Brilio.net - Virus corona atau Covid-19 kini tengah menjadi ancaman bagi warga China. Pasalnya, Pemerintah Beijing menyatakan daerah di sekitar pasar grosir berisiko tinggi. Tentu saja ini sangat meresahkan masyarakat sekitar yang takut akan terjadi gelombang kedua penyebaran virus corona.

Dilansir dari merdeka.com, hingga kemarin ada 36 kasus positif baru corona dalam satu hari. Total kini sudah ada 79 kasus baru sejak Kamis  (11/6) lalu. Semua kasus terkait dengan klaster pasar di sebelah barat daya distrik Fengtai.

Menurut informasi yang dikutip dari South China Morning Post melaporkan, pasar seluas 112 hektar itu adalah salah satu pasar grosir terbesar di Asia dan pemasok makanan terbanyak ke provinsi-provinsi di sebelah utara China.

Wu Zunyou, kepala epidemiologis di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit kemarin sore mengatakan dalam laman People's Daily, situasinya kini serius.

"Beijing kini menghadapi ledakan wabah meski secara nasional epidemi sebetulnya sudah teratasi," kata Wu.

Wu menambahkan, "dan karena ini terjadi di Xinfadi, pasar grosir besar, maka ini jadi tantangan dan kami harus melakukan penyelidikan epidemiologis."

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah setempat telah menetapkan lockdown ketat di 21 kawasan perumahan di Fengtai dan distrik sebelah utara Haidian yang juga menjadi pusat pasar makanan. Wilayah tersebut kini dipantau secara ketat oleh pemerintah dan petugas keamanan.

Selama 14 hari kedepan, masyarakat diminta untuk berdiam diri di rumah dan tidak pergi ke pasar Xinfadi. Minggu kemarin Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan berjanji akan mengambil langkah tegas untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Di lokasi lain sekitar Baoding, Provinsi Hubei, dilaporkan ada satu kalster baru tiga pasien dan satu kasus tanpa gejala pada sebuah keluarga.

Pedagang makanan di Xinfadi berusia 31 tahun, ibu mertuanya berusia 53 tahun dan putrinya berusia enam tahun semua dites positif corona setelah mengunjungi pasar itu awal bulan ini. Istri dari pria 31 tahun itu yang sedang hamil juga dites positif meski tanpa gejala. Dia mengunjungi dua klinik untuk memeriksakan kandungan pekan lalu.

Otoritas kesehatan di Provinsi Liaoning mengatakan dua kontak dekat dari pasien positif di Beijing juga dipastikan positif tertular Sabtu kemarin.

Pemerintah daerah di seluruh China kini bersiaga untuk kembali menerapkan lockdown ketat. Di Baoding pemerintah mengatakan mereka tetap dalam keadaan "siaga perang" sementara di Lianong dan Xiamen di Provinsi Fujian di sebelah tenggara memerintahkan semua orang yang baru kembali dari Beijing segera mengisolasi diri selama 14 hari.

Provinsi Daqing dan Heilongjiang di sebelah timur laut meminta warga yang baru kembali dari Beijing untuk mengisolasi diri selama 21 hari.

Dilansir dari merdeka.com, selama 55 hari hingga Kamis kemarin Beijing mencatat tidak ada kasus baru corona. Namun ketika ada seorang pria yang tidak punya riwayat perjalanan atau berkontak dengan orang yang baru kembali dari Beijing ternyata positif, aparat langsung menyelidiki.

Pria itu dan orang kedua yang juga positif adalah petugas pemeriksa daging di pasar. Dia mengunjungi Xinfadi awal bulan ini dan aparat langsung memantau pasar itu. Meski pelacakan kontak sudah diketahui namun bagaimana rantai penularan itu bisa terjadi masih dicari tahu.

Ikan salmon awalnya diduga menjadi sumber penularan setelah ada laporan menyebut virus corona terdeteksi di talenan yang biasa dipakai memotong ikan. tapi menurut Wu kemungkinan bukan itu sumbernya.

"Yang kami tahu pasti sumbernya pasti berasal dari Beijing dan kami sedang menyelidiki dua kemungkinan," kata dia.

"Kami masih mengumpulkan sampel dari pasar dan menemukan talenan yang biasa dipakai untuk memotong ikan tidak banyak memberi informasi. Tidak ada bukti langsung yang menguatkan bahwa ikan salmon itu jadi sumber wabah," ujar Wu.

Tes kepada penjual daging ikan salmon dan lingkungan di sekitar Pasar Grosir Seafood Jingshen, tempat ikan salmon itu dibeli lalu dijual di Xinfadi, menyatakan dia negatif corona.

Wu menuturkan virus yang ditemukan di Xinfadi tidak sama dengan tipe virus yang menyebar di Beijing dua bulan lalu, tapi lebih mirip tipe virus yang di Eropa, meski dia tidak menyebut langsung virus itu masuk dari Eropa.

"Jika sampel di Amerika diteliti sebagian besar berasal dari tipe virus di Eropa, begitu juga yang di Rusia. Kami butuh lebih banyak informasi untuk memeriksanya," kata Wu.

Juru bicara Komisi Kesehatan Beijing Xia Xiaojun mengatakan 76.499 sampel dari warga yang di sekitar lokasi penyebaran sudah dites Minggu kemarin dan 59 orang positif.

Lebih dari 6.000 pekerja di pasar Xinfadi, hampir 70 persen, sudah dites dan hasilnya negatif.