Brilio.net - Seorang teknisi mesin bernama Eric J Schmitt-Matzen memiliki kemiripan dengan Santa Claus, sosok yang identik dengan Natal. Janggut putihnya membuat dia makin mirip dengan Santa. Eric pun setiap menjelang Natal selalu meluangkan waktunya untuk menjadi Santa Claus profesional.

Sosok Santa Claus adalah sosok seorang bapak yang diidamkan anak-anak. Memiliki hati yang mulia dan suka memberi. Dilansir dari Littlethings, brilio.net Rabu (14/12) mengisahkan sepulang bekerja Eric mendapat panggilan dari seorang suster di sebuah rumah sakit. Sang perawat meminta dirinya untuk bergegas menuju rumah sakit. Perawat menjelaskan bahwa ada seorang anak berusia lima tahun ingin bertemu dengan Santa.

Santa kabulkan permohonan terakhir anak kecil © 2016 facebook

foto: Facebook.com/@eric.schmittmatzen

Tanpa berpikir panjang, Eric segera mengiyakan permohonan sang perawat. Namun Eric meminta waktu untuk berganti kostum terlebih dahulu. Kemudian sang perawat menjawab, "tidak perlu. Kita tidak punya waktu." Eric pun segera bergegas menuju rumah sakit. Lima belas menit kemudian, Eric tiba di rumah sakit. Ia pun menemui sang anak kecil sendirian senbari membawa bingkisan, pemberian ibu si anak.

Loading...

Eric memasuki ruangan dan melihat seorang anak kecil terbaring di kasurnya dengan lemas. Eric pun mendekat kemudian duduk di samping anak kecil tersebut. Eric pun membuka percakapan dengan anak dan tak lupa memberikan bingkisan tersebut. Sang anak tampak lemas dan tak berdaya ketika membuka kertas kado pemberiannya.

Si anak kecil pun mencoba duduk dan memeluk Eric. Ia pun berkata, "Mereka bilang aku akan mati." Mendengar ucapan tersebut Eric pun memeluk anak tersebut. Anak kecil pun meminta padanya, "Santa, dapatkah kamu menolongku?" Belum sempat menjawab, si anak kecil itu menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukannya.

Santa kabulkan permohonan terakhir anak kecil © 2016 facebook

foto: Facebook.com/@eric.schmittmatzen

Keluarga di luar kamar pun menyadari bahwa sang anak telah tiada. Eric pun ikut menitihkan air mata. Ia merasa tidak bisa membantu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kendati demikian, Eric merasa lega karena bisa mengabulkan permohonan terakhir sang anak, yaitu bertemu dengan Santa Claus.

Sepanjang perjalanan pulang, Eris sang Santa menangis. Sembari mengemudikan mobilnya, ia terus menangis tak berhenti. Eric merasa jiwa Santa telah menjelma dalam dirinya. Ia merasa senang ketika menjadi seorang Santa dan melihat anak-anak tersenyum karena kehadirannya. Di sisi lain, ia juga akan sedih ketika melihat anak-anak menangis dan dirundung kesedihan.