Brilio.net - Jokowi baru saja meresmikan Museum Keris Nusantara di Surakarta (9/8). Presiden Joko Widodo asli Solo ini ternyata juga memiliki koleksi keris lho.

Menurut penuturannya, ia mengoleksi berbagai keris yang diakui sesuai minat dan kesenangannya. Bahkan keris-keris koleksinya sebagian akan dititipkan ke museum. "Nanti saya pilihi, yang baik baik. Nanti saya antar langsung ke Pak Wali Kota. Mungkin saya mau, saya kirim, satu, dua, tiga, lima lah" tegas jokowi seperti dikutip dari laman Antara.

Kenapa Jokowi mengoleksi keris? Menurut dia, keris mempunyai nilai tradisi, budaya, dan filosofis yang harus dijaga oleh masyarakat. "Kita harus, dan menjadi kewajiban kita untuk merawat, menjaga nilai-nilai tradisi, budaya, yang berkaitan dengan apapun yang kita miliki," tuturnya.

v © 2017 brilio.net-foto: Presiden Jokowi & Perdana Menteri Kerajaan Belanda Mark Rutte pada acara di akhir 2016

Beberapa pemimpin negara juga banyak yang suka dengan keris. Jokowi bahkan sering membanggakan keris pada tamu luar negeri seperti kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. "Nilai- nilai, filosofi-filosofi yang ada di keris itulah yang menyebabkan mereka kagum," tegas Jokowi.

Loading...

Sampai saat ini, bagi orang jawa, keris memang melambangkan kehormatan. Keris sering dipakai pada acara formal kejawaan misalnya perkawinan. Keris dianggap sebagai simbol "kejantanan" oleh masyarakat jawa. Pengantin pria harus memakai busana adat jawa lengkap dengan keris diselipkan di pinggang. Keris yang digunakan dalam acara pernikahan pun tidak biasa. Biasanya orang akan menghias keris dengan karangan melati pada hulu keris. Kadang, sarung keris bisa dihiasi dengan ukiran indah. Maka tak jarang, nilai ekonomi keris bisa melambung tinggi.

Selain itu, keris juga tidak bisa diperlakukan sembarangan. Keris harus dijaga dengan peraturan ketat. Bahkan setiap satu sura dalam kalendar jawa, keris di Keraton diarak keliling kompleks keraton untuk memperoleh perlindungan, kebahagiaan, dan kesejahteraan lahir dan batin.

Reporter: Azizta Laksa Mahardikengrat