sebuah lingkungan baru tanpa mengenal seorang pun di sekitarnya. Pada suatu ketika, seorang pria tiba-tiba mendekati Simon di sebuah tempat perbelanjaan. Ia memperkenalkan diri sebagai Gordon Moseley (Joel Edgerton) dan mengaku sebagai teman sekolah Simon.

Bingkisan pertama dikirimkan Gordon diam-diam sebagai tanda persahabatan, direspon dengan baik oleh Simon dan Robyn. Tapi semakin lama, Simon justru merasa risih dan menganggap Gordon sebagai ‘orang aneh’. Sebaliknya, Robyn selalu berpikiran positif mengenai Gordon. Benarkah Gordon Moseley merupakan teman lama Simon ataukah seorang stalker?

Atmosfer mencekamnya dibangun dengan sangat baik lewat tone yang cukup gelap pula. Bahkan, setting siang hari saja dapat terasa semencekam gelapnya malam. Dari sini, pembangunan suasananya tersebut telah memiliki kelebihan tersendiri. Semuanya juga ditunjang oleh karakterisasi Gordon yang diperankan dengan cukup baik oleh Joel Edgerton. Gordon digambarkan sebagai pria yang canggung dan lemah dalam bersosialisasi. Karakterisasi semacam itu memang pada akhirnya mudah sekali menciptakan asumsi bagi penonton untuk menghakiminya sebagai ‘orang jahat’.

Namun yang menjadi kekurangannya, naskah yang juga ditulis oleh Joel Edgerton ini kurang dalam mempermainkan saya agar tersesat dalam pemahaman siapa pelaku dan siapa korban. Sebab tidak terlalu lama “The Gift” berakselerasi, saya merasa ia cukup banyak celah pada cara menghadirkan 2 karakter yang saling berkonfrontasi itu. Akibatnya, kedua karakter telah membongkar sendiri identitasnya sebelum sempat saya terbawa masuk ke konflik lebih dalam lagi.

5. Split (2017).

Kevin

(Kevin di Film Split)

Split adalah film ini memiliki koneksi dengan "Unbreakable" yang baru diperlihatkan pada bagian akhir film ini sehingga membuat kaget banyak orang (karena sudah 16 tahun setelah Unbreakable dirilis). Split sendiri akan menceritakan Kevin Wendell Crumb, pria yang memiliki 23+1 kepribadian. Tanpa twist yang saya tulis di atas, film ini sendiri masih tergolong film yang menarik dan menunjukkan pada penonton jika M. Night Shyamalan masih mampu "mengejutkan" dunia. Twist "ngaco" lainnya adalah film ini diproduksi "Blumhouse" yang terkenal dengan "modal minim, hasil maksimal".

3 remaja perempuan diculik dan disekap di sebuah ruangan oleh Kevin Wendell Crumb. Tapi siapa sangka Kevin dikendalikan oleh "orang lain" yang berada dalam dirinya. Apa tujuan Kevin menculik 3 remaja ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada Kevin? Semua akan menghiasi film yang berdurasi 2 jam ini.

Dengan setting yang tergolong sempit dan penuh tanda tanya, Shyamalan kembali menunjukkan bakatnya dengan menghadirkan karakter Kevin yang "amat sangat menarik", semua ini didukung dengan akting James McAvoy yang memukau (apalagi dia harus berperan menjadi > 1 karakter). Film ini kembali menawarkan atmosfer "realistis" yang sebelumnya ada di "Unbreakable".

Ironisnya Kevin juga yang menjadi kelemahan di film ini, apalagi ternyata film ini hanya menampilkan 9 dari total 24 kepribadian (dan hanya 3 kepribadian saja yang mendominasi film ini). Hal ini membuat film ini terlihat sangat ambisius tetapi "pelit" pada waktu bersamaan.

Pada akhirnya, "Split" adalah film psychological horror thriller yang "standar" karena memakai formula yang "seharusnya" mudah ditebak, adanya hubungan dengan film "Unbreakable" akhirnya malah menjadi twist manis yang (pastinya) tidak terduga.

4. Halloween (2018).

Halloween

(Michael Myers dalam Film Halloween)

Sejak pertama dirilis tahun 1978, film Halloween yang mengangkat sosok pembunuh berdarah dingin bernama Mike Myers langsung mendapat sambutan hangat dari para penikmat film. Di samping sosok menyeramkan Mike Myers, scoring film ini pun jadi salah satu ciri khas yang kemudian terus melekat di telinga setiap penonton. Begitu fenomenalnya film Halloween, terhitung sudah ada 10 sekuel dari film original Halloween garapan John Carpenter yang rilis 40 tahun lalu. Yang terbaru, adalah film Halloween (2018) karya David Gordon Green yang tayang 17 Oktober 2018 di layar bioskop Tanah Air.

