Brilio.net - Sudah lebih dari satu dekade Instagram menjadi media sosial yang cukup populer di kalangan masyarakat, termasuk di Indonesia tentunya. Sebab dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua sekalipun kini makin banyak yang menggunakannya.

Bagi sebagian orang, Instagram bukan hanya jadi 'galeri pribadi', namun juga jadi wadah untuk mengekspresikan diri dengan bebas. Bisa dikatakan, scrolling beranda bisa jadi aktivitas rutin yang dilakukan masyarakat di waktu senggangnya.

Selain itu, sebenarnya banyak pula lho, peran lain dari platform yang satu ini. Salah satunya sebagai media berbagi motivasi, informasi, maupun hiburan. Seperti halnya yang dilakukan akun Instagram @bapak2id.

Untuk pengguna aktif Instagram, mungkin sudah cukup familiar dengan akun yang satu ini. Bermula dari keinginan berbagi ilmu, keenam bapak-bapak yang terdiri dari Pak James, Pak Agus, Pak Nuang, Pak Marsani, Tuan Yayat, dan Pak Munawir, bersepakat membentuk akun @bapak2id yang kini sedang populer di Instagram.

Beruntung, brilio.net berkesempatan berbincang banyak dengan salah satu foundernya, Pak James jan Markus melalui sambungan Zoom, Rabu (3/12). Pak James sangat antusias menceritakan bagaimana awal terbentuknya akun @bapak2id hingga kini.

Loading...

Meski belum satu tahun dibentuk, hingga kini @bapak2id telah memiliki sekitar 400 ribu pengikut di Instagram. Setiap harinya, mereka selalu mempunyai konten-konten khusus tentang investasi, parenting, sampai humor.

Nah, penasaran kan? Ini dia, wawancara eksklusif brilio.net dengan sosok di balik akun Instagram hits, @bapak2id.

di balik akun bapak2id © Instagram

foto: Instagram/@bapak2id

 

Bagaimana sih, awal terbentuknya @bapak2id?

Awal dibentuknya @bapak2id itu sebenarnya tidak direncanakan, bukan kayak 'Ayuk, kita bikin yuk'. Tapi nggak sengaja. Jadi waktu itu saya pengen banget belajar investasi, kebetulan saya punya temen TK, namanya Pak Agus. Drs Agus Peter Jaelani SE. SKCK. PWG. MBS. Saya ke rumah dia terus belajar.

Abis itu ngobrol-ngobrol, Pak Agus balik tanya 'Pak James kerjanya apa sih?'. Saya jelasin, saya jalanin beberapa media, total ada 13-an. 'Emang ada kerjaan gitu?', eh dia tertarik gitu. Pada saat saya lihatin interaksi akun-akunnya, dia kayak kaget. 'Wah, saya juga pengen bikin dong, pak'.

Ya udah, bapak mau bikin apa. Yang pasti sih masalah finansial gini, saya tergerak banget hatinya ngajarin orang-orang Indonesia untuk melek investasi.

Saya kan demen banget data, nggak bikin strategi apa-apa kalau nggak berdasarkan data. Saya tes dulu, saya bayar orang untuk research, datanya saya baca, saya bikin SOP summary-nya, di sana tuh terpampang nyata banget, kalau 70-80% yang tertarik sama investasi itu perempuan.

Habis itu, 'Males nih, pak, haha! Saya ini nggak ngerti audiensnya pak, karena perempuan'.

Udah tuh, tiga minggu nggak ada jalan keluar, tapi nggak pengen berhenti juga. Akhirnya ketemu lagi, meeting. Kita bikin apa ya, kita bisa deh, saya pengen banget sharing.

Kalau buat saya, kan rumusan opportunity kan ada tiga ya. Ketika kita punya passion-nya, kita punya skillnya, kita ngerti market atau audiensnya. Nah, kita teliti nomor tiga itu, kagak ngerti marketnya.

'Gini aja pak, cari aja yang audiensnya kita pahami!', saya langsung bilang yang umur-umuran kita aja pak, bapak-bapak gitu. Belum ada kan akun yang buat ini. Ada dua kemungkinan, kenapa nggak ada akun modelan begini. Mungkin ada yang pernah nyoba, nggak berhasil.

