Brilio.net - Menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain mungkin merupakan impian bagi banyak orang. Namun, tidak setiap orang mampu untuk memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan. Padahal, membantu sesama tidak harus membutuhkan biaya yang besar ataupun kekuasaan yang tinggi. Satu hal yang dibutuhkan manusia untuk tergerak hatinya demi membantu sesama, tidak lain dan tidak bukan adalah niat tulus dari hati. Menjadi manusia yang bermanfaat bisa melalui beragam perantara. Mulai dari harta, kuasa, tenaga, hingga hanya dengan untaian doa.

Mungkin hal itu yang menggambarkan alasan utama Momo Wikan ingin membantu sesama. Pria kelahiran Yogyakarta ini sehari-hari membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya, berupa bengkel las rumahan yang berlokasi di Jalan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain bengkel las, pemilik nama asli Wikan Widyahmoko ini juga menawarkan jasa angkut pindahan, seperti pindah kos atau pindah kontrakan. Ia juga seringkali mendapat panggilan menjadi driver city tour bagi para tamu yang hendak berkeliling menyusuri kota.

Namun di balik kesibukannya itu, Momo Wikan selalu menyempatkan diri untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan. Aktivitas yang menjadi hobi uniknya ini selalu ia lakukan hampir setiap hari. Biasanya Momo Wikan akan berkeliling menyusuri jalanan pada malam hari untuk membantu orang-orang yang sedang kesulitan, seperti kendaraan mogok, habis bensin, pecah ban, pengemudi tersasar, bahkan hingga membantu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Aktivitasnya yang gemar membantu ini tampak kontras dengan penampilannya. Saat pertama kali melihat sosoknya, mungkin sebagian orang akan terlintas pikiran negatif dikarenakan penampilannya yang cukup berbeda. Dengan anting berukuran besar dan tato di lengan kirinya, ditambah pakaian yang jauh dari kata necis, tak heran jika beberapa orang akan memiliki persepsi buruk.

Kisah TikTokers Momo Wikan © 2024 berbagai sumber

foto: brilio.net/Zidan Fajri

Dengan penampilannya yang seperti preman, siapa sangka Momo Wikan memiliki hati yang dermawan. Sosoknya sudah seperti 'malaikat' bagi mereka yang kesulitan di jalanan karena ia selalu menolong tanpa pamrih. Namun saat diwawancara, Momo Wikan dengan rendah hati menanggapi bahwa aktivitas tersebut hanyalah 'settingan' semata. Ia tidak ingin tindakan yang dilakukannya terlalu dibesar-besarkan.

"Sebenarnya gini, katanya cowok harus punya hobi, dan hobinya harus jelas, nah mungkin salah satu hobi saya itu, daripada saya nggak bisa tidur awal kan, saya diberikan nikmat sehat, diberikan nikmat rezeki, ya sudah bagaimana saya mensyukuri kenikmatan yang saya dapat itu, saya keluar (berkeliling)," tutur Momo Wikan saat ditemui brilio.net, Rabu (1/5).

Selain punya hobi menolong orang, Momo Wikan juga merupakan seorang content creator. Ia aktif membagikan hobi uniknya ini di berbagai media sosial, seperti TikTok, Instagram, dan Facebook.  

Meski kerap membagikan aksinya di media sosial, Momo Wikan justru tidak pernah berharap bertemu dengan orang-orang yang mengalami kesulitan di jalanan. Maka dari itu ia tidak pernah membawa alat khusus untuk merekam momen tersebut. Sama seperti camilan tahu bulat yang hits beberapa tahun lalu, semua serba dadakan.

Saat berkeliling, ia tidak selalu merekam aktivitasnya hanya demi memiliki konten. Proses perekaman yang ia lakukan hanyalah bersifat spontanitas, bukan berkeinginan mencari penonton sebanyak-banyaknya. Jika memang menurutnya pantas untuk dibuat konten maka akan ia rekam, namun bila kondisinya menjurus kepada keburukan, maka ia akan mengurungkan niatnya.

Momo Wikan beranggapan yang lebih penting adalah dirinya, orang yang berkarya. Jika ia mampu terus berkarya sambil menebar manfaat, maka ia tidak akan ambil pusing dengan dinamika media sosial. Dalam setiap kontennya, ia juga menerapkan konsep tidak ingin terlihat atau out frame. Konsep ini agar penonton lebih fokus memperhatikan apa yang dilakukan, apa nilai yang bisa diambil, dan apa yang bisa dicontoh, ketimbang melihat sosoknya.

Kisah TikTokers Momo Wikan © 2024 berbagai sumber

foto: TikTok/@momo.wikan

Momo Wikan punya jadwal berkeliling hampir setiap malam. Menurutnya, selama badan dalam kondisi prima dan cuaca mendukung, ia akan selalu menyempatkan menolong orang lain. Adapun untuk rute berkeliling, ternyata ia memiliki rute khusus yang sering ditempuh.

