Brilio.net - Rabiah al Adawiyah atau yang dikenal juga dengan Rabiah Basri adalah seorang sufi wanita yang terkenal karena kesucian dan kecintaannya terhadap Allah. Ia dilahirkan tahun 713 M sebagai putri keempat dalam keluarga miskin di Basrah, Irak.

Kelahirannya diliputi berbagai macam cerita aneh. Dikisahkan dalam buku Seratus Muslim Terkemuka karya Jamil Ahmad, pada malam ketika ia lahir, di rumahnya tidak ada apa-apa. Minyak untuk menyalakan lampu pun tak ada, begitu juga tak ditemui sepotong kain untuk membungkus bayi yang baru dilahirkan itu. Ibunya meminta sang ayah sepaya meminjam minyak dari tetangga. Tapi ayahnya ragu karena ia sudah berjanji kepada Allah untuk tidak meminta tolong kepada sesamanya.

Akhirnya ia terpaksa pergi ke rumah tetangganya untuk meminjam minyak. Tapi saat ia menegetuk pintu, tak ada jawaban yang muncul dari dalam rumah. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada Allah karena tak perlu mengingkari janji yang sudah ia buat. Saat ia tidur malam, ia bermimpi Nabi Muhammad SAW memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.

Rabiah tumbuh sebatang kara. Kedua orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Saudara-saudaranya juga meninggal terkena wabah kelaparan yang melanda Basrah saat itu. Ia jatuh ke tangan orang kejam yang menjualnya sebagai budak dengan harga murah.

Rabiah kecil menghabiskan waktu siangnya dengan melaksanakan segala perintah majikannya. Malam hari ia lalui dengan berdoa. Hingga pada suatu malam majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabiah saat ia berdoa. "Ya Robbi, Engkau telah membuatku menjadi budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya. Seandainya aku bebas, pasti aku akan persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepada-Mu," kata Rabiah.

Loading...

Saat itu pula majikannya melihat ada cahaya di dekat kepala Rabiah. Melihat hal itu, majikannya sangat ketakutan. Esok harinya Rabiah dimerdekakan oleh majikannya.

Setelah merdeka, Rabiah pergi ke tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi. Ia hidup di sebuah gubuk kecil dekat Basrah. Ia habiskan waktunya di tempat itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hidupnya sangat jauh dari kesan mewah. Harta yang dipunyainya hanyalah tikar butut, kendil dari tanah, dan sebuah batu bata. Rabiah diperkirakan meninggal dalam usia 83 tahun pada tahun 801 Masehi/185 Hijriah dan dimakamkan di Basrah, Irak.

BACA JUGA:

Kisah Asmai kalahkan ratusan penyair berkat syair burung bulbul

Kisah kesederhanaan wali kota di tengah penduduknya yang pemberontak

Kisah keharmonisan antar umat beragama di zaman Rasulullah

Kisah Nabi Zakaria tak henti-hentinya berdoa akhirnya dikaruniai anak

Kisah Wali Sanga, alat musik tradisional bikin orang masuk Islam

Kisah perpindahan agama seorang panglima di tengah tengah perang

Kisah Perang Hunayn, kemenangan kaum muslim yang sempat tercerai berai