Brilio.net - Pakar Iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, memberikan peringatan dini terkait ancaman musim kemarau ekstrem yang diprediksi melanda Indonesia pada periode Juni hingga November 2026. Ahli Klimatologi dan Profesor di bidang Klimatologi & Perubahan Iklim ini menekankan pentingnya langkah antisipasi terhadap fenomena iklim ganda.

Kondisi cuaca mendatang diprediksi akan jauh lebih panas dan kering akibat kombinasi Super El Niño—dengan anomali suhu Samudra Pasifik bisa lebih dari 2°C (disebut El Nino Godzilla)—serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Selain ancaman kekeringan, risiko penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dipicu pemanasan global juga menjadi perhatian serius.

Melalui akun media sosial pribadinya di X, Prof. Erma menegaskan perlunya tindakan nyata dari sekarang. Berikut adalah poin-poin strategi mitigasi yang disarankan dikutip dari satu video yang diunggah X @EYulihastin, Kamis (2/4/2026).

1. Penguatan Stok Pangan dan Cadangan Air

Menghadapi periode kering yang panjang, ketersediaan bahan pokok dan air bersih menjadi prioritas utama. Prof. Erma mengingatkan melalui pernyataannya agar masyarakat dan pemerintah segera, "... stok pangan, kemudian nanti kita akan juga harus melakukan pompanisasi ya, yang mengantisipasi supaya irigasi itu bisa tetap berjalan secara normal dan beberapa apa mempersiapkan cadangan-cadangan air dari kondisi bahwa saat ini masih ada hujan, maka kita sebenarnya bisa menampung air hujan tersebut dan menyimpannya sebagai cadangan-cadangan air".

2. Optimalisasi Sistem Irigasi melalui Pompanisasi

Sektor pertanian berisiko terdampak langsung oleh kekeringan. Penggunaan teknologi pompa air atau pompanisasi menjadi kunci agar distribusi air ke lahan persawahan tidak terhenti, sehingga irigasi tetap berfungsi secara normal meskipun debit air sungai menurun.

Super El Nino 2026 X/@EYulihastin

Super El Nino 2026
foto: X/@EYulihastin

3. Pemanfaatan Sisa Curah Hujan

Mengingat saat ini intensitas hujan masih terjadi di beberapa wilayah, terdapat peluang besar untuk melakukan pemanenan air. Menampung air hujan di embung, waduk, atau bak penampungan mandiri merupakan langkah preventif agar cadangan air tetap tersedia saat memasuki fase dry spells atau hari tanpa hujan yang panjang.

4. Antisipasi Dampak Super El Nino dan IOD Positif

Fenomena Super El Nino yang diperkuat oleh IOD positif diprediksi akan mencapai puncaknya pada pertengahan hingga akhir tahun. Erma menjelaskan bahwa, "berbagai upaya-upaya lain yang harus kita persiapkan dari sekarang untuk menghadapi dampak terburuk panas dan kering yang bisa ditimbulkan dari kondisi fenomena super El Nino yang nanti akan diperparah juga atau diperkuat dengan IOD atau Indian Ocean Dipole yang positif dan dimulai dari bulan Juni mungkin sampai kemudian bulan November".

5. Kesiagaan Terhadap Penurunan Kualitas Udara

Kombinasi cuaca ekstrem dan potensi Karhutla menuntut kesiapsiagaan terhadap polusi udara.

“Siapkan strategi untuk menyiapkan stok pangan, air, dan kondisi kualitas udara yang bisa memburuk karena cuaca panas (diperparah oleh pemanasan global+Karhutla) kering (dry spells) selama musim kemarau tahun ini, khususnya Juni hingga November 2026,” tulis Erma dalam keterangan yang menyertai videonya.

Lebih lanjut dari video yang diunggah, Erma menjelaskan bahwa periode Juni hingga November akan menjadi masa yang sangat panas dan kering, sehingga diperlukan langkah perlindungan kesehatan masyarakat terkait kualitas udara yang memburuk.

Ia menegaskan, "bulan-bulan tersebut, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November akan menjadi bulan-bulan yang panas dan kering yang bisa kita alami sehari-hari. Oleh karena itu kita harus persiapkan diri kita dari sekarang".