Brilio.net - Sudah kurang lebih delapan bulan, proses belajar secara daring dilakukan oleh para siswa-siswi di Indonesia. Sejak pandemi corona mewabah sekitar Maret 2020 lalu, hampir seluruh sekolah menerapkan School From Home (SFH). Mereka mau tak mau harus beradaptasi dengan kebiasan baru tersebut.

Kendati demikian, semangat belajar tampaknya tak pernah turun seperti yang dirasakan Terra Awang Semesta, pelajar kelas 12 di SMA Kolese De Britto ini. Selama masa pandemi dan menjalani kegiatan sekolah dari rumah, ia bahkan tetap bisa membantu kedua orangtuanya berwiraswasta.

Awang, panggilan akrabnya mengaku selama pandemi ini ia sangat getol membantu sang ayah berjualan kue onde-onde. Kegiatan itu dilakukannya setiap sore sehabis pulang sekolah, yakni pukul 16.00 WIB sampai habis.

Awang Onde-Onde Cibus © 2021 brilio.net

foto: Brilio.net/Hira Hilary Aragon

Loading...

Saat ditemui brilio.net, pada (21/12) sore, Awang menceritakan awal mula dirinya berjualan makanan yang diberi nama 'Onde-Onde Cibus' itu. Mulanya, Onde-Onde Cibus sendiri dibuat dengan rasa yang tidak monoton.

Uniknya, Onde-Onde Cibus dibuat dengan resep sendiri. Tak hanya onde-onde dengan isi kacang hijau, di sini terdapat sejumlah varian rasa lain. Di antaranya keju, durian, cokelat, kacang merah, dan kopi. Satuannya dijual dengan harga Rp 3.500.

"Bapak saya itu sering lihat orang makan jajanan pasar dibeli berapa ribu, nanti nggak habis, kebuang. Pengennya bapak saya itu membuat makanan tradisional yang emang harganya agak mahal, tapi sekali beli habis semua. Nggak kebuang. Dan juga konsumennya puas,"

Ia menuturkan usaha yang dibangun kedua orangtuanya itu sudah sejak 2013 lalu. Kala itu masih dititipkan di kedai jajanan pasar. Namun karena sang ibunda mengandung anak ketiga, jualan onde-onde sempat terhenti. Kemudian usahanya kembali dimulai sekitar 2018 silam.

Awang Onde-Onde Cibus © 2021 brilio.net

foto: Brilio.net/Hira Hilary Aragon

Sementara itu, sampai kini Onde-Onde Cibus telah membuka dua tempat dagang. Yang pertama yaitu di depan minimarket di kawasan Babarsari, Sleman yang dibuka pada Mei 2020 lalu. Yang kedua di sebuah restoran yang berada di kawasan Pakem, Sleman

"Jadi sistemnya bagi hasil sama yang di sana (pemilik restoran). Dibangun sekitar Oktober atau September lalu. Sistemnya keluarga saya juga jualan di sana, kayak lapak sendiri. Yang punya milih sistem bagi hasil aja, bukan sewa tempat. Karena pengen bantu juga," sambungnya.

Pria 17 tahun ini menjelaskan, sebelum pandemi ini terjadi, ia memilih membantu berjualan onde-onde di sekolahan. Setiap pagi, Awang selalu membawa onde-onde sambil berkeliling kelas untuk dijual kepada teman-temannya.

"Mikir kan pasarnya anak-anak SMA buat camilan, kan lumayan. Awalnya memang butuh izin, lalu saya dan keluarga saya mengurus izinnya. Minta izin, akhirnya boleh. Muter-muter kelas, yang kenal nggak cuma satu angkatan, tapi juga angkatan atas sama bawah," tambah Awang.

"Untungnya sekolah kooperatif, paham sama yang butuh tambahan dana," tuturnya lagi.

Awang Onde-Onde Cibus © 2021 brilio.net

foto: Brilio.net/Hira Hilary Aragon

Namun sejak kondisi Covid-19 yang membuat kegiatan sekolah dilakukan secara daring, Awang mau tak mau berhenti sementara waktu berjualan di sekolah. Padahal baginya, penjualan di sekolah bisa laku 100 onde-onde per hari dan termasuk pendapatan yang cukup besar.

"Pendapatnya berkurang, akhirnya buka di sini (Babarsari)," kenang Awang sambil tertawa.

