Brilio.net - Masa yang paling sulit saat menjadi mahasiswa tentunya adalah ketika mengerjakan skripsi. Mulai dari pencarian judul, menyusun rumusan masalah, penelitian dan lain-lain. Namun semua itu sia-sia jika tidak mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing.

Begitu juga yang dirasakan Aldi (nama samaran), anak muda asal Palopo, Sulawesi Selatan. Di akhir semester 8 ini skripsinya tak kunjung selesai karena sering diminta revisi oleh dosen pembimbingnya dan itu membuatnya stres.

"Jadi dosen pembimbing saya itu ada dua. Dan yang membuat skripsi saya tak selesai-selesai itu karena antara dosen satu dan dosen dua saling benci," cerita Aldi kepada brilio.net melalui layanan storytelling bebas pulsa 0-800-1-555-999, Kamis (24/3).

"Jadi saat dosen satu revisi begini, dosen kedua tidak setuju. Bingung saya jadinya, saya juga tidak tahu mengapa mereka begitu, imbasnya itu lho pada saya, saya jadi susah lulus," lanjutnya.

Tak hanya itu saja yang menjadi beban pikiran Aldi. Cowok berusia 21 tahun ini juga kepikiran keluarganya di rumah. "Orangtua saya di kampung tidak bekerja, adik saya cewek dua di rumah tidak bekerja, paling makan dari kegiatan memancing saja. Saya itu harapan satu-satunya keluarga di rumah," tambahnya.

Loading...

Bahkan, untuk hidup di perantauan pun Aldi harus banting tulang sendiri karena tidak mungkin menyusahkan orangtuanya di rumah. Sebelum berangkat kuliah, dia pergi ke pantai untuk bekerja mengeringkan rumput laut.

"Ya dapatnya lumayan sehari bisa Rp 50.000. Saya sih inginnya sekarang cuma bisa lulus dan segera bekerja biar orangtua di rumah tidak kesusahan lagi," harap Aldi.