Brilio.net - Perempuan seringkali dihadapkan pada persoalan domestik yang pelik. Tapi di sisi lain tak jarang mereka juga mesti memikul tanggung jawab yang cukup berat di dalam keluarga. Menjadi ibu, sekaligus kepala keluarga misalnya. Lantas, masih saja ada anggapan yang menyebutkan perempuan adalah kaum lemah, rapuh tak berdaya.

Padahal, banyak perempuan yang sanggup menjalani berbagai pilihan dalam hidupnya. Mengatasi berbagai persoalan sendirian. Memendam segala masalah yang dihadapi dalam ruang pikir, bahkan lubuk hati yang entah kapan akan diluapkan.

Sayangnya, masih banyak perempuan yang enggan atau malah tidak mau bersuara mengenai apapun yang dihadapi. Fakta inilah yang kemudian memunculkan ide kolaborasi antara Narasi dan Uniqlo Indonesia menggaungkan kampanye Di Mata Perempuan melalui gerakan #WomanlnProgress.

Kampanye ini bertujuan menginspirasi perempuan Indonesia berani bicara dan berbagi cerita. Ya, cerita tentang hidup mereka termasuk mewujudkan mimpi meski dibenturkan pada berbagai rintangan.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Dalam kampanye ini, empat sosok perempuan inspiratif Indonesia bernarasi mengisahkan perjalanan hidup mereka hingga meraih sukses. Keempat perempuan lintas generasi itu ialah Najwa Shihab, Cinta Laura, Mira Lesmana, dan Adinia Wirasti. Masing-masing punya cerita. Namun mereka saling merangkul sambil berbagi pengalaman hidup.

Mereka percaya bahwa setiap perempuan adalah #WomanInProgress, dan progres itu harus selalu diperjuangkan selama hidup. Untuk itu butuh sesama perempuan untuk saling menguatkan dan memberikan inspirasi berani berbagi cerita.

Dalam narasi yang dikemas dengan konsep monolog video ini, keberanian bersuara keempat sosok perempuan itu direpresentasikan dengan tampilan Turtleneck, menggambarkan kesan perempuan kuat, confident, passionate, berani dan comfortable. Turtleneck juga dapat dijadikan simbol untuk menyuarakan progres setiap perempuan yang memiliki pengaruh luas lewat bakat dan pencapaian.

“Berbagai rintangan hadir di depan mata termasuk dari dalam diri sendiri yang membuat perempuan memiliki perjalanan dan kisahnya masing-masing. Membagikannya dapat menjadi sebuah cara untuk saling menguatkan. Mari berbagi dan saling berandil bagi perempuan lainnya, karena perempuan kuat itu yang menguatkan,” ujar Nana, sapaan akrab Najwa Shihab, yang juga pendiri Narasi.

Ada yang menarik dari kisah empat sosok perempuan ini. Dibalik kesuksesan dan ketenaran yang melekat pada mereka, ternyata masing-masing memiliki satu momen yang menempatkan mereka di titik lemah. Berikut kisah perjalanan empat perempuan inspiratif ini.

1. Najwa Shihab, diantara keraguan, pertaruhan, dan kehilangan cinta

Cantik dan cerdas. Dua kata yang cocok menggambarkan karakter Najwa Shihab. Saat menjadi salah satu siswa pertukaran pelajar di Amerika Serikat, Nana yang saat itu berusia 16 tahun banyak belajar berbagai hal. Selama setahun tinggal di negeri Paman Sam, ia bukan hanya belajar bahasa asing (Inggris), namun ia juga belajar menjadi minoritas, menjadi berbeda.

Menjadi seorang jurnalis, kegigihan dan daya tahan banting seorang Najwa Shihab, ditempa. Lewat proses sebagai jurnalis inilah Nana mendapatkan sesuatu yang berharga dan ia terapkan sampai sekarang. “Be brave, but don’t be stupid.”

Setelah 17 tahun meniti karier sebagai jurnalis, Nana mengambil keputusan berani. Ia memutuskan berhenti dari pekerjaan yang membesarkan namanya tersebut. Nana membahasakannya sebagai langkah mengambil jeda. “Jeda ini betul-betul saya pakai untuk memperkuat diri, menambah energi dan jadilah Narasi,” ungkap Nana.    

Tapi siapa sangka di balik ketegaran seorang Najwa Shihab, ia punya titik terendah dalam hidupnya. Ketika ia harus kehilangan anak perempuannya, Namiya. Inilah momen terberat seorang Nana ketika harus kehilangan cintanya. 

2 dari 4 halaman

2. Cinta Laura Kiehl, pernah jadi lelucon satu negara

Siapa sih yang nggak kenal Cinta Laura Kiehl. Artis muda, cantik dan cerdas kelahiran Quakenbruck, Jerman, 17 Agustus 1993 ini dikenal sebagai selebriti yang kini mulai berkarier di dunia internasional. Nama Cinta mulai dikenal masyarakat Indonesia ketika ia membintangi sinetron Cinderella (Apakah Cinta Hanyalah Mimpi?) yang ditayangkan di SCTV pada 2007 silam.

Sosok yang penuh semangat, tegas, dan pemimpi ini juga sangat peduli dengan pemberdayaan perempuan. Ia selalu ingin membuat bangga Indonesia lewat karya-karyanya. Sebagai pesohor, Cinta punya perjalanan hidup yang tak mudah seperti yang dibayangkan banyak orang.

