Brilio.net - Dropshipping merupakan salah satu sistem bisnis terbaru yang sedang menjadi tren dan diminati banyak orang karena kemudahan saat memulai maupun menjalankan bisnis. Dropshipping juga menjadi salah satu metode jual beli secara online. Biasanya, lewat metode ini badan usaha atau perorangan baik toko online atau pengecer tidak melakukan penyetokkan barang, namun barang didapat dari jalinan kerja sama dengan perusahaan lain yang memiliki barang yang sesungguhnya atau dropshipper.

Dropshipper adalah perusahaan atau perorangan yang menawarkan barang dagangan untuk dijual dan mengirimnya secara langsung kepada konsumen setelah toko online membayar harga barang dan biaya pengiriman.

Nah untuk mengetahui lebih rinci mengenai dropshipper, berikut brilio.net telah merangkumnya dari berbagai sumber pada Senin (11/7).

 

 

 

 

 

Pengertian dropshipper.

 penjabaran mengenai dropshipper © berbagai sumber

foto: unsplash.com

Seperti disinggung sebelumnya, dropshipping menjadi salah satu model bisnis terbaru yang sedang diminati karena tidak perlu memikirkan dari segi produk, pengemasan, dan pengiriman barang. Hal ini karena semuanya dilakukan oleh pihak produsen atau grosir yang bertindak sebagai dropshipper.

Dropshipper adalah pemilik produk yang menyediakan layanan penjualan sistem dropshipping. Model bisnis dropshipping tergolong mudah karena dropshipper melakukan penjualan produk hanya dengan bermodalkan foto dari dropshipper tanpa harus menyetok barang dan menjual ke konsumen dengan harga yang telah ditentukan oleh dropship.

Model bisnis dropshipping menguntungkan dua pihak yang bekerja sama baik penjual pertama dan penjual kedua. Penjual pertama terbantu pemasaran oleh penjual kedua, karena produknya dapat dinikmati oleh konsumen di setiap wilayah dengan biaya pemasaran yang tidak terlalu besar bahkan bisa dibilang memiliki mitra yang sangat luas dan beranak cabang. Penjual kedua tidak perlu menyetok barang tetapi hanya bermodal komunikasi dengan penjual pertama. Selain itu, tidak ada biaya tambahan yang dibebankan pada pihak penjual kedua karena tidak memerlukan stok barang yang akan diperjualbelikan sehingga penjual kedua tidak memerlukan gudang.

Perbedaan dropshipper dan reseller.

 penjabaran mengenai dropshipper © berbagai sumber

foto: Unsplash/Feiyang Wang

Dalam model bisnis ini, dropshipper berperan sebagai produsen atau penyedia stok barang atau produk. Sedangkan reseller berperan untuk mencari pembeli melalui cara menawarkan atau mempromosikan produk dari dropshipper kepada konsumen dengan menggunakan katalog atau foto-foto produk yang telah disediakan. Setelah ada pembeli yang membayar, reseller hanya perlu menghubungi pihak dropshipper untuk dikirimkan produk secara langsung kepada konsumen atas nama toko dropshipper.

Mekanisme bisnis dropshipping.

 penjabaran mengenai dropshipper © berbagai sumber

foto: Unsplash/Feiyang Wang

Bisnis dropshipping melibatkan tiga pelaku transaksi yaitu konsumen, reseller, dan dropshipper. Alur transaksinya dimulai ketika konsumen membeli barang dari toko online yang dikelola oleh reseller dengan memilih barang melalui foto katalog yang disebarluaskan oleh reseller.

Kemudian reseller meneruskan pesanan konsumen ke pihak dropshipper dan konsumen akan membayarkan sejumlah uang sesuai pesanan melalui rekening bank ke dropshipper dengan menyertakan identitas pemesanan seperti nama, alamat lengkap, dan nomor ponsel. Selanjutnya, dropshipper sebagai penyedia barang akan mengirimkan secara langsung barang yang dipesan oleh konsumen.

Kelebihan dan kekurangan bisnis dropshipping.

 penjabaran mengenai dropshipper © berbagai sumber

foto: Unsplash/Sticker Mule

Sebagai model bisnis baru, dropshipping memiliki beberapa kelebihan khususnya bagi reseller yaitu:

1. Reseller tidak perlu membeli produk terlebih dahulu sehingga tidak membutuhkan modal yang besar.
2. Tidak perlu menyediakan ruang dan tempat untuk menyimpan stok barang.
3. Tidak perlu khawatir barang tidak laku atau rusak karena penyimpanan yang terlalu lama.
4. Tidak perlu memikirkan pengemasan barang dan biaya pengiriman.
5. Tidak perlu usaha lebih untuk pembuatan media promosi karena dropshipper telah menyediakan katalog atau foto produk untuk sarana promosi.
6. Bisnis jenis ini juga tidak menyita banyak waktu dan dapat dilakukan oleh siapapun sambil melakukan aktivitas lainnya seperti bekerja, kuliah, atau aktivitas rumah tangga.

Di sisi lain, terdapat beberapa kekurangan pada bisnis dropshipping bagi konsumen, reseller, dan dropshipper yaitu:

1. Konsumen tidak mengetahui metode penjualan yang dilakukan oleh toko online apakah reseller atau dropshipper.
2. Jika terdapat kesalahan, konsumen hanya dapat mengajukan komplain ke toko online yang dikelola oleh reseller.
3. Reseller juga tidak bisa menjamin kualitas barang secara langsung karena reseller tidak menyetok barang.
4. Mendapatkan komplain langsung dari konsumen padahal reseller bukan pengirim dan pemilik barang.
5. Bagi dropshipper, bisnis juga bisa mengalami penurunan harga jika barang tidak laku.
6. Terdapat risiko kehilangan reseller jika kerja sama yang terjalin tidak memuaskan.

Sumber: Purnomo. 2012. Jualan Online Tanpa Repot dengan Dropshipping. Jakarta: Elex Media Komputindo.