Brilio.net - Pernah mendengar lelucon: hati-hati jika bertemu wanita cantik di Thailand karena bisa saja yang kamu lihat adalah ladyboy? Lelucon tersebut mungkin ada benarnya mengingat banyaknya pria yang punya tubuh dan gaya seperti perempuan, atau yang biasa disebut ladyboy di Thailand. Kira-kira ada apa dengan Thailand sehingga terkenal dengan ladyboy-nya ya? Sementara di negara-negara sekitarnya tidak sebanyak Thailand.

Ada banyak analisa tentang keberadaan ladyboy di Thailand. Diantaranya berkaitan dengan kategorisasi seks di Thailand, kepercayaan masyarakat, industri perfilman, dan juga hukum legal formal yang mengatur keberadaan ladyboy.

Di Thailand, kategori seks dan gender berbeda dengan kategorisasi di banyak negara, seperti Indonesia salah satunya. Di Indonesia, penggolongan gender hanya diakui dua yakni laki-laki dan perempuan. Sedang di Thailand ada tiga kategori gender yaitu Phu-Chai (laki-laki), Phu-Ying (wanita) dan Kathoey (tengah-tengah).

Ladyboy sendiri masuk dalam kategori kathoey. Menurut Jackson dan Sullivan dalam tulisannya berjudul From the Iron to the Lady: The Kathoey Phenomenon in Thai Cinema yang diterbitkan Universitas Seville Spanyol, kathoy merujuk pada homoseksual, biseksual, lesbian, dan istilah lain yang merujuk pada homoseksualitas. Istilah ini digunakan untuk menamai identitas gender dan seks ketiga, setelah laki-laki dan perempuan.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

ladyboy di thailand © istimewa-Para ladyboy di Thailand/foto: istimewa

Keberadaan kathoey ini diakui karena menurut penelitin Peter Jackson dalam bukunya berjudul A Panoply of Roles: Sexual and Gender Diversity in Contemporary Thailand (1999). Dalam sejarah Thailand tidak ada perbedaan perlakuan antara mereka yang transgender dan mereka yang beridentitas wanita maupun laki-laki. Istilah transgender dan gay baru terkenal di Thailand awal tahun 2000. Dengan kenyataan ini dapat dipahami bahwa sudah sejak lama masyarakat Thailand telah mengenal dan memahami keberadaan kathoey atau ladyboy.

Keberadaan kathoey yang sudah lama dikenali masyarakat Thailand juga tak lepas dari kenyataan mengenai agama yang dianut mayoritas masyarakat Thailand yakni Buddha. Ajaran ini mempercayai Tripitaka sebagai kitab suci. Salah satu bagian tripitaka ialah Vinaya Pitaka, yakni sebuah kitab yang berisi aturan-aturan menjalani kehidupan sebagai penganut Buddha. Salah satu teks yang ditulis dalam Vinaya Pitaka ialah aturan mengenai seks dan gender.

Dalam teks Vinaya Pitaka, gender dibagi menjadi empat yakni laki-laki, perempuan, hemafrodit (interseks) dan homosexual atau kathoey. Dalam ajaran Buddha, kathoey dianggap sebagai karma. Mereka para kathoey dianggap reinkarnasi dari manusia yang pernah melakukan dosa besar. Maka dari itu, semua orang menurut ajaran Buddha dianjurkan lebih toleran kepada kathoey. Bahkan seorang kathoey menurut ajaran Buddha diperbolehkan menjadi biarawan untuk menebus dosanya. Aturan-aturan ini membuat agama Buddha terkesan toleran terhadap ladyboy atau kathoey.

Meski ajaran Buddha mengatur ketentuan untuk kathoey, beberapa masyarakat dan lingkungan sosial tidak serta merta menerima begitu saja keberadaan kathoey. Kathoey di Thailand tidak benar-benar bebas. Mereka masih susah untuk mendeklarasikan dirinya sebagai penyuka sesama jenis.

Menurut Megan Sinnot dalam buku Masculinity and Tom Identity in Thailand, stereotip masyarakatlah yang menjadi alasan para homoseksual hanya terbuka mengenai identitasnya dalam lingkungan kecil. Namun kini sebagian masyarakat mulai menerima keberadaan ladyboy atau kathoey.

Keterbukaan mengenai kathoey atau ladyboy di Thailand semakin kuat setelah maraknya film yang mengangkat kehidupan kathoey di Thailand. Menurut Patsorn Sungsri, keberadaan film thailand dengan genre mengangkat gay atau kathoey tidak hanya mempromosikan sejarah gay di masyarakat Thailand, namun juga sebagai upaya mengkomunikasikan martabat kathoey atau gay sebagai manusia pada umumnya.

Keberadaan film dengan genre gay dan mengangkat kisah ladyboy atau kathoey diawali dengan munculnya film The Iron Ladies pada tahun 2000. Film ini merupakan film pertama bergenre gay di Thailand. Setelah muncul film ini, film lain bergenre gay dan mengangkat kisah kathoey semakin bermunculan. Film-film tersebut antara lain Love of Siam, Bangkok Love Story, Queen of Bangkok, Metrosexual, dan banyak film lainnya. Mayoritas film bergenre gay menggambarkan para kathoey atau ladyoy sebagai lelucon, namun di waktu yang sama juga mengirimkan pesan untuk memahami dan menrima keberadaan para kathoey.

Melalui film-film tersebut, dapat dilihat fakta bahwa ternyata para ladyboy ini adalah mereka yang tinggal di daerah urban, yang penuh kesibukan dan cukup longgar dalam hal aturan atau norma. Sedangkan untuk daerah rural atau desa keberadaan kathoey sedikit ditutupi. Apabila di dalam sebuah keluarga terdapat seorang kathoey atau ladyboy, maka orang tua akan menyembunyikan identitas tersebut selagi bisa.

Uniknya, meski terkesan ada kebebasan bagi ladyboy, ternyata regulasi di sana kurang ramah terhadap keberadaan ladyboy. Laporan yang disusun UNDP (United Nations Development Programme) dan USAID (United States Agency for International Development) dengan menjelaskan beberapa undang-undang di Thailand yang kurang ramah terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender).

Aturan itu diantaranya, menetapkan pernikahan yang sah hanya untuk laki-laki dan wanita. Kenyataan ini membuat beberapa komunitas gay protes. Peraturan lain adalah wajib militer. Kathoey atau ladyboy di Thailand tetap masuk daftar wajib militer. Mereka hanya bisa gugur ketika cek kesehatan tidak memungkinkan. Gugurnya mereka dalam kualifikasi wajib militer karena secara formal mereka dianggap mengidap "Permanent Mental Disorder". Istilah tersebut kini diganti menjadi "Gender Identity Disorder".

Banyak aturan lain yang dianggap mendiskriminasi ladyboy di Thailand. Dianranya para transgender tidak bisa mengubah identitasnya secara administratif, homoseksual tidak dianggap penyakit mental oleh menteri kesehatan dan transeksual dianggap kelainan patologis. Usulan untuk memasukan identitas seksual dalam klausa antidiskriminasi pada tahun 2007 juga ditolak.

Nah meskipun faktor kenyataan sosial-budaya memberi toleransi bagi kathoey atau ladyboy di Thailand, ternyata regulasi di sana tetap banyak membatasi ruang gerak ladyboy.

(brl/nng)