Ya udah, kita ambil risiko itu, karena ngerjainnya juga seneng aja gitu, karena passion juga kita bisa karena ada skill-nya. Pak Agus bikin email, saya amanin namanya dari awal sampai sekarang namanya @bapak2id.

di balik akun bapak2id © Instagram

foto: Instagram/@bapak2id

 

Siapa aja sih, orang-orang di balik @bapak2id?

Setelah itu, saya sadar betul ya, kemampuan desain saya buruk sekali. Saya ajak teman kuliah saya namanya Pak Nuang. Saya ajak teman jalan-jalan saya Pak Munawir teman SMP saya, Tuan Yayat itu teman kerja. Dua kali ngantor sama dia, dua-duanya kantornya bangkrut. Yang terakhir masuk itu Pak Marsani.

Jadi berdua dulu (dengan Pak Agus), kemudian Tuan Yayat dan Pak Munawir, nomor lima Pak Nuang, terakhir Pak Marsani. Dari situ, kami jalanin dan kami perhatiin setiap bapak-bapak itu punya kelebihan masing-masing. Dari situ kita bikin golden circle. Jadi kalau mau bikin sesuatu, kita tanya dulu, 'Kenapa sih bikin ini?'.. Walaupun awalnya saya sama Pak Agus doang.

Jadi golden circle itu ada why, how, sama what. Kalau ditanya bapak2id itu apa sih, kita jarang banget jawab dari what dulu, tapi dari why. Panjang sih, tapi jadi lebih jelas. Why itu apa yang kita percaya, kita imani, apa yang bisa kita kontribusikan dalam keadaan apa yang bakalan kita anggap itu ideal.

How-nya gimana sih? Ya, rencananya bapak-bapak bisa berubah secara positif. Jadinya kami ada lima tanggung jawab yang dilakukan. Pertama mengedukasi, kedua memberikan informasi, ketiga inspirasi.

Biasanya sih, dari kesalahan-kesalahan kita ya, biar nggak keulang sama bapak-bapak lainnya. Keempat, kita kasih engagement, kelima entertaining.

Intinya kita kasih lima hal itu yang kami anggap essential juga. Jadi lima itu cara kami. Nah, apa aja yang dikasih hal-hal basic, kayak Pak Agus investasi. Saya James, fokusnya ke mindset. Pak Marsani relationship dan parenting, karena dia anaknya paling banyak sendiri. Pak Nuang hobi, karena dia orangnya ngulik banget.

Tuan Yayat, kan kita itu udah pinter nabung, dapatin duit, mindset, keluarganya senang, tapi kami merasa percuma deh kalau akhlaknya jelek. Nah, Tuan Yayat itu kategorinya akhlak.

Terakhir Pak Munawir, desknya paling berat itu, karena di kategori humor. Jadi Pak Munawir itu fansnya paling banyak.

Jadi intinya kita ngisi hal-hal yang esensial, tapi kita nggak ngedikte, karena kami juga nggak sempurna ya. Yang kami share itu cuma dua, berdasarkan skill kami dan kedua pengalaman.

Kami juga nggak sempurna, malah yang banyak dapat manfaat itu kami. Karena adanya bapak-bapak ini, tiap malam belajar lagi. Intinya yang kami berikan positif, bermanfaat dengan formula kami.

Ketiga ada what, sebenarnya bapak-bapak ini apa sih? Kebeneran aja kita perusahaan media.

di balik akun bapak2id © Instagram

foto: Instagram/@bapak2id

 

Kapan akun @bapak2id pertama kali dibuat?

Tahun ini, 2020. Tanggal 13 Januari.

Waktu itu, postingan pertama kalinya apa?

Ada bapak-bapak lagi dipijat sambil kerja. Jelek banget asli, hahaha!

  

Usia founder @bapak2id ini rata-rata berapa pak?

Paling tua 43 tahun, paling muda 37 tahun.

Kalau berkenan, boleh tahu nggak sih pak, pekerjaan asli para founder?

Mungkin nggak bisa lebih dalam ya. Ini salah satu alasan kita juga kenapa kami memutuskan anonymous. Jadi kalau ditampilin muka sama identitas, nanti jadi nggak bebas bercandaannya.

Kalau begitu, siapa saja yang tahu identitas asli keenam bapak ini?

