Brilio.net - Menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah merupakan tugas yang harus diemban Ponariah (62) setiap harinya. Tingginya kebutuhan hidup dan kondisi sebagai orang tua tunggal membuat perempuan asal Bantul, Yogyakarta ini harus bekerja keras demi mengumpulkan rupiah untuk makan dan berbagai kebutuhannya bersama anak-anaknya. Pukul 5 subuh di saat beberapa orang masih terlelap, Ponariah sudah mulai mengayuh sepedanya menuju perajin tungku untuk mengambil barang jualan. Dari sana dia mulai menjajakan tungku ke berbagai tempat yang dapat dicapainya.

Tidak mudah baginya berjualan tungku yang biasanya lebih banyak dilakukan oleh laki-laki itu. Dengan menggunakan sepeda ontelnya, Ponariah sering berkeliling di seluruh wilayah Jogja. Satu tungku dijual seharga Rp 10.000. Untung yang diperoleh tidak banyak, namun ibu dua anak ini tidak pernah menyerah sedikit pun.

Bahkan jika musim hujan, dia bisa saja tidak mendapatkan pembeli satu pun, belum lagi jika dia harus kehujanan di jalan. "Semua ini saya lakukan demi anak saya, tidak ada rasa capek sedikit pun yang terasa setelah melihat wajah mereka bahagia."

Di era modern saat ini, kebutuhan masyarakat akan tungku arang ataupun gerabah sudah menurun dikarenakan perabot rumah tangga yang sudah beralih ke barang alumunium ataupun plastik. Ponariah mengakui bahwa dia sebenarnya tahu kalau barang jualannya bukan lagi kebutuhan utama masyarakat saat ini, namun tidak ada pilihan lain baginya. "Saya harus tetap bekerja supaya bisa memenuhi kehidupan sehari-hari, segala yang diberikan gusti Allah disyukuri saja," ujar Ponariah.

Meski penghasilan sehari-hari tidak menentu, tapi itu tidak menjadi alasan baginya untuk menyerah terhadap kondisi. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat baginya untuk menjalani profesi tersebut, Ponariah enggan untuk meminta belas kasihan orang lain dan dia senantiasa bertekad untuk bekerja keras dan memberi makan rezeki yang halal bagi anaknya. Sungguh ibu yang menginspirasi.