Brilio.net - Menjadi orangtua tunggal atau single parent bukanlah perkara mudah. Harus mengurus dan menafkahi anak seorang diri menjadi tantangan yang cukup berat. Hal ini yang dirasakan oleh seorang ibu asal Malaysia. Ketabahannya menjalani hidup membuat banyak orang salut kepadanya. Bagaimana tidak, sehari-hari ia bekerja sebagai pemulung dan tak pernah malu dengan profesinya itu.

Jika sebagian orang menganggap pekerjaan sebagai pemulung merupakan pekerjaan yang memalukan, namun bagi Rahimah Dollah, profesinya itu merupakan jalan untuk memberikan pendidikan kepada ketiga anaknya. Bukan baru-baru ini saja, Rahimah sudah menjalani profesinya sebagai pemulung sejak 2003 silam.

ibu ini sukses didik dan sekolahkan anaknya sinarharian.com.my

foto: sinarharian.com.my

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Sebagai single parent, ia abaikan semua perkataan orang mengenai dirinya. Baginya pendidikan anak-anaknya lebih wajib harus ia pikirkan. Usahanya tak sia-sia, Rahimah berhasil mengantarkan anaknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi, yakni anak sulungnya, Zainal Abidin Che Hassan, 25, di Universiti Kuala Lumpur (UniKL) dalam bidang Mekatronik, sedangkan anak keduanya Siti Zaitun yang berusia 18 tahun sedang melanjutkan pendidikannya di sebuah Kolej Majlis Amanah Rakyat (Mara) Kuala Nerang, Kedah.

Anak bungsunya Zainal Asyraf Che Hassan yang baru berusia 16 tahun memiliki prestasi yang gemilang, di mana ia memperoleh hasil ujian yang sangat bagus. Rahimah Dollah mengatakan awal mula ia melakukan pekerjaan itu adalah untuk membantu almarhum suaminya yang hanya bekerja di desa.

ibu ini sukses didik dan sekolahkan anaknya sinarharian.com.my

foto: sinarharian.com.my

"Ketika itu saya terdesak untuk membeli susu anak saya yang sedang kehausan. Untuk membelinya saya harus menunggu suami saya pulang pada malam hari, namun terkadang pulang juga belum tentu bawa uang," kata Rahimah yang dilansir dari sinarharian.com.my, Jumat (3/1).

"Saat itulah saya mulai mengumpulkan sampah seperti botol, kaleng di sekitar lingkungan tempat saya tinggal. Setelah terkumpul saya berhasil menjualnya seharga hampir RM50 dan menggunakan uang itu untuk membeli susu dan makanan untuk anak-anak saya," lanjutnya.

ibu ini sukses didik dan sekolahkan anaknya sinarharian.com.my

foto: sinarharian.com.my

Pada 2010 Rahimah harus menerima kenyataan pahit karena sang suami, Che Hassan Mohamed meninggal dunia karena mengidap kanker tiroid. Namun sebagai seorang ibu ia tak menyerah begitu saja. Rahimah tetap menjalankan profesinya sebagai pemulung untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

"Hasil dari memulung saya gunakan untuk menghidupi anak-anak dan biaya sekolah mereka," kata Rahimah.

Perjuangan Rahimah benar-benar membuat salut banyak orang, bayangkan setiap hari ia harus berjalan sejauh 30 km di sekitar Rantau Panjang untuk memungut sampah dengan gerobaknya. Ia bahkan terkadang merasa sangat lelah karena faktor usia.

ibu ini sukses didik dan sekolahkan anaknya sinarharian.com.my

foto: sinarharian.com.my

Zainal Abidin mengatakan bahwa dirinya tak pernah malu dengan profesi sang ibu, justru sebaliknya ia sangat bangga dengan sang ibu. Usaha sang ibu untuk mendapatkan rezeki halal dan menyekolahkan ia dan adik-adiknya. Bahkan ia turut membantu sang ibu.

"Kalau ada waktu luang, saya ikut membantu ibu karena ini adalah buat kamu sekeluarga," katanya.