Brilio.net - Menginjakkan kaki di kampung ini, kamu akan disuguhkan pemandangan yang menyejukkan. Sayuran hijau ada di sepanjang jalan. Jalannya pun bersih, tak ada sampah berserakan. Maklum saja, Kampung Pilahan RW 12 Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta sejak dua tahun lalu dideklarasikan sebagai kampung wisata hortikultura. Kampung ini juga sering disebut sebagai Kampung Sayur. Belakangan, kampung ini memposisikan dirinya sebagai Kampung Agro Edukasi.

Dari sayuran, kampung ini jadi tujuan wisata agro edukasi

Ketua RW 12, Agus Budi Santoso bercerita bahwa kebanyakan warga RW 12 dulunya merupakan petani. Saat lahan masih luas, mereka tak menemui kesulitan untuk bercocok tanam, tapi ketika lahan bertani di kota semakin sempit, keinginan bertani sulit direalisasikan. "Karena semangat untuk bertani masih ada, akhirnya muncul ide untuk menanam dengan media polybag. Tanaman yang dipilih pun tanaman yang mudah, yaitu sayuran," kata Agus kepada brilio.net, Selasa (12/5).

Agus mengungkapkan bahwa dipilihnya sayuran karena selain mudah ditanam, sayuran dianggap tanaman yang mudah ditanam, cepat tumbuhnya, murah dan sering digunakan. Konsep yang diusung sangat simpel, jika mereka butuh sayuran untuk memasak, mereka tinggal mengambil di halaman rumah.

Dari sayuran, kampung ini jadi tujuan wisata agro edukasi

Loading...

Lantaran mereka hanya menanam di halaman rumah masing-masing, mereka tak menggenjot jumlah produksi karena pasti akan kalah dengan para petani yang punya lahan besar. Meski begitu, terkadang ada juga pengepul yang mau mendatangi rumah per rumah mengumpulkan hasil pertanian yang ada untuk dibeli. "Kadang juga ada warung makanan atau tukang sayur yang membeli sayuran dari warga kami," terang alumni Teknik Kimia UGM ini.

Berjalannya waktu mereka berinisiatif menjadikan kampung tersebut menjadi kampung wisata agro edukasi. Kampung tersebut dijadikan laboratorium alam bagi anak-anak TK maupun SD untuk belajar tentang pertanian.

Agus menuturkan bahwa dalam sebulan bisa ada sekitar tiga hingga empat rombongan yang belajar menanam sayur di kampung tersebut. Pengunjung yang datang akan dikenalkan dengan jenis-jenis sayuran, diajari teknik penanaman, perawatan hingga pemanenannya.

Masalah pun ternyata tak terselesaikan dengan menjadikan kampung tersebut sebagai kampung wisata agro edukasi. Terkadang bisa jadi hasil produksi para warga menumpuk, sementara untuk kebutuhan sehari-hari berlebihan. Akhirnya muncullah inisiatif untuk mengolah sayuran yang ada menjadi makanan ringan. Mereka memilih menjadikan daun-daun sayuran yang ada menjadi keripik. Produksi keripik itu pun masih berjalan hingga kini. Permintaan akan keripik produksi kampung sayur itu pun terus berdatangan. Total ada sekitar 30 jenis dedaunan sayur yang dijadikan keripik.