"Saya punya rute tersendiri sebenarnya, kalau rute saya biasanya dari jalan Kabupaten (Sleman), ke arah utara sampai ringroad (jalan lingkar) selatan RSA UGM, lalu saya ambil ke kiri hingga masuk ringroad barat, hingga tembus ke daerah Gamping sampai ke jalan Wates (Kadipiro). Lalu ambil ke kanan ke arah ringroad selatan lagi, hingga tembus ke utara melewati pasar hewan, dan lewat pinggiran kota, hingga kembali ke jalan Magelang dan ke arah daerah Jombor, baru pulang lagi," tuturnya.

Rute tersebut dipilih karena kondisi jalanan di area itu sangat sepi dan rawan terjadi tindak kriminalitas. Terlebih, saat tengah malam sangatlah sulit mencari POM bensin atau penjual bensin eceran yang masih buka, begitu juga dengan tukang tambal ban. Ia juga menuturkan, untuk jarak yang ditempuh sekali jalan berkisar 30-50 kilometer. Berkaitan dengan waktu berkeliling, ia mengatakan tidak menentu pada jam berapa mulai menyusuri jalan. Namun biasanya mulai dari jam 9 malam hingga menjelang subuh.

Selain itu, Momo Wikan juga punya tips bagi siapapun yang hendak melewati jalan ringroad atau jalanan yang sepi sendirian. Menurutnya, saat melewati jalanan sepi alangkah lebih baik untuk memacu kendaraan lebih kencang, demi menghindari gerombolan atau kawanan yang mencurigakan. Tips lainnya, jika merasa dibuntuti segera cari tempat ramai dan terang, seperti menepi di gerai toserba yang masih buka.

 

Hobi unik Momo Wikan sudah dilakukan sejak 2009. Ia mengisahkan, saat itu rutinitasnya berkeliling dilakukan hampir setiap malam. Namun jauh sebelum mulai menolong orang di jalanan, dulunya ia pernah terjerumus dalam dunia hitam.

Meski memiliki latar belakang yang kelam, Momo Wikan tetap berusaha untuk mencoba melakukan perbuatan baik. Contohnya, ketika ada orang yang sedang mendorong motor, pasti ia akan berhenti dan menawarkan bantuan sebisanya, walaupun dengan kondisi teler dan goyah. Lalu pada 2011, ia baru mulai mendokumentasikan kegiatannya di Facebook.  

Diceritakan Momo Wikan, saat awal membagikan kegiatannya di media sosial, ia seringkali mendapatkan komentar negatif dari para warganet. "Kayak gitu aja diposting, nanti nggak dapet pahala," ujar Momo Wikan menirukan salah satu komentar warganet di unggahannya.

Walaupun begitu, ia tidak gentar sedikitpun. Pria bertato itu juga terlihat tidak terlalu memikirkan komentar jahat yang diterima.

"Intinya begini, sesama murid tidak berhak mengisi rapot, yang berhak mengisi rapot adalah guru, kita sesama manusia adalah murid, dan yang berhak mengisi rapot adalah Tuhan," pungkasnya.

Kisah TikTokers Momo Wikan © 2024 berbagai sumber

foto: TikTok/@momo.wikan

Momo Wikan menambahkan, saat ini unggahan berisi hal-hal negatif tersebar di mana-mana, tapi ia jarang melihat konten tentang kebaikan. Untuk itu, ia ingin menyebarluaskan konten positif melalui media sosial yang menjadi sarana utamanya berdakwah. Walaupun penampilannya dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, namun ia tetap mampu memberikan kebermanfaatan.

Selain cibiran, ternyata kontennya di media sosial membuahkan dampak positif. Salah satunya, ada banyak orang dari berbagai kalangan yang ingin mencontoh dirinya, bahkan orang-orang yang masih terjerumus di dunia hitam pun berkeinginan mengikuti langkahnya. Akan tetapi, kebanyakan orang itu memiliki alasan bahwa mereka belum mampu membantu orang lain dikarenakan faktor materi.

Kepada orang yang ingin mengikut jejaknya, Momo Wikan selalu berpesan untuk memulainya dari hati.

"Mulailah niati dari hati, semuanya kalau tidak diniati dari hati, nggak akan sejalan (hati-pikiran-perbuatan), jika sudah memiliki niat, lakukanlah! Walaupun kamu nggak punya apapun, saat kamu berjalan menemukan orang kesulitan, bantulah dengan doa, saat kamu menemukan paku atau batu, kamu singkirkan, itu amat sangat luar biasa," jelasnya.


(Magang/Zidan Fajri)