Brilio.net - Mewabahnya virus corona masih menjadi perbincangan dunia, termasuk di Indonesia. Saat ini jumlah pasien corona mencapai 2.670 kasus dan data tersebut berdasarkan website corona.jakarta.go.id yang diakses brilio.net pada Kamis (17/4) pagi.

Dalam website tersebut juga dituliskan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 202 orang, meninggal 248 orang, yang masih mendapatkan perawatan 1.601 orang dan isolasi mandiri ada 619 orang.

Pemerintah pun telah memberikan peringatan keras kepada warganya untuk terus physical distancing dan tetap waspada ketika bepergian ke luar rumah. Salah satunya dengan mengenakan perlindungan seperti masker.

Namun demikian, masih banyak warga yang mengaku kesulitan menemukan masker karena semakin langka. Untuk itu banyak orang yang berkreasi untuk membuat sarana pelindung diri selain masker.

Seperti Ali Akbar. Dengan tanpa alas kaki dan kepala tertutup galon air, Ali nampak cekatan mengatur lalu lintas di Jalan Tamansiswa. Di pertigaan dekat Lapas Wirogunan ini, Ali Akbar seorang sukarelawan pengatur lalu lintas memilih mengenakan galon air di kepala sebagai pengganti masker.

Loading...

Ali memakai galon bekas air berukuran 10 liter lengkap dengan keran airnya. Di bagian belakang, Ali menuliskan 'BERSAMA MELAWAN CORONA'.

Dikutip dari Merdeka, bukan tanpa alasan Ali menggunakan galon air bekas sebagai pengganti masker. Selain masker medis susah dicari, Ali juga tak cocok menggunakan masker berbahan kain yang harus dicuci usai dipakai.

"Ini mengurangi (penggunaan) masker. Jadi nggak kena apa-apa. Kalau kain kan sekali pakai terus nyuci. Kalau galon kan nggak, bisa dilap, disemprot. Ini rutin dicuci lho," ujar pria asli Jawa Timur yang saat ini berdomisili di daerah Gondolayu, Jetis Kota Yogyakarta ini.

Ali mengaku sudah dua hari belakangan ini memakai galon bekas air untuk menggantikan masker. Ali menyebut dirinya terinspirasi dari para petugas medis yang memakai APD helm, kacamata dan masker sekaligus.

"Kalau orang kan pakai pelindung, APD. Nah saya mending pakai ini praktis, daripada galon nganggur," ungkap Ali, Kamis (16/4).

Pria berumur 52 tahun ini mengaku setiap hari dirinya mengais rejeki di Jalan Tamansiswa dari saat jam anak sekolah berangkat hingga pukul 18.00 WIB. Sebelum pandemi corona, Ali menyebut dirinya bisa membawa pulang Rp 30 ribu setiap kali bertugas di jalan.

Namun saat pandemi virus corona yang menyebabkan banyak warga Yogyakarta memilih tinggal di rumah, Ali mengaku penghasilannya jauh menurun. Untuk mendapatkan Rp 30 ribu, bukanlah hal yang mudah sejak sebulan belakangan ini.