Brilio.net - Setiap bulan suci Ramadan, ada yang unik dalam penyelenggaraan ibadah shalat tarawih di Masjid Lautze yang berada di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Tidak seperti masjid pada umumnya, shalat tarawih di masjid ini hanya dilakukan pada Sabtu dan Minggu saja. Kenapa ya?

Masjid yang berada di deretan toko di kawasan Sawah Besar, sebelumnya adalah sebuah ruko. Bentuk masjidnya pun sangat unik, mirip vihara dengan ornamen warna kuning dan merah. Tak heran jika masyarakat umum sulit membedakan antara masjid dengan vihara. Tapi jangan salah lho, masjid yang berada di Jalan Lautze, RT 10/RW 03, Kelurahan Karang Anyar, Jakarta Pusat ini peresmiannya dilakukan Presiden RI ke-5 BJ Habibie pada 1994 silam.

Keunikan masjid ini tak hanya dari sisi warnyanya saja. Tapi terdapat juga lampion merah dan gapura serta ukiran di langit-langitnya yang mencirikan bahwa masjid milik warga muslim Tionghoa. "Di masjid kita ini memang hanya ada dua waktu shalat, Zuhur dan Ashar. Karena mayoritas yang shalat di sini orang kantoran, jadi lebih dari itu sepi. Makanya kita hanya adakan dua waktu saja," ujar H Ali Karim, Ketua Masjid Lautze kepada brilio.net, beberapa waktu lalu.

Uniknya lagi, saat Ramadan masjid ini tidak menggelar shalat tarawih berjamaah secara rutin. Melainkan hanya melakukannya Sabtu dan Minggu saja. "Kebanyakan jamaah kita orang kantoran semua dan rumahnya jauh-jauh. Jadi kita ambil di hari Sabtu malam dan Minggu sebagai pertemuan rutin untuk melangsungkan shalat tarawih berjamaah," tambah Ali.

BACA JUGA: 10 Kemesraan pesohor ini bikin jombloers menangis getir

Loading...

Saat shalat tarawih, yang menjadi imam di masjid tersebut diutamakan para mualaf. Hal tersebut dilakukan agar para jamaah yang mualaf bisa terbiasa. "Ciri khas, kalau untuk shalat tarawih, imamnya estafet setiap dua rakaat, imamnya gantian dan khusus untuk mualaf. Mereka yang baru belajar baca Alquran, bacaannya belum pas banget tapi tidak apa-apa kita kasih kepercayaan mereka jadi imam," jelasnya.

Cara ini dilakukan agar jamaah yang notabene mualaf berani tampil dan merasa bangga karena dipercaya meskipun bacaannya masih belum lancar. Cara ini sekaligus untuk memotivasi para mualaf untuk lebih memperbaiki tentang keislaman.