Brilio.net - Hari Kesehatan Mental Sedunia baru saja diperingati pada 10 Oktober 2016 lalu. Peringatan ini memberi semangat untuk mengampanyekan kesadaran terhadap kesehatan mental di kalangan masyarakat Indonesia.

Seperti diketahui, permasalahan gangguan kesehatan mental atau jiwa atau psikologis, masih dianggap tabu oleh banyak masyarakat Indonesia. Saat ada kasus gangguan mental, masyarakat belum sepenuhnya tahu tentang tindakan yang harus diambil.

Anggapan gangguan mental, yang dalam bahasa awam, langsung dipukul rata berarti gila, seakan masih menjadi momok tersendiri. Padahal, gangguan mental itu terdiri dari banyak jenis. Gejalanya pun beda-beda.

Bahkan untuk satu nama gangguan mental, setiap individu yang mengalami akan memiliki gejalanya sendiri-sendiri alias berbeda antara satu orang dengan orang lain.

Adanya kampanye kesadaran kesehatan mental memberanikan orang untuk nyaman terbuka mengonsultasikan permasalahan psikologis yang dimiliki, supaya nggak menjadi 'bom waktu'.

Loading...

Nah, kampanye kesadaran kesehatan mental ini bisa dalam berbagai bentuk. Salah satunya dengan berkarya. Seperti yang dilakukan para musisi berikut ini.

Mereka menjadikan tema gangguan psikologis sebagai inspirasi pembuatan lagu mereka, baik itu bermaksud implisit seperti yang dilakukan Bellamy (Muse) atau eksplisit seperti Demi Lovato lakukan.

Dirangkum brilio.net dari berbagai sumber, Rabu (12/10), berikut ada 10 musisi yang ikut menyampaikan pesan tentang gambaran gangguan mental:

1. Demi Lovato - Warrior.

Lagu Warrior milik penyanyi 24 tahun ini mengisahkan tentang perjuangannya sebagai survivor gangguan makan dan bipolar. Demi ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia kuat, begitu pun orang-orang yang mengalami hal sama dengan dirinya, sekalipun memiliki gangguan psikologis.

2. Muse - Megalomania.

Megalomania adalah gangguan mental yang ditandai dengan keyakinan terhadap diri sendiri sebagai sosok yang hebat, selalu benar, dan nggak tertandingi.

Muse, dalam hal ini sang vokalis Matthew Bellamy, membuat lagu ini untuk menyindir Tuhan yang menurutnya sosok megalomaniac. Hal ini nggak mengherankan karena Bellamy disebut-sebut sebagai seorang atheis.

3. Green Day - Wake Me Up When September Ends.

Lagu ini dibuat oleh Armstrong, sang vokalis, mengingat pengalaman pahit hidupnya saat ayahnya meninggal akibat kanker pada 1 September 1982. Karena kejadian ini dia mengurung diri di kamar, sampai sang ibu memanggilnya dan dia berkata, "Wake me up when September ends". Saat itu, Armstrong masih berusia 10 tahun.

Walaupun video musik ini menggambarkan sepasang kekasih yang terpisah jarak, di mana sang cowok pergi berperang, menunjukkan bahwa ada ketakutan kalau-kalau mengalami kehilangan. Kehilangan inilah yang bisa menimbulkan guncangan psikologis tersendiri bagi orang yang mengalami, sama halnya dengan yang benar-benar dialami Armstrong kecil.

4. Dewi 'Dee' Lestari - Malaikat Juga Tahu.

Kamu pasti suka mendengar lagu satu ini. Lagu ini memiliki kisah tentang Abang (diperankan Lukman Sardi baik di video musik berjudul sama maupun di film Rectoverso) sebagai sosok penyandang autis. Dia menyukai anak kost cantik yang tinggal satu rumah dengannya.

Tapi ternyata si gadis itu justru menyukai adik si Abang. Hancurlah hati Abang. Nggak heran lirik lagu yang juga dibawakan ulang Glenn Fredly untuk film Rectoverso ini mengisahkan cinta tulus dari Abang sebagai penyandang autis.

5. David Bowie - All the Madmen.

Mendiang Davie Bowie menulis lagu ini karena terinspirasi dari saudara tirinya, Terry Burns, yang meninggal karena beberapa gangguan mental dan memilih bunuh diri pada 1985.

6. The Beatles - I'm So Tired.

Vokalis The Beatles, John Lennon, menulis lagu ini karena terinspirasi kisahnya sendiri yang mengalami masalah insomnia hebat dan isu percintaan.

Isu percintaan ini terkait cinta matinya kepada Yoko Ono, tapi dirinya masih terikat dengan istrinya Cynthia Lennon. Hmmm... cinta memang bikin gila, ya? Ups!

7. Dream Theater - Six Degrees of Inner Turbulence.

Lagu ini disebut-sebut sebagai komposisi musik kompleks karena mereka memang mengusung genre progressive rock. Ditambah liriknya berkisah tentang enam orang yang menderita gangguan psikologis.

Gangguan psikologis itu antara lain gangguan bipolar, gangguan stres pasca-trauma, skizofrenia, autisme, depresi post-partum, dan gangguan identitas disosiatif.

8. Fall Out Boy - 7 Minutes in Heaven (Atavan Halen).

Lagu band rok Amerika ini menulis lagu 7 Minutes in Heaven (Atavan Halen) untuk menggambarkan Pete Wentz, basis mereka yang pernah berusaha bunuh diri dengan overdosis obat anti depresi dan kecemasan bernama Ativan.

9. Green Day - Basket Case.

Lagi-lagi Armstrong berkisah tentang pengalaman pribadi dalam lagu bandnya. Basket Case terinspirasi dari pengalamannya mengatasi gangguan kecemasan yang pernah dia alami.

10. Pink Floyd - Shine on You Crazy Diamond.

Band rock Inggris legendaris ini menulis Shine on You Crazy Diamond dan merilisnya pada tahun 1975 karena terinspirasi dari kisah sang vokalis Syd Barrett yang kecanduan obat-obatan terlarang sekaligus mengalami masalah mental. Dia sempat off dari bandnya pada tahun 1968.

Kemudian pada tahun 1974 dia kembali mengejutkan kawan-kawannya di studio rekaman. Syd tampil dengan mencukur semua rambut di tubuhnya, termasuk alis. Hal ini cukup mengguncang emosi para kawannya yang nggak percaya di Syd.