Bahkan pemilik Burger Dinar sempat ingin menutup usahanya karena tidak begitu menghasilkan. Tetapi pada 2011, ia tidak jadi menutup usaha burgernya karena melihat semangat Mbah Dinar dalam mencari nafkah.

Ketika ditanya alasan semangat berjualan meski sudah memasuki usia yang terbilang tak lagi muda, Mbah Wahadi punya jawaban yang menarik. Diakui Mbah Wahadi, ia lebih senang berjualan karena senang bertemu banyak orang dan jadi lebih sering gerak sehingga otot sarafnya nggak kaku.

"La wong saya ini seneng jualan. Kalau disuruh di rumah aja malah stres, pegel linu. Kan sekalian olahraga," ceritanya sambil tersenyum.

semangat Mbah Dinar keliling kayuh gerobak hingga belasan kilometer © 2023 berbagai sumber

foto: brilio.net/Putri Deri

"Saya itu pengen maju, kalau di rumah diam saja malah tidak bermanfaat, ngelamun tok. Juga jangan mengandalkan anak walaupun usia saya sudah tua gini," lanjutnya sambil bercerita.

Burger yang dibawa Mbah Wahadi tak sebanyak dulu, sekarang ia hanya membawa 80-100 roti burger saja. Jumlah itu juga selalu dibatasi karena faktor usia yang semakin tua dan sepi pembeli.

"Ya sehari mungkin bisa 80-100. Tapi selalu mbah batasi, karena juga sudah makin sepuh dan sepi," ujarnya.

semangat Mbah Dinar keliling kayuh gerobak hingga belasan kilometer © 2023 berbagai sumber

foto: brilio.net/Putri Deri

Kegigihan dan ketulusan hati Mbah Wahidi seakan memperlihatkan bahwa usaha kecil juga bisa mendatangkan hasil yang baik. Walau di tengah ketimpangan yang ada, keinginan untuk melangkah maju tetaplah menjadi salah satu bentuk usaha.

"Kita itu harus melangkah maju sekecil apapun. Karena kalau nggak melangkah sama sekali kan nggak bakal maju. Kalau punya usaha kecil tapi nggak mau melangkah, ya gimana maju dan suksesnya," tutur Mbah Wahadi.