1. BRILIO.NET
  2. »
  3. Serem
Septika Shidqiyyah 21 Desember 2016 05:05

Seramnya potret anak meninggal zaman dulu, seperti masih hidup

Ini merupakan kebiasaan yang ada di masyarakat Amerika dan Eropa.

Brilio.net - Ada banyak cara berbeda yang dilakukan orang untuk mengingat orang yang dicintainya yang telah meninggal. Namun, menata jasadnya untuk sebuah pemotretan mungkin tidak terpikirkan oleh sebagian dari kita.

Tak banyak yang tahu bahwa kebiasaan tersebut pernah ada pada abad ke-19. Itu merupakan kebudayaan masyarakat di Amerika dan Eropa. Tradisi ini disebut post mortem fotografi atau potret peringatan atau potret berkabung adalah praktik memotret orang yang baru saja meninggal.



Fotografer sengaja didatangkan oleh keluarga yang berduka. Foto postmortem tidak hanya membantu dalam berduka, tetapi sering merupakan satu-satunya kenangan visual dari orang yang meninggal dan di antara harta yang paling berharga sebuah keluarga.

Pada masa tersebut angka kematian anak tergolong tinggi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Wabah difteri, tifus, dan kolera jadi penyebab kematian anak-anak kala itu, seperti dikutip brilio.net dari metro.co.uk, Rabu (21/12).



Baru-baru ini The Thanatos Archive mengeluarkan koleksi arsip Foto postmortem. Sebagian besar objek dari koleksi foto tersebut adalah jasad anak-anak. Dalam banyak foto, orang tua terlihat memeluk tubuh anak-anak mereka yang telah meninggal seolah-olah mereka sedang tidur.

Sedangkan yang lainnya terlihat seorang anak  muda berbaring di tempat tidur seolah-olah mereka sedang tidur.



Pada beberapa foto terlihat beberapa hal yang meresahkan, fotografer telah membuat mata anak itu terbuka untuk memberikan ilusi bahwa mereka masih hidup.

Beberapa yang lain ada juga yang menggunakan cat untuk menggambar mata di jasad sang anak.



Seiring dengan perkembangan zaman praktik ini pun sudah tidak dilakukan dan melarang para orangtua untuk melakukan pemotretan dengan jasad anaknya.

(brl/ani)

Cewek Nggak Boleh Makan Chicken Wings?
Benarkah

WHAT DO YOU THINK

MORE STORIES


Show More Stories
TOP

Would you like to switch to the English Version?