Brilio.net - Belum meredam kabar mengenai wabah virus Corona atau COVID-19, dunia kembali dikejutkan dengan adanya Hantavirus. Kabar ini bermula saat seorang pria di China ditemukan meninggal dunia di bus. Dilansir brilio.net pada Rabu (25/3) dari New York Post, pria tersebut diketahui positif terjangkit Hantavirus setelah dilakukan tes.

Meski berbeda dengan Virus Corona, Hantavirus memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19. Melalui akun Twitter China Global Times, dikabarkan pria asal Yunnan itu tewas saat berada di perjalanan pulang menuju provinsi Shandong pada senin (23/3).

"Dia di tes positif untuk #hantavirus. Sebanyak 32 orang lainnya di dalam bus diuji," begitu ungkapnya.

Kabar mengenai Hantavirus yang mencuat usai virus Corona meredam di China, sempat membuat kepanikan di tengah masyarakat. Bahkan pada (25/3) #Hantavirus masih menjadi trending di Twitter. Mengatasi hal ini, para ahli segera memberikan konfirmasi bahwa Hantavirus bukanlah sebuah virus baru. Virus ini bahkan dikatakan jarang terjadi penularan antarmanusia.

"#Hantavirus pertama kali muncul pada tahun 1950-an dalam perang Amerika-Korea (di sungai Hantan). Virus ini menyebar dari tikus jika manusia menelan cairan tubuh mereka. Penularan antarmanusia jarang terjadi. Tolong jangan panik, kecuali jika anda berencana untuk makan tikus," begitu ungkapan ilmuwan Swedia, Dr Sumaiya Shaikh dalam cuitannya.

Loading...

Pria meninggal karena Hantavirus © 2020 brilio.net

foto: unsplash.com

Hal serupa dikatakan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), mereka mengatakan bahwa Hantavirus memang jarang terjadi, namun memiliki angka kematian 38 persen. Gejala yang timbul dari Hantavirus memiliki kemiripan seperti COVID-19 di antaranya, demam, sakit kepala, batuk  dan sesak napas. Gejala tersebut dapat terjadi hingga delapan minggu.

"Setelah terpapar urin, kotoran, atau air liur dari tikus yang terinfeksi," ujar CDC.

CDC menambahkan, tidak ada pengobatan atau vaksin khusus untuk infeksi Hantavirus, maka dari itu mereka memperingatkan agar masyarakat yang kerap berada di sekitar hewan pengerat agar selalu berhati-hati.

"Karena itu, jika anda telah berada di sekitar hewan pengerat dan memiliki gejala demam, nyeri otot, sesak napas yang parah, segera temui dokter," begitu saran CDC