Brilio.net - Sayembara penyelamatan buaya berkalung ban yang dibuka sejak 28 Januari lalu resmi dihentikan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah. Upaya penyelematan usai penghentian sayembara segera dilakukan petugas ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kepala BKSDA Sulteng, Hasmuni Hasmar mengungkapkan, sebelum resmi menghentikan sayembara yang sempat dibuka sejak 28 Januari tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak KLHK khusus membahas sayembara itu.

Hasilnya, Kementerian LHK di Jakarta memutuskan akan membantu upaya penyelamatan buaya berkalung ban oleh BKSDA Sulteng dengan mengirim petugas dan tenaga ahli. Tenaga ahli yang disiapkan KLHK itu, Hasmuni menjelaskan, bahkan berasal BKSDA dari semua provinsi di Indonesia.

Rencananya, hari ini, Selasa (4/2) para petugas yang diutus itu akan tiba di Kota Palu untuk membahas strategi penyelamatan buaya Sungai Palu dari jerat ban yang sedang menjadi perhatian publik itu.

"Benar, sayembara telah kami tutup. Ada petugas KLHK dan tim ahli lengkap dengan peralatan yang akan membantu kami ( BKSDA Sulteng) untuk menyelamatkan buaya berkalung ban itu," ungkap Hasmuni seperti dikutip brilio.net dari liputan6.com, Selasa (4/2).

Loading...

Nasib buaya berkalung ban  liputan6.com

foto: liputan6.com

Penghentian sayembara tersebut, Hasmuni melanjutkan, juga agar tidak terjadi salah penanganan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan penyelamatan satwa yang dikhawatirkan justru akan memperburuk kondisi si buaya.

"Sejak awal sayembara itu untuk orang ahli, bukan sembarang. Tapi kami tidak akan menyerah, akan kami tuntaskan penyelamatan kali ini," tegas Hasmuni.

Sementara itu, langkah penghentian sayembara itu menurut Koordinator Pecinta Reptil Kota Palu, Gunawan, sebagai langkah tepat demi keamanan si buaya dan warga. Dia juga berharap upaya BKSDA kali ini akan berhasil mengakhiri derita jerat ban di leher buaya tersebut.

"Memang lebih baik itu (penyelamatan buaya) dilakukan oleh ahli sebab meski kelihatan tidak agresif, buaya tetaplah hewan buas yang punya potensi membahayakan," Kata Gunawan.