Brilio.net - Superman is Dead (SID) band punk rock asal Bali mengaku semakin 'ditekan' oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, karena terang-terangan masih mendukung gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR). Hal yang ditakutkan trio punk rocker asal Kuta itu benar-benar terjadi pada konsernya di Badung, Sabtu 20 Agustus 2016.

BACA JUGA: Gara-gara #BaliTolakReklamasi, SID mengaku siap sepi job manggung

Dikutip brilio.net dari akun Facebook SID, Minggu (21/8), berikut isi 'curhatan' mereka soal konsernya yang mulai diboikot tersebut.

"Belum pernah ada konser di SMA di Bali yang tensinya sepanas semalam. Intel, aparat, dan tentara memenuhi venue, memastikan tak ada satupun band/penonton yang menyuarakan/memakai atribut BTR. Serasa hidup di era Orde Baru dimana kebebasan berekspresi benar dikekang dan pembodohan dikekalkan.

Di pintu masuk, aparat memeriksa semua penonton untuk memastikan tidak ada yang membawa atribut BTR. Yang ketahuan membawa, tidak diijinkan masuk. Panitia acara yang notabene anak-anak SMA 'ditekan' sedemikian rupa hingga merekapun tak punya pilihan lain selain mengikuti 'instruksi' dari pembina. Kami tak bisa menyalahkan mereka.

Loading...

Bahkan pihak aparat yang bernegosiasi dengan kami pun secara tersirat menyatakan simpatinya terhadap SID namun apa daya ia hanya 'menjalankan perintah'. Dan lucunya perintah itu datangnya bukan dari pimpinan yang bermarkas di Denpasar saja, melainkan langsung dari Jakarta.

Ironis sekali bukan? Tugas aparat hari ini adalah mengawasi konser untuk mengawal kepentingan pemodal. Profesi musisi dan kegiatan konser seakan menjadi hal-hal yg melawan hukum. Makin nyata terasa jika hukum hanya dibuat untuk melindungi setan kapital.

SID diboikot © 2016 brilio.net

Foto ini diambil semalam, saat kami berusaha 'melawan' pembungkaman tersebut. Meski hanya sebuah kaos dan hanya bertahan dua lagu sebelum aparat memaksa kaos tersebut dilepas, tapi bagi kami hal ini penting. Sebagai peringatan kepada penguasa bahwa perlawanan ini tidak akan pernah mati.

Semakin kami ditekan semakin kami melawan. Kami tidak takut. Seperti kata Wiji Thukul: "Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan" - Jadi hanya ada satu kata: LAWAN!

#‎SayaTolakReklamasi #‎LawanKriminalisasiAktivisForBALI

Foto oleh Guswib"