Brilio.net - Jogja sekarang adalah kota metropolitan, pendatang dari berbagai daerah dan negara tumpah ruah di kota istimewa ini. Banyaknya pendatang membuat usaha kuliner sangat dibutuhkan, sehingga banyak rumah makan dan warung di mana-mana.

Mbah Atmo (77) adalah salah satu penjual makanan yang sedikit banyak diuntungkan dengan banyaknya warga pendatang. Nenek yang membuka warung soto dan pecel di daerah Nologaten, Yogyakarta ini bahkan memulai usahanya saat Jogja masih belum seramai sekarang. "Mbah dulu jualan dari tahun 1970-an, lupa tepatnya, pokoknya 30 tahun lebih," ceritanya kepada brilio.net, belum lama ini.

Dirinya mengaku, walau sudah tak selincah dulu, masih tetep semangat berjualan. Buat apa sih mbah? "Mbah itu sudah dari muda jualan ini (soto dan pecel), kalau leren (istirahat) rasannya ada yang kurang. Mbah juga masih suka pegang uang, daripada ngerepoti anak," ujarnya sampil tersipu.

Dan satu yang penting yang menurutnya membuatnya tetap semangat di tengah gempuran rumah makan dan burjo khas Jawa Barat, "Kalau mau hidup lama ya harus tetap bekerja, awake kedah gerak (badan harus tetap digerakkan. Ini semua mbah sendiri yang menyiapkan, paling nanti dibantu anak sedikit," jelas Mbah Atmo sambil meracik pecel.

BACA JUGA:

Loading...

Berapa sih biaya parkir yang sebenarnya? Ini penjelasannya

Asyiknya jadi tukang parkir di sini, sering ketemu artis

Nasib juru parkir wanita, gadaikan motor demi ganti rugi motor hilang

Anta, mahasiswa tukang parkir lulus STAN dengan uang saku Rp 50 ribu

Hidup sendiri, wanita 50 tahun ini sudah 15 tahun jadi tukang parkir

Kisah Anta, rela jadi tukang parkir demi bisa kuliah