Brilio.net - Tsunami yang meluluhlantakkan daerah di sekitar Selat Sunda di Indonesia, menewaskan sedikitnya 281 orang, 843 orang terluka, dan 28 orang masih hilang. Gelombang air menyerang dengan cepat dan tanpa peringatan pada hari Sabtu (22/12) malam hari.

Kurang lebih lima pantai di sekitar Pandeglang terkena tsunami. Pantai tersebut antara lain Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang dan Pantai Carita.

Kebanyakan tsunami biasanya mempunyai tanda-tanda seismik yang bisa dijadikan sebagai peringatan. Menurut ahli kasus yang terjadi pada tsunami kemarin Sabtu terjadi karena rentetan berbagai kejadian. Tsunami yang terjadi antara pulau Jawa dan Sumatra disebabkan Anak Krakatau, gunung berapi aktif yang telah meletus sejak Juni lalu.

Ini kata pakar soal penyebab gempa 6,4 SR di Bengkulu © 2017 brilio.net

foto: Twitter/@SAR_NASIONAL

Loading...

Dua teori telah muncul mengenai erupsi letusan anak Krakatau yang menyebabkan tsunami terjadi. Entah karena tanah longsor di bawah air atau semburan lava cair. Para ahli mengatakan kemungkinan besar gelombang itu dipicu oleh tanah longsor.

"Ini bukan tsunami biasa. Ini adalah tsunami vulkanik. Tinggi gelombang tidak mencapai level yang bisa memicu peringatan. Jadi dari perspektif ini, pusat peringatan Tsunami sebenarnya tidak ada gunanya," kata Costas Synolakis, Direktur Pusat Penelitian Tsunami Universitas California Selatan dikutip dari NBC News, Senin (24/12). Dilihat dari kedekatan antara anak Krakatau dengan bibir pantai, tsunami Sabtu kemarin kemungkinan terjadi 20 hingga 30 menit setelah semacam aktivitas vulkanik, menurut Synolakis.

Ini bukan pertama kalinya Anak Krakatau menyebabkan kerusakan di Indonesia, menurut Synolakis. Pada tahun 1883, gunung berapi itu menghancurkan wilayah yang sama selama masa aktivitas gunung berapi. "Kejadian itu tidak diharapkan, tetapi tidak ada yang bisa menduga apabila akan terjadi letusan yang dapat menciptakan longsoran dengan cara yang sama seperti yang dipicu 175 tahun yang lalu," katanya.

"Gunung berapi itu mirip dengan makhluk hidup, selalu bergerak dan tak pernah stabil," ujar Emile Okal, seorang profesor di Universitas Northwestern yang sudah mempelajari tsunami selama 35 tahun. "Nantinya pasti akan ada longsor, Jika terjadi di bawah laut, pasti akan menjadi sebuah gelombang," lanjut Okal

Menurut Okal apabila Indonesia ingin mendeteksi tsunami dengan benar, Indonesia perlu menghabiskan sekitar USD 1 miliar atau setara dengan Rp 14 triliun. Untuk sebuah teknologi dan tenaga sepanjang waktu di sepanjang pesisirnya.

Tetapi fakta bahwa tsunami disebabkan oleh gunung berapi dan bukan gempa bumi bukan satu-satunya alasan. Sebab selain itu juga karena adanya bulan purnama air pasang. "Sangat buruk bahwa bencana ini terjadi pada malam hari. Tampaknya, aktivitas gunung berapi ditambah dengan saat air pasang. Bahayanya akan meningkat," kata Okal.

"Jika Anda berada di pantai, di mana Anda tinggal, nikmatilah pantai. Tetapi jika anda melihat sesuatu yang aneh, misalnya adanya gertaran gempa atau segala sesuatu yang aneh lainnya, segeralah lari," kata Okal.

Salah satu korban bencana ini adalah band Seventeen. Pada saat tsunami datang, gelombang air menyapu penonton yang menyaksikan band pop Indonesia Seventeen di pantai Carita.

"Bukan ide yang baik untuk mengadakan konser rock di pantai di sekitar gunung berapi yang meletus," kata Okal. Itu adalah komentar yang mudah dibuat setelah kejadian, namun alasan itu juga merupakan sesuatu yang sesuai dengan akal sehat.

Gegar Prasetya, salah satu pendiri Pusat Penelitian Tsunami Indonesia, mengatakan meskipun wilayah mengalami kehancuran, bencana ini jauh lebih kecil dibandingkan bencana sebelumnya. Sebab pada bulan September lalu, lebih dari 2.500 orang tewas karena gempa dan tsunami yang melanda Kota Palu di Sulawesi.

"Sebenarnya, tsunami kali ini tidak terlalu besar, hanya satu meter. Masalahnya adalah orang selalu cenderung membangun segalanya dekat dengan garis pantai," kata Prasetya, pengamat Anak Krakatau.