Brilio.net - Lupa atau pikun adalah penurunan daya ingat seseorang yang biasanya disebabkan oleh semakin bertambahnya usia seseorang itu. Namun zaman sekarang, sifat pelupa tak hanya dirasakan oleh orang lanjut usia saja. Anak muda juga bisa memiliki sifat pelupa.

Sering kali kita lupa keberadaan suatu barang, lupa membawa sesuatu saat bepergian, atau lupa akan hal lainnya. Kalau sudah seperti itu, pasti akan membuat diri menjadi jengkel. Apalagi jika yang dilupakan adalah hal yang sangat penting.

Meski lupa adalah hal wajar yang dialami setiap manusia, namun lupa juga akan membawa dampak buruk apabila dirasakan terus menerus. Dilansir brilio.net dari berbagai sumber pada Selasa (16/6), sifat pelupa dapat diatasi dengan cara melatih daya ingat serta meminta pertolongan kepada Allah melalui suatu doa.

Sebagai manusia biasa, setiap orang tentunya pernah mengalami lupa. Lupa adalah hal yang fitrah pada manusia, bahkan Allah juga telah menyebut hal ini dalam Alquran surat Thaha ayat 115.

Wa laqad 'ahidnaa ilaa aadama ming qablu fa nasiya wa lam najid lahu 'azmaa

Artinya:
"Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat."

Karena menjadi fitrah manusia, lupa tidak menjadi sebuah dosa karena merupakan sifat yang melekat pada manusia seperti firman Allah dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 286.

Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, rabbanaa laa tu'aakhiznaa in nasiinaa au akhta'naa, rabbanaa wa laa tahmil 'alaina israng kamaa hamaltahu 'alallaziina ming qablinaa, rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa taaqata lanaa bih, wa'fu 'annaa, wagfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fansurnaa 'alal-qaumil-kaafiriin

Artinya:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

Sifat lupa sebenarnya bisa dihindari dengan rutin melatih otak dengan segala metode. Misalnya seseorang bisa mulai melatih kemampuan mengingat dengan membaca buku.

Namun sebagai umat muslim, ada amalan untuk menghindari sifat lupa dengan berzikir dan membaca Alquran. Dengan mengulang-ulang nama Allah maka Ia akan menguatkan ingatan hambaNya. Berikut beberapa doanya:

Loading...
2 dari 3 halaman



Doa agar terhindar dari lupa

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah didatangi seorang pria yang pelupa. Kepada Rasulullah, pria itu meminta diajarkan sesuatu agar tidak lagi pelupa. Rasulullah kemudian mengajarkan sebuah doa kepada pria itu. Begini doanya:

Allahumma ij'al nafsii muthmainnatan, tu'minu bi liqaaika wa tardla bi qadlaaika

Artinya:
"Ya Allah, jadikan jiwa kami menjadi tenang, beriman akan adanya pertemuan dengan-Mu, dan rela atas garis yang Engkau tentukan."

Selain doa tersebut, seorang muslim juga dapat membaca doa sebagai berikut agar terhindar dari lupa.

Allahumma inni a'udzubika minal jubni wa a'udzubika an uradda ila ardzalil umuri wa a'udzubika min fitnatid dunya wa a'udzubika min adzabil qabri

Artinya:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, dan aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur."

3 dari 3 halaman



Cara menghindarkan diri dari sifat lupa


1. Meningkatkan keimanan dengan sholat.
Melaksanakan sholat fardhu maupun  sholat sunnat akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan fisik dan mental, salah satunya adalah meningkatkan kinerja otak.

2. Istirahat yang cukup
Tubuh yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari tentunya membutuhkan istirahat yang cukup agar dapat beraktivitas kembali dengan baik, begitu pula dengan otak.

Tidur yang kurang atau tidak berkualitas akan menyebabkan seseorang mudah lupa, begitu pula dengan orang yang sering begadang. Maka dari itu, istirahatlah dengan cukup, dan jangan begadang.

3. Perbanyak bersyukur
Dengan memperbanyak bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Ia berikan dalam hidup dapat memperkuat ingatan kita. Dengan bersyukur, seseorang otomatis akan selalu mengingat kekuasaan Allah. Seperti firman Allah dalam Alquran surat Az Zumar ayat 8.

Wa izaa massal-insaana durrun da'aa rabbahu muniiban ilaihi summa izaa khawwalahu ni'matam min hu nasiya maa kaana yad'uu ilaihi ming qablu wa ja'ala lillaahi andaadal liyudilla 'an sabiilih, qul tamatta' bikufrika qaliilan innaka min as-haabin-naar

Artinya:
"Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka."

4. Perbanyak dzikir
Ada banyak keutamaan berdzikir yang salah satunya adalah membuat otak seseorang menjadi lebih kuat dalam mengingat sesuatu. Hal ini karena adanya pengulangan yang dilakukan secara rutin dan berulang-ulang sehingga sel-sel saraf otak lebih aktif. Seperti firman Allah dalam surat Al Ahzaab ayat 41 untuk memperbanyak dzikir kepadaNya.

Yaa ayyuhallaziina aamanuzkurullaaha zikrang kasiiraa

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya."

5. Hindari perbuatan maksiat
Imam Syafi'i pernah berkata:
"Aku pernah mengadukan kepada Waki’ (guru) tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat." (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Sebab mengerjakan dosa besar dalam Islam akan membuat seseorang menjadi mudah lupa dan lalai.