Selain istri dan kakak-kakak, beberapa teman SMP, tapi alhamdulillah pada baik-baik. Tapi kami sadar betul ya, ini nggak bisa berlangsung selamanya, ya inilah ketahuan juga. Tapi kita nyaman aja begini.

di balik akun bapak2id © Instagram

foto: Instagram/@bapak2id

 

Kalau sampai saat ini, konten apa yang paling banyak disukai warganet?

Kalau kita ngomongin angka itu inspiring yang membahas kesalahan-kesalahan kami. Karena kami nggak ingin banget ya, warga melakukan hal yang sama. Yang kedua masalah skill, kayak 14 skill yang harus dikuasai orang dewasa ternyata mereka banyak yang belum tahu.

Itu skill dibagi dua, soft dan hard. Kayak kemarin saya coba bersihkan mesin cuci ternyata banyak warga yang kagak tahu ya, kalau mesin cuci ada filternya.

Ketiga itu humor, biasanya kami kasih weekend ya. Lihat-lihat, kayak kemarin lagi pada mumet, ya kita kasih humor. Awalnya humor itu cuma itu weekend, tapi kan kita berdirinya Januari, nggak lama kan Maret pandemi. Memang terbukti ya, ketawa itu bisa meningkatan imunitas. 'Ya udah deh pak, kita bikin konten humor lebih banyak'.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by bapak2ID (@bapak2id)

 

Gimana awal mula ide konten humor seperti Tebak Gambar, Tebak Foto yang hanya menunjukkan audio dan tulisan aja?

Awalnya itu karena pandemi, nggak bisa tatap muka. Jadi cuma Zoom-zoom-an doang. Terus saya iseng bongkar-bongkar fitur Zoom ternyata bisa airplay ke tablet saya.

Sebenarnya permainannya udah dari zaman saya SD. Main tebak-tebakan tapi lebih sering lagi tuh, waktu sekantor sama Pak Nuang dan Pak Marsani. Kalau ada jendela mobil kotor, kan bisa digambar-gambar.

Kenapa teksnya goyang-goyang? Karena saya suka banget satu acara Jepang. Acara Jepang itu saat saya tumbuh dewasa cukup berpengaruh banget. Kalau saya perhatikan teksnya goyang-goyang.

Inspirasi-inspirasi konten humor gimana pak? Apa mengambil dari cerita-cerita lawas?

Kalau (konten) 'Bapak-bapak Cerita' iya.. Susah ya, bukan stand up comedy yang bisa bikin cerita sendiri. Yang paling pecah (konten) Pak Nuang mau nyanyi. Yang kita lakukan inovasi ya, karena tebak gambar bukan ciptaan kita juga, tebak foto juga, tebak lagu juga. Yang bikin beda ya cara kita bawain aja.

Apakah kalau pandemi berakhir, tetap bikin konten humor via Zoom?

Itu tergantung sih, mungkin masih pakai Zoom karena itu lebih fleksibel. Kapanpun juga bisa bikin konten.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by bapak2ID (@bapak2id)

 

Apakah orang yang memegang desk bertanggung jawab penuh atau konten dibuat berdasarkan hasil perundingan bersama?

Nomor satu dibagi atas keahliannya. Cuma kalau yang sifatnya sama-sama kita memahami, misalnya parenting walaupun Pak Marsani yang paling jago, dia bakal tetap nanya 'Pak, ini mau diginiin nggak?'.

Nomor dua dibagi berdasarkan jadwal. Jadi Senin-Minggu kita udah tahu mau upload apa jam berapa.

Untuk acc, ada desainnya. Jadi mereka bikin tulisan, udah oke, acc, baru dibikin desainnya. Desainnya juga pakai Canva.

Apa @bapak2id hanya ada Instagram?

Instagram. Pernah coba Twitter, jahat-jahat sekali jempolnya. Kayaknya anak Twitter seneng banget berargumen. Bukan kita nggak suka berargumen, tapi kayak pas kita baca argumennya debat kusir. Kalau kita masuk kayaknya digebukin nih. Kayaknya kita belum kuat mentalnya nih.

Pas kita pikir-pikir bapak-bapak yang Twitter dikit deh.. Sebenarnya Facebook (paling banyak digunakan), tapi balik lagi Facebook di kepala orang buat tempat entertaining.