Meskipun memiliki 9 film lain yang berkisah tentang sosok Mike Myers, tapi kamu tak perlu repot-repot menyaksikan seluruh film tersebut demi mendapat benang merah film Halloween (2018). Karena film Halloween hanya melanjutkan kisah dari film orisinalnya di tahun 1978. Belum pernah menyaksikan film pertamanya? Tenang saja, film Halloween (2018) tetap bisa kamu nikmati tanpa merasa kebingungan, kok. Hanya saja tentu nuansa yang didapatkan akan sedikit berbeda. Kamu tak ikut merasakan nuansa nostalgia saat karakter Laurie muncul, atau saat adegan tertentu yang seolah kembali mereka ulang adegan di film pertamanya (adegan Allyson di dalam kelas).

Dari sekian banyak film sekuel seputar Mike Myers bisa dibilang film Halloween milik David Gordon Green ini cukup memuaskan dan tidak terkesan cetek. Cerita yang dibangun cukup nyaman untuk diikuti, bahkan sosok Mike Myers tampak terlihat begitu menakutkan karena kemampuannya dalam menghabisi siapa saja yang ia temui tanpa rasa ampun. Beberapa jump scare yang dihadirkan juga sempat berhasil membuat para penonton di dalam bioskop merasa kaget.

Bagi kamu yang gemar menyaksikan film thriller dan horor, tentu film Halloween bisa menjadi pilihan yang pas untuk dinikmati saat akhir pekan ini. Eits, tapi perhatikan batas usianya ya. Karena film Halloween mendapat rate R atau dewasa, sehingga film ini hanya diperuntukan bagi penonton usia 17 tahun ke atas.

3. Get Out (2017).

get out

(The Coagula dalam Film Get Out)

Tidak seperti kebanyakan film yang mengangkat persoalan rasisme lewat narasi yang cukup berat, Jordan Peele mengemas Get Out dengan lebih ringan. Alur cerita Get Out mengalir lancar tanpa penonton harus bertanya-tanya kebingungan. Walau ringan, film ini tetap menjadi thriller yang berkelas lewat skenario kuat yang juga ditulis oleh sang sutradara. Get Out adalah film yang mengandalkan cerita yang disusun dengan seksama untuk membuat penonton terpaku pada kursi bioskop sampai filmnya habis.

Get Out bercerita tentang Chris Washington (Daniel Kaluuya) berkunjung ke rumah orang tua pacarnya, Rose Armitrage (Allison Williams). Namun, kunjungan ke rumah calon mertua ini tidak seceria film Meet The Parents, karena semakin lama Chris di tempat itu, semakin banyak kejadian ganjil terjadi. Kejadian itu seperti anehnya tingkah polah kedua orang tua dan kakak Rose, kedua pembantu kulit hitam yang perlakuannya tidak wajar, hingga para tetangga yang perlakuannya tidak membuat Chris nyaman. Semua kejadian itu pun mengarah ke inti misteri film ini.

Di film Get Out, Jordan Peele memberi dimensi yang berbeda tentang rasisme. Dikemas dengan genre horor-thriller, film ini bertutur dengan cara yang cukup mengesankan. Rasisme yang diangkat pun bukan sekadar tentang orang kulit putih menindas orang kulit hitam. Jordan Peele memasukkan rasisme yang cara yang lebih halus, tidak terlalu tajam tapi mengena. Ketimbang berkoar-koar soal penindasan, Peele mengangkat hal yang lebih kontemporer. Seperti misalnya dialog atau perkataan yang terkesan wajar, namun sebenarnya membuat orang kulit hitam tidak nyaman ketika disampaikan.

Get Out menjadi salah satu film wajib tonton di tahun 2017. Jangan berharap kalau di film ini mengumbar jump scare, kaget-kagetan sampai akhir. Film ini murni berpegang pada penulisan naskah yang kuat, akting yang baik, dan juga simbolisme yang bertebaran sepanjang film. Jika suka dengan film yang penuh teka-teki, menyaksikan Get Out perlu lebih dari satu kali agar bisa menemukan potongan puzzle yang disebar-sebar.

2. Us (2019).

doppleganger

(Doppleganger di Film Us)

Film ini secara keseluruhan bercerita tentang pasangan suami istri bernama Gabe Wilson (Winston Duke) dan Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), yang membawa kedua anak mereka untuk pergi berlibur ke pantai. Rumah di pantai ini adalah rumah masa kecil Adelaide. Teror datang ketika malam tiba. Kebersamaan dan kebahagiaan keluarga ini berganti menjadi ketakutan saat tamu tak diundang muncul di halaman rumah mereka.

