Brilio.net - Di Amerika Serikat, 59% anak muda yang aktif sebagai pengguna media sosial ternyata didiagnosa menderita kelainan psikologis. Kelainan tersebut dapat berupa rasa sedih mendalam, stres, hingga depresi.

Makin banyaknya anak muda yang depresi sulit untuk dibendung karena perkembangan teknologi informasi begitu sangat cepat. Sampai-sampai muncul generasi baru yang disebut dengan Generasi Z, yakni generasi yang merujuk pada anak-anak yang lahir di masa perkembangan internet.

Menurut catatan Common Sense Media, 93% anak muda usai 12-17 tahun di Amerika menggunakan media sosial. Dengan angka yang cukup besar tersebut, bisa diasumsikan bahwa anak muda kini punya dua dunia yakni maya dan nyata. Namun ternyata di dunia maya menyimpan bahaya bagi kesehatan mental.

Di Indonesia sendiri, pengguna internet cukup banyak. Sesuai survei APJII pada tahun 2016, sebanyak 132,7 juta orang tersambung ke internet. Pengguna usia 25-34 tahun sebanyak 32,3 juta orang. Sedang usia 35-44 tahun mencapai 38,7 juta. Jumlah pengguna internet akan terus naik.

depresi © merdeka.com

Loading...

Zimbardo (2017) menjelaskan bahwa pengguna media sosial akan cenderung menjadi individualis. Hal itu dipicu kebiasaan berhadapan dengan internet. Mereka lebih suka berinteraksi di balik layar gawai masing-masing, sehingga ketika bertemu secara fisik mereka tetap disibukkan dengan internet masing-masing. Sikap ini akan membuat seseorang cenderung tertutup sehingga memberi celah untuk memikirkan banyak hal serta menyimpan masalahnya sendiri. Ujung-ujungnya, tingkat stres mereka sangat tinggi. Meski tidak bisa dipungkiri pada sisi lain, media sosial juga dapat memudahkan kerja mereka sehari-hari.

Efek lain dari media sosial adalah dapat membuat anak muda jauh dari kegiatan luar rumah. Padahal interaksi seseorang dengan lingkuan sekitar amat penting untuk meningkatkan kebahagiaan. Merujuk pada analisis Orions dan Heerwagen (1992), bahwa sejatinya setiap orang punya kecintaan alami dengan lingkungan tempat tinggal. Kecintaan alami ini yang meningkatkan kebahagiaan. Sehingga, saat mereka semakin terkungkung di dunia maya, maka kesempatan mencintai dan mendapat afeksi dari alam sekitar akan berkurang, maka kebahagiaan juga berkurang.

Menurut ahli psikologi Gleen Geher, penggunaan media sosial dapat membuat seseorang melawan dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan di media sosial anak muda dapat menyerap banyak informasi. Informasi itu ada yang baik, yakni meningkatkan pengetahuan, namun juga ada yang menambah kecemasan. Perlawanan terhadap diri sendiri merupakan sesuatu yang buruk karena apabila tidak berdamai dengan diri sendiri, maka dengan mudah anak muda terserang depresi.

depresi © merdeka.com

Fenomena Cyberbullying

Akibat terburuk internet untuk anak muda ialah fenomena cyberbullying. Korban cyberbullying akan sering dilanda depresi karena merasa diperlakukan tidak manusiawi. Penelitian yang dilakukan Flourensia Scepty, mengungkap fakta bahwa 28% anak muda di Indonesia mengalami cyberbullying. Korban cyberbullying dapat mengalami depresi lebih tinggi dari gejala depresi lain yang ditimbulkan internet. Penelitian Hinduja dan Patchin (2010), bahkan mengungkap fakta bahwa 20% korban bullying di Amerika Serikat pernah berpikir untuk bunuh diri.

Nah, betapa media sosial memang mampu menawarkan berbagai kemudahan, tapi juga menghadirkan ancaman depresi bagi anak muda. Lalu bagaimana kita bisa mengatasi depresi tersebut?

1. Menjalin hubungan sosial yang berkualitas.

Ryff dan Keyes (1995), menyebut salah satu cara menghindari depresi akibat media sosial adalah dengan menjalin hubungan sosial yang berkualitas. Hubungan ini dapat berupa kedekatan dengan orang-orang yang dapat memberi rasa nyaman. Sebagai contoh, komunikasi intens dengan orang tua amatlah penting untuk menciptakan hubungan yang berkualitas. Mempunyai teman dekat yang bisa diajak berdiskusi dan berbagi juga merupakan bentuk hubungan yang berkualitas.

2. Diskusi dengan orang-orang sekitar.

Michelson (2013) memberi cara lain untuk mengatasi depresi. Pertama meningkatkan diskusi dengan orang sekitar. Aktivitas diskusi dengan bahan obrolan yang menyenangkan akan meningkatkan kebahagiaan. Selain itu kegiatan berdiskusi sejenak menghindarkan kita dengan riuh dunia maya.

Dalam aktivitas diskusi, kita dapat melatih keterampilan sosial. Keterampilan ini mampu memicu kita untuk pandai mengolah rasa. Salah satu cara mengolah keterampilan sosial ialah memberikan pujian kepada teman, dan juga menjadi pendengar yang baik. Selain itu dalam berdikusi, baik di dunia maya dan dunia nyata, kita baiknya berbagi informasi sewajarnya.

3. Keterampilan sosial.

Apabila sudah memiliki keterampilan sosial, maka anak muda akan dengan mudah mengatasi kekacauan dan problem di dunia maya. Hal ini seperti pernyataan Cardak (2013), bahwa individu pengguna internet yang mempunyai keterampilan sosial tinggi tetap dapat merasakan kenyaman sosial dan terbebas dari rasa kesepian.

4. Batasi penggunaan media sosial.

Jika anak muda terlanjur menjadi korban cyberbullying hingga depresi maka upaya penanganan membutuhkan campur tangan beberapa pihak.

Menurut peneliti Margaret Anne Carter (2012), korban cyberbullying baiknya mengurangi pemakaian media sosial dan meng-upgrade sistem keamanan pada media sosial yang digunakan. Selain itu perlu sedikit bersikap acuh terhadap bully yang dilontarkan. Margaret menyatakan semakin seseorang menanggapi bully, maka bully tersebut semakin memanas.

Dalam upaya menghindari depresi, Margaret mengimbau orang-orang di sekitar korban bullying untuk memberikan dukungan pada korban. Selain itu bisa juga melaporkan akun yang melakukan kegiatan bullying kepada sistem yang bertanggung jawab pada media sosial tersebut.

Nah, "hidup" di dunia media sosial memeang tak bisa dihindari pada zaman sekarang. Namun perlu mengatur aktivitas di media sosial dan frekuensi penggunaan internet agar terhindar dari depresi. Kita perlu menjadi generasi cerdas di era sekarang.