Awang Onde-Onde Cibus © 2021 brilio.net

foto: Brilio.net/Hira Hilary Aragon

Diakuinya, tentu dampak ekonomi begitu dirasakan ketika kondisi pandemi seperti saat ini. Terutama mengenai biaya pendidikan. Oleh sebab itu, pelajar kelahiran 2003 itu bertekad membantu berjualan agar bisa membantu perekonomian keluarga.

Meski begitu, Awang tetap bisa membagi waktu antara sekolah dan berjualan dengan baik. Kegiatan sekolah dilakukan mulai pukul 07.30 sampai 14.00 WIB. Pukul 16.00 WIB sampai malam hari, Awang banyak menghabiskan waktu menjaga kedai jualannya.

"Kalau nggak habis (dagangannya), sampling. Yang datang ke Alfamart, ditawarin (dikasih kepada pengunjung minimarket). Jadi supaya orang juga kenal, makan enak, dan gratis," tuturnya.

Dalam satu hari, penjualan Onde-Onde Cibus di kedai Babarsari habis sekitar 30-40 pcs per hari. Jika sedang ramai-ramainya, penjualan bisa mencapai 100 pcs. Walau belum stabil, Awang tetap bersyukur atas hasil yang didapatnya.

"(Tetap menguntungkan) setidaknya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari bisa. Walaupun nggak terlalu untung banget. Tetap yang paling berpengaruh di Pakem, itu rame banget," kata Awang.

Awang Onde-Onde Cibus © 2021 brilio.net

foto: Brilio.net/Hira Hilary Aragon

Awang mengutarakan keuntungan penjualan dirinya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan menutup utang piutang. Biarpun demikian, Awang senang usaha yang dilakukannya dapat membantu perekonomian keluarga. Apalagi usaha ini kini menjadi mata pencaharian utama bagi keluarganya.

Sebagai seorang pelajar, Awang pastilah pandai mengatur waktu. Terlebih ketika ia mendapat pekerjaan rumah (PR) dan ujian sekolah. Awang sebisa mungkin menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum berjualan, sehingga ketika sudah tiba di kedai ia bisa fokus berjualan.

"Hari ini dikasih itu (tugas sekolah), sebisa mungkin pas pelajaran menyiasati waktu. Diselesaikan langsung. Kalau nggak nanti pulang sekolah, ada waktu dikerjain dulu," jelasnya.

"Kalau ulangan sih, sempat beberapa kali belajar di sini (kedai), saya rasa kurang efektif juga karena kebelah fokusnya. Akhirnya, misal hari ini sempat kosong, buat belajar dulu. Jadi di sini lebih fokus buat jualan," tutup Awang.

Awang Onde-Onde Cibus © 2021 brilio.net

foto: Brilio.net/Hira Hilary Aragon

Kepada brilio.net ibunda Awang, Yuanita Dewi pun juga menceritakan mengenai keinginan besar Awang berjualan onde-onde. Yuanita mengatakan jika putranya memang mengerti soal kondisi ekonomi keluarga.

"Itu hasil diskusi. Awang tahu kondisi keluarga seperti apa. Dari diskusi itu dia menyediakan diri untuk berjualan di sekolah untuk menambah uang saku sekaligus untuk membayar uang sekolah," ungkap Yuanita.

Selain itu, rasa bangga tentu dirasakan oleh Yuanita. Pasalnya Awang dapat berpikir lebih jauh dan membuang rasa malunya untuk membantu keluarga. Apalagi ketika masih berjualan di sekolah, Awang harus bangun pagi demi membantu pembuatan onde-onde dan mengantar kue tersebut ke sejumlah toko.

"Menurut saya perjuangan Awang luar biasa. Dia tidak malu untuk berjualan. Menurut saya hal-hal yang dilakukannya tersebut sangat luar biasa untuk anak seumurannya bahkan untuk orang dewasa sekalipun," sambungnya.

Setiap pagi, Awang selalu menjalankan rutinitas yang sama. Bangun sekitar pukul 04.00 WIB untuk membantu memasak onde-onde ibundanya. Kemudian pukul 05.00 WIB Awang mulai siap-siap berangkat sekolah. Tepat pukul 06.00 WIB, Awang mulai berangkat sekolah sambil mengantarkan onde-onde ke beberapa toko.

"Saat belum mempunyai motor, Awang pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda dan saat itu pun ia mengantarkan onde-onde dulu ke toko baru ke sekolah," kata Yuanita mengakhiri.