“Sebelum itu aku merasa seperti bahan lelucon satu negara. Waktu aku masuk dunia hiburan karena aksen yang beda. Padahal mereka tak mengerti bahwa aku tumbuh besar di berbagai negara. Seluruh masa remaja aku untuk membuktikan kepada orang lain bahwa aku bukan seperti yang mereka bayangkan,” ujar Cinta.   

Cinta memulai debutnya di dunia hiburan setelah menjadi finalis Top Model 2006 saat usianya masih 12 tahun. Sebagai remaja yang lahir dan dibesarkan di luar negeri, Cinta memiliki logat dan aksen yang berbeda. Inilah keunikan Cinta dibanding artis Indonesia pada umumnya.

Namun keunikannya itu justru menjadi cibiran banyak orang. Banyak yang meragukannya. Namun ia tak patah semangat. Cinta akhirnya bisa membuktikan dirinya bukan cuma cantik, tapi ia juga cerdas. Ia lulus dengan nilai sempurna dari Columbia University. 

3 dari 4 halaman

3. Mira Lesmana, buah pengorbanan

Nama Mira Lesmana selalu punya cerita yang ia tuangkan di layar perak. Lewat berbagai karyanya, Mira dikenal sebagai salah satu sineas muda kebanggaan Indonesia. Tapi perjalanan perempuan kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1964 ini di dunia film tak semudah yang dibayangkan.

Istri aktor Mathias Muchus ini menjadi salah satu perempuan berpengaruh yang mengubah wajah perfilman Indonesia. Di saat industri sinema “mati suri” pada era 1990-an, ia justru mulai menancapkan tekadnya membangun masa emas sinema Indonesia. Pada 1998, saat reformasi baru saja bergulir, Mira yang memulai kariernya sebagai sutradara, bersama tiga rekannya meluncurkan Kuldesak.

Film yang diproduksi sejak 1996 ini menggambarkan kehidupan kota di Jakarta yang mencerminkan tragedi kesepian. Film ini pun sukses menembus kancah internasional di International Film Festival di Rotterdam pada 1999. Film ini juga mendapatkan nominasi untuk Silver Screen Award -Best Asian Feature Film dalam Singapore International Film Festival di tahun yang sama. 

“Sejak di usia muda, 16-17 tahun saya memang sudah memutuskan untuk bercerita di medium film. Cuma saat itu sangat sulit karena dunia film Indonesia sedang mati suri,” kisah Mira.

Saat memutuskan berkiprah di dunia film, banyak ketakutan yang dirasakan Mira. Takut yang ia buat tak sesuai ekspektasi. Takut menghadapi kritik pedas terhadap karyanya. Berbagai ketakutan ini sempat membuatnya berpikir untuk berhenti dari dunia film pada 2006. Itu merupakan titik lelah seorang Mira Lesmana. Ia terkadang berpikir sulit menyatukan idealisme dengan penonton. Di masa itu juga ia merasa banyak sekali mengalami kesulitan menyampaikan ide-ide yang mungkin “berani”.

Bergelut di dunia film, Mira merasa banyak pengorbanan yang ia lakukan terhadap keluarga. Ia harus kehilangan banyak momen bersama keluarga ketika menciptakan karya. Tapi semua pengorbanan itu sejalan dengan pernghargaan yang ia dapat dalam kehidupan.   

4 dari 4 halaman

4. Adinia Wirasti, mengatasi trauma dan ketakutan

Nama aktris Adinia Wirasti mulai dikenal publik saat dirinya memerankan tokoh Karmen dalam film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) yang dirilis pada 2002 silam. Kecintaannya pada dunia seni peran sebenarnya mulai terpupuk sejak kecil. “Dari kecil saya sangat menyukai story telling. Tumbuh dengan itu pada akhirnya membuat saya jatuh cinta pada seni peran,” ujar Adinia.    

Adinia tak pernah menyangka film AADC begitu popular dan digemari banyak orang. Film ini juga yang membawa dia memiliki pengalaman sebagai anak SMA. Padahal, saat ia diminta bermain dalam film ini, usianya masih sekitar 14 tahun. Ia berada di masa transisi di akhir statusnya sebagai pelajar SMP. Kepopuleran film AADC otomatis mengangkat namanya.

“Film itu meledak sedemikian rupa. Banyak hal yang sebenarnya bikin agak traumatis karena aku nggak punya amunisi yang tepat untuk menghadapi popularitas. Ketakutan itu bentuknya menjadi keragu-raguan,” kata Adinia.

Ketakutan demi ketakutan terus dirasakan Adinia ketika ia berusia 30-an. Saat itu ia dihadapkan banyak pertanyaan, termasuk soal pasangan hidup. Berbagai pertanyaan itu datang dari orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga.

“Ketakutan itu nggak melulu menjadi jahat ke kita. Ketika kita bisa mengolah rasa takut itu sebenarnya akan menjadi kekuatan dalam diri kita sendiri. Satu hal membantu aku terus jalan (mengatasi ketakutan). Tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan memutar, tak ada jalan lain. Untuk melaluinya kita harus terus melewatinya,” tegas Adinia.  

(brl/red)