Brilio.net - Sejak virus Corona (Covid-19) merebak, umumnya penderita yang terjangkit virus ini berusia lanjut. Fakta tersebut bukan berarti generasi milenial lebih tahan terhadap virus ini ya. Baru-baru ini, melihat perkembangan yang terjadi secara global, ternyata banyak generasi milenial di sejumlah negara yang semula dinyatakan sehat tiba-tiba sakit akibat terpapar Covid-19.

Hal ini mendorong kekhawatiran bahwa milenial sangat mungkin, lebih rentan daripada yang diperkirakan sebelumnya. Hal inilah yang disampaikan koordinator gugus tugas koronavirus Amerika Serikat (AS), dr Deborah Birx. Ia menyampaikan kekhawatirannya akan ada sejumlah infeksi “tidak proporsional” di antara milenial.

“Ada kekhawatiran tentang laporan yang keluar dari Perancis dan Italia tentang orang muda yang sakit parah. Mungkin ada sejumlah infeksi yang tidak proporsional di antara kelompok milenial,” kata Birx seperti dilansir Brilio.net dari news.sky.com, Jumat (20/3).

Corona Milenial © 2020 brilio.netKoordinator Gugus Tugas Virus Corona Amerika Serikat dr Deborah Birx (tengah) saat memberikan penjelasan mengenai situasi terkini di AS, baru-baru ini. (Dok. news.sky.com) 

Birx menjelaskan selama ini sangat mungkin sebagian orang memperhatikan data awal yang keluar dari Tiongkok dan Korea Selatan di mana para lansia atau mereka yang memiliki penyakit bawaan menjadi kelompok yang sangat berisiko tertular virus.

Loading...

Saat ini tercatat mayoritas kematian akibat COVID-19, yang meningkat menjadi lebih dari 8.700 secara global adalah orang lanjut usia. Di mana rata-rata mereka memiliki penyakit penyerta sebelumnya. Karena itu pemerintah di seluruh dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa orang lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan paling berisiko. Mereka pun diimbau untuk lebih berhati-hati.

Namun faktanya, dari sejumlah korban meninggal akibat Covid-19 ada juga beberapa anak muda yang sebelumnya dinyatakan sehat, termasuk Li Wen-liang, 34, dokter yang dianggap sebagai orang pertama yang mengeluarkan peringatan tentang wabah koronavirus Wuhan pada 30 Desember 2019. Dia meninggal pada awal Februari setelah dinyatakan tertular virus tersebut.

Corona Milenial © 2020 brilio.netdr Li Wen-liang, orang yang pertama kali mengeluarkan peringatan wabah Virus Corona meninggal pada awal Februari diusia 34 tahun setelah dinyatakan tertular virus tersebut.(Dok.Li Wen-liang)

Masih menurut news.sky.com, Menteri Kesehatan Kanada Patty Hajdu juga menyuarakan keprihatinan serupa. Ia mengatakan saat ini tidak sedikit orang-orang berusia 30-an menjadi sakit parah akibat Covid-19. Kondisi ini yang terjadi di Ontario dan juga New York.

Sedangkan Dr Ignace Demeyer, yang bekerja di rumah sakit di Aalst, sebuah kota dekat Brussels, mengatakan semakin banyak orang berusia antara 30 dan 50 yang datang dengan gejala yang parah. Dia mengatakan kepada Brussels Times, padahal rata-rata pasien muda tersebut tidak menunjukan riwayat kesehatan yang buruk atau memiliki penyakit bawaan. “Mereka adalah orang yang tidak merokok, yang tidak memiliki kondisi lain seperti diabetes atau gagal jantung,” kata Demeyer.

Dia menambahkan bahwa semua pasien muda yang dia lihat sakit selama seminggu karena flu merasa baik-baik saja dalam beberapa hari, sebelum akhirnya mereka melaporkan menderita batuk kering dan sesak napas. Berdasarkan uji medis, mereka memiliki kadar oksigen yang sangat rendah dalam darah. “Mereka baru saja masuk. Tetapi mereka sangat terpengaruh oleh virus,” katanya kepada VRT News.

Corona Milenial © 2020 brilio.net(Dok. news.sky.com) 

Fenomena milenial yang cukup rentan terjangkit Covid-19 juga dikuatkan laporan terbaru Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Laporan tersebut menjelaskan, sekitar 38 persen pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di AS berusia di bawah 55 tahun.

Berdasarkan angka kasus Covid-19 per 16 Maret 2020, tercatat total ada 4.226 kasus COVID-19 di AS. Artinya kasus Covid-19 meningkat menjadi 500 atau lebih kasus per hari.  

Dari 508 pasien yang diketahui telah dirawat di rumah sakit, 38 persen berusia antara 20 dan 54. Selain itu, 9 persen berusia di atas 85. Lalu 36 persen berusia antara 65 dan 84, dan 17 persen berusia antara 55 dan 64.

Karena itu keputusan sejumlah negara melakukan lockdown dinilai sudah tepat. Selain itu, negara-negara yang belum menerapkan kebijakan isolasi, sangat direkomendasikan untuk menerapkan jaga jarak sosial (social distancing) kepada semua usia untuk memperlambat penyebaran virus, melindungi sistem perawatan kesehatan, dan membantu melindungi orang dewasa yang rentan terpapar Covid-19.