Brilio.net - Belakangan ini, pengguna transportasi daring di kota-kota besar, khususnya Jakarta, mengeluhkan fenomena "krisis ojol". Penumpang merasa kesulitan mendapatkan pengemudi, terutama saat jam sibuk (rush hour). Waktu tunggu yang biasanya singkat kini bisa mencapai puluhan menit, memicu perdebatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik sistem aplikasi.
Sudut Pandang Pengemudi: Tekanan Algoritma dan Layanan Hemat
Seorang pengemudi dengan akun silenceawhile di platform Threads mengungkapkan bahwa penyebab utama kelangkaan ini bukan sekadar musim libur, melainkan sistem "algoritma berbayar". Ia menyoroti adanya program di mana driver merasa harus membayar biaya langganan harian agar mendapatkan prioritas orderan.
Krisis ojol Jakarta
foto: Threads/@silenceawhile
Krisis ojol Jakarta
foto: Threads/@silenceawhile
Menurutnya, hal ini menciptakan ketimpangan. Driver reguler seringkali mendapatkan pesanan dengan jarak penjemputan yang sangat jauh, sehingga tidak sebanding dengan tarif yang diterima.
"Driver reguler merasa dianak tirikan," tulisnya.
Ia menambahkan bahwa biaya penjemputan yang jauh dengan pendapatan bersih yang kecil membuat banyak mitra enggan mengambil pesanan tersebut.
Krisis ojol Jakarta
foto: Threads/@silenceawhile
Krisis ojol Jakarta
foto: Threads/@silenceawhile
Kondisi itu diamini oleh seorang pengemudi di Jakarta, mengamini adanya keengganan mengambil layanan tertentu seperti fitur hemat. Tak peduli kondisi hujan, badai, atau yang lain, pengemudi menerima pemasukan yang sama di angka sekitar Rp 10.400 untuk jarak di bawah lima kilometer.
Kendala Teknis: Jarak Jemput dan Potongan Aplikasi
Selain masalah tarif, sistem distribusi pesanan juga dikritik. Seorang pengemudi lainnya menjelaskan bahwa sistem terkadang memberikan pesanan kepada driver yang lokasinya sangat jauh dari titik penjemputan. Hal ini diperparah dengan potongan komisi yang dianggap memberatkan, yakni sekitar 25-30% dalam satu kali order.
Kondisi ini membuat pengemudi lebih selektif. Mereka cenderung memilih pesanan yang secara logika masuk akal untuk dijalankan di tengah kemacetan Jakarta.
Penjelasan Resmi Aplikator: Lonjakan Permintaan dan Faktor Musiman
Menanggapi kegaduhan ini, para petinggi aplikator memberikan keterangan resmi yang memberikan sudut pandang berbeda. Mereka sepakat bahwa lonjakan permintaan yang ekstrem beradu dengan berkurangnya jumlah mitra di lapangan menjadi penyebab utama.
1. Gojek: Lonjakan Jam Sibuk dan Fenomena Mudik
Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan, menjelaskan bahwa telah terjadi perubahan pola mobilitas di mana jam sibuk bergeser lebih awal (pukul 15.30 WIB). Ia mengakui adanya penurunan jumlah driver aktif karena faktor libur hari raya.
“Di sisi lain, pada periode akhir Ramadan, kami memahami bahwa sebagian dari mitra driver Gojek, khususnya yang beroperasi di kota-kota besar, ada yang telah pulang kampung atau mudik dan memilih menghabiskan waktu bersama keluarganya,” kata Bambang dalam keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa faktor cuaca dan genangan air juga memperburuk ketersediaan mitra, sehingga “orderan pelanggan di periode ini seringkali membutuhkan waktu tambahan agar dapat diterima oleh mitra.”
2. Grab: Permintaan Meledak hingga 300%
Grab Indonesia juga mencatatkan angka pertumbuhan permintaan yang luar biasa signifikan selama Ramadan. Director of Mobility, Food, & Logistics Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, menyebutkan permintaan layanan secara umum naik 35%, bahkan layanan hantaran barang melonjak tajam.
“Permintaan GrabExpress meningkat hingga 300 persen menjelang Lebaran, didorong oleh promo Ramadhan di platform e-commerce dan maraknya pengiriman hampers,” ujar Tyas.
Meski jumlah mitra diklaim stabil, Tyas mengakui jam kerja mitra menjadi lebih pendek karena mereka memilih beristirahat untuk berbuka puasa atau menghindari macet sore hari.
3. Shopee: Penurunan Suplai Driver di Jabodetabek
Setali tiga uang, Shopee Indonesia mengakui adanya penurunan ketersediaan mitra pengemudi (fleet supply) secara merata, terutama pada layanan pengiriman cepat. Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita, menyatakan, “Shopee juga mengamati adanya pola penurunan ketersediaan mitra pengemudi (fleet supply) pada minggu-minggu menjelang Idul Fitri. Pola ini terjadi secara merata pada mitra logistik yang menyediakan layanan instant dan same day delivery di platform Shopee, dengan penurunan yang lebih terasa di wilayah Jabodetabek."
Dampak pada Konsumen
Bagi penumpang, kondisi ini sangat merugikan waktu. Seorang penumpang menceritakan pengalamannya harus menunggu hingga 30 menit tanpa kepastian saat memesan layanan reguler. Termasuk netizen amelia_******** di Threads, menyampaikan bahwa “terjawab sudah kenapa belakangan sulit dapat driver, bahkan bbrp kali terlempar atau aplikasi error” saat menimpali akun yang mengaku pengemudi ojol silenceawhile.
Netizen lain septi***** juga mengeluhkan hal serupa, “Kesel bgt hari ini ngecancel 5x pas mau pulang karna driver nya jauh dan yg deket gbs jemput katanya, aneh bgt
Terus kemaren dapet driver ke sekian kali setelah di cancel udh ditungguin jauh2 dan nihil, driver nya di maps tiba di lokasi penjemputan tp org nya gak adaa🙂👍🏻 di call ga angkat, di chat gabales2 tp titik nya tepat di gue tp ga ada org nya gmna tuuhh.”
Fenomena ini menunjukkan adanya celah komunikasi dan ekspektasi antara sistem yang dijalankan aplikator, kesejahteraan mitra pengemudi, dan kebutuhan konsumen yang terus meningkat.
Recommended By Editor
- 9 Potret momen pemakaman Affan Kurniawan yang tewas dilindas mobil brimob, diantar iringan driver ojol
- Cerita driver ojol pilih layani penumpang saat demo, butuh pemasukan
- [KUIS] Ramai customer beri tugas aneh ke ojol, cek apakah kamu berpeluang lakukan hal yang sama?
- 11 Jawaban driver sok asyik ini serasa akrab dengan customernya, diajak serius malah bercanda terus
- Dulu beli singkong untuk makan saja sulit, perjuangan Suparmin tukang ojek naik haji ini bikin salut
- 11 Chat lucu adu pantun driver ojek online pada customer ini endingnya malah digombalin




