Para tamu tak diundang ini mengepung dan menerobos rumah keluarga Wilson. Beraneka senjata seperti gunting tajam bisa saja merusak liburan keluarga Wilson. Menariknya, para pembunuh ini memiliki rupa yang sangat mirip dengan masing-masing anggota keluarga Wilson. Dan pembunuhan ini tidak hanya meneror keluarga Wilson saja.

Kota tersebut berubah menjadi kota penuh darah karena warganya sudah habis ditikam dan ditusuk. Para pembunuh juga memiliki rupa yang mirip dengan korban yang mereka bunuh. Orang-orang pembunuh berjubah merah ini ternyata adalah sekelompok ‘masyarakat lain’ yang memang memiliki motif untuk melakukan semuanya. Serangan teror dari mereka untuk suatu pergerakan yang besar, dan keluarga Wilson harus bisa bertahan hidup dari semua ini.

Film ini menyajikan alur cerita yang cerdas, tidak tertebak bahkan sampai akhir film. Setiap konfliknya digarap dengan sangat apik sehingga ikut membuat penonton ‘menahan napas’ sepanjang film karena ketegangannya. Adegan pembunuhannya mungkin ‘sedikit’ sadis untuk kamu yang tidak kuat melihat adegan berdarah-darah. Untuk kamu yang menyukai film dengan plot twist, siap-siap karena film ini memiliki ending yang mindblowing.

Namun, ada beberapa konflik atau informasi yang memang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam film. Hal-hal itu tidak dijelaskan lebih lanjut bahkan sampai film selesai, yang malah membuat penonton kebingungan. Bahkan ada beberapa konflik yang ‘belum selesai’ hingga akhir film. Mungkin Jordan Peele memang ingin mengajak penonton untuk membuat versi sendiri terhadap jalan ceritanya. Atau justru akan dijawab melalui sekuel? Tidak ada yang tahu.

Namun, inilah kehebatan film Us. Plot-plot cerita yang dirancang dengan cerdas menjadikan film ini berbeda dengan horor yang lain. Bengis, kasar, mengerikan, jadi sebagai sebuah peradaban manusia masa kini. Kepiawaian peracik musik menjadikan scoring film ini akan membuat kamu merasakan adegannya mencekam.

Us sangat direkomendasikan kalau kamu ingin menonton film yang memacu adrenalin. Kamu benar-benar harus memperhatikan secara detail setiap adegan dan konflik yang ada, karena film ini memang lebih kompleks dari Get Out.

1. Happy Death Day (2017).

babyface

(Babyface dari HDD 1-2)

Mungkin kalian familiar dengan film berkonsep time looping? Yup! Happy Death Day ini terinspirasi dari film komedi klasik Bill Murray Groundhog Day. Jeniusnya sang sutradara Christopher B. Landon berhasil membuatnya menjadi segar. Kita dibawa berulang-ulang mencari siapakah pembunuhnya dengan adegan-adegan slasher. Tak melulu menegangkan, lelucon yang diselipkan Landon sukses mengundang gelak tawa.

Film bermula ketika Tree (Jessica Rothe) terbangun di sebuah kamar asrama laki-laki bernama Carter (Israel Broussard), seusai pesta yang memabukkannya. Hari itu merupakan hari ulang tahunnya, namun berakhir mencekam saat pria bertopeng bayi membunuhnya. Tree kemudian terbangun di paginya dan menemukan dirinya kembali di kamar asrama laki-laki, dia mengalami hal yang sama seperti hari sebelumnya hingga akhirnya terbunuh di malam hari dan terbangun terus-menerus.

Kejadian berulang-ulang ini membuat Tree panik dan stres. Di hari yang sama ia harus menghindari sang pembunuh namun tetap saja nyawanya hilang dan terbangun di hari yang sama. Tree merupakan mahasiswi cantik dan anggota dari persaudaraan Kappa yang kejam. Jalan satu-satunya untuk mengakhiri kematian tanpa henti ini, ia harus mencari tahu siapa sang pembunuh bertopeng bayi. Apakah salah satu teman di rumah Kappa? Mantan kekasihnya? Atau dosennya?

Film ini sangat cocok buat kalian para remaja yang mungkin masih pemula melihat film bergenre slasher. Selain adegan menegangkan dan juga canda tawa, kalian akan disuguhi dengan beberapa adegan baperan dan juga drama cinta-cintaan, so sweet.

Also, film ini juga punya sekuel yang gak kalah serunya dari yang pertama. Film yang kedua, kalian bakal disuguhin adegan komedi, drama yang dua kali lipat lah, walaupun agak beda sedikit ceritanya, tapi kurang lebih sama. Film kedua udah tayang Februari 2019 lalu, dan sudah bisa di-download.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red