Brilio.net - Setiap orang berhak mencukur rambut atau bulu di tubuhnya, namun perlu diperhatikan sebelum memangkasnya habis. Dilansir brilio.net dari Prevention, Jumat (18/9), berikut penjelasan yang dapat dikatakan kondisi rambut atau bulu tubuh tentang kesehatan kamu:

1. Warisan genetik
Jumlah rambut atau bulu yang ada di tubuhmu dapat bergantung pada etnisitas kamu. Rambut-rambut halus yang menutupi tubuh disebut vellus (dari kata Latin yang berarti 'bulu'). Rambut yang panjang, kasar, berpigmen dengan diameter lebih besar disebut rambut terminal dan ditemukan di alis dan bulu mata, kulit kepala dan dagu, di bawah lengan, dan di daerah kemaluan.

Menurut Margaret E. Wierman, profesor kedokteran di University of Colorado Medical Center di Denver, Amerika Serikat, setiap etnis memiliki jumlah berbeda untuk rambut terminal. Wanita yang juga Kepala Endokrinologi di Denver Veterans Administration Medical Center ini menambahkan bahwa etnis yang memiliki jumlah tersedikit rambut terminal adalah orang Asia, sementara orang hispanic dan Timur Tengah cenderung memiliki lebih banyak rambut terminal. Sementara etnis lain berada di antara itu. Jadi, masing-masing memiliki "standar" sendiri.

2. Pertanda masalah autoimun
Sekalipun ini jarang terjadi, tapi sistem kekebalan tubuh dapat mengaktifkan folikel rambutmu. Hasil dari masalah autoimun adalah kamu bisa kehilangan rambut secara melingkar di kepala (alopecia areata), atau bisa juga semua rambut di kepala (alopecia totalis) dan tubuh, termasuk alis dan bulu mata (alopecia universalis). Kondisi ini biasanya diobati dengan steroid sistemik, dan rambut bisa tumbuh kembali, walau pengobatan tidak selalu efektif bertahan.

3. Hormon tidak seimbang
Hormon yang tidak seimbang bisa memengaruhi rambut pada jenis kelamin yang berbeda. Saat seorang wanita mengalami peningkatan testosteron, maka bulu tubuhnya bertambah lebat. "Ini disebut hirsutisme, yaitu suatu kondisi pertumbuhan rambut khas pria yang terjadi pada wanita," kata Wierman.

Biasanya, rambut yang tumbuh akibat kelebihan hormon testosteron ini meliputi rambut di atas pusar, di dada bagian atas, atau di punggung. Kalau ada lebih dari delapan rambut di sekitar puting wanita, maka inilah kejadian abnormal yang memenuhi definisi hirsutisme.

Nah, kalau wanita mengalami penuruan kadar estrogen selama menopause, dan sebagai konsekuensinya, testosteron akan meningkat, banyak wanita mendapati rambut mereka di kepala menipis, sementara bulu di wajah mereka menjadi kasar.

4. Perlu periksa ovarium
"Jika hirsutisme disertai menstruasi yang tidak teratur, kemungkinan besar ini pertanda terjadi masalah sistemik," kata Wierman. Penyebab paling umum adalah sindrom ovarium polikistik, yang ditandai dengan pembesaran ovarium. Pembesaran ovarium ini berisi kumpulan cairan kecil, yang disebut folikel. Sindrom ovarium polikistik ini bisa juga disebabkan obesitas.

5. Kemungkinan terkena tumor
Kalau gejala hirsutisme terjadi tiba-tiba dan dramatikal, maka kalau terjadi gejala peningkatan peningkatan tinggi kadar testosteron dan Dehydroepiandrosterone (DHEA, sejenis hormon steroid yang dibuat oleh kelenjar adrenal pada laki-laki dan perempuan) selama enam bulan, mungkin seseorang memiliki tumor.

Tumor di sini melepas hormon pria dnan mengubah profil hormon dari tubuh ke dalam bentuk pertumbuhan rambut lebih cepat. "Dalam kasus ini, kami mencari tumor di kelenjar adrenal dan ovarium. Walaupun tidak umum, tapi tindakan ini yang biasanya dicek oleh dokter," ujar Wierman.

6. Kemungkinan kekurangan zat besi atau memiliki tiroid kurang aktif
Rambut rontok yang menyebar, bisa menunjukkan kekurangan zat besi atau tiroid kurang aktif. Wanita dan orang yang hidup sebagai vegetarian cenderung lebih sering mengalami rambut rontok.

Menurut Wierman, gejala spesifik tiroid yang kurang aktif bahkan mengarah kepada penyakit tiroid autoimun adalah jika seseorang kehilangan sepertiga atau lebih bulu alis dan permukaan kuku menjadi tidak rata (atau membentuk semacam gunungan di kuku). Dia menyarankan untuk pergi tes darah untuk memastikan dan mendapatkan pengobatan sejak dini.

7. Kebiasaan buruk
Kalau kamu mengonsumsi obat-obatan, beberapa obat bisa meninggalkan "jejak" di rambutmu selama bertahun-tahun bahkan abad. Seperti yang terjadi pada penyair Inggris, John Keats, setelah 165 tahun kematiannya. Ditemukan jejak morfin di rambutnya yang telah dipotong. Ternyata selama hidupnya, dia mengandalkan morfin untuk menghilangkan rasa sakit, sementara dia sendiri meninggal karena TBC.

Hmmm ..., pokoknya kalau ada yang janggal terkait bulu atau rambut tubuhmu, segera konsultasi ke dokter ya, guys. Supaya pencegahan atau pengobatan bisa segera diterapkan. Jaga kesehatanmu, lho!