Bentuk toleransi.

Toleransi adalah © 2022 berbagai sumber

foto: freepik.com

Dalam bukunya Mela (2020), Said Agil Ali Munawar memberikan pendapat bahwa toleransi memiliki dua bentuk yaitu toleransi dinamis dan toleransi statis. Berikut penjelasannya.

1. Toleransi dinamis.

Toleransi dinamis merupakan bentuk toleransi yang aktif dalam melahirkan kerja sama supaya mencapai tujuan bersama, maka kerukunan antarumat beragama bukan berupa teoritis melainkan sebuah refleksi dari kebersamaan umat beragama.

2. Toleransi statis.

Toleransi statis merupakan toleransi dingin yang tidak melahirkan atau memunculkan sikap saling kerja sama sehingga hanya memiliki sifat teoritis.

Selain itu terdapat bentuk toleransi yang lainnya, di antaranya sebagai berikut.

- Toleransi agama.

Toleransi agama merupakan sikap saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan penganut agama dalam kehidupan. Contohnya, setiap orang harus menghormati serta memberikan kebebasan atau ruang bagi seseorang yang akan menjalankan ibadah sesuai dengan masing-masing agama yang dianutnya.

- Toleransi budaya.

Toleransi budaya merupakan salah satu kunci untuk hidup rukun. Karena di Indonesia sendiri memiliki ragam budaya, maka sudah sepantasnya bersikap lebih toleransi serta tidak merendahkan atau superioritas antar budaya.

- Toleransi sosial.

Toleransi sosial mengacu pada adanya orang-orang yang masuk dalam kelas sosial yang berbeda. Karena ada banyak kasus intoleransi sosial, yang mencerminkan perasaan superioritas dibandingkan dengan orang lain yang seringkali dianggap lebih rendah karena memiliki sumber daya ekonomi yang sedikit. Oleh sebab itu toleransi sosial diperlukan agar tidak ada pembagian kelas atau strata antara si kaya dan si miskin.