Brilio.net -  

Kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia kini tengah melandai. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 berada di bawah angka 400 per hari.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas COVID-19, Sonny Harry B Harmadi menjelaskan, data ini jauh di bawah angka yang ditetapkan WHO tentang terkendalinya pandemi di sebuah negara. Seperti diketahui, WHO menyatakan pandemi terkendali jika kasus sudah kurang dari 10 kasus per satu juta penduduk atau sekitar 2.700 kasus per hari untuk Indonesia.

"Kalau kita perhatikan sejak tanggal 15 Oktober 2021 lalu, kasus terkonfirmasi sudah di bawah 1.000 orang," kata Sonny.

Sonny yakin, jika Indonesia bisa mempertahankan kasus yang rendah hingga Februari-Maret, maka bisa menurunkan status dari pandemi ke endemi. Ia berpendapat, untuk menjaga momentum ini kuncinya adalah dengan disiplin menjalankan prokes.

"Kasus melonjak atau melandai, perilaku masyarakat harus sama yaitu tetap menggunakan masker, jaga jarak, dan juga rajin mencuci tangan," tegas Sonny.

Meski angka kasus terus menurun, hal ini bukan berarti pandemi telah hilang. Untuk itu, terkait libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Sonny berharap semua pihak betul-betul mematuhi protokol kesehatan (prokes), melaksanakan arahan pemerintah, membangun kesadaran, dan disiplin kolektif.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, setiap libur panjang selalu berisiko terjadi peningkatan kasus Covid-19. Wajar jika momen Nataru harus jadi perhatian. Saat ini, berdasarkan indikator Google Mobility yang memantau pergerakan masyarakat di Jawa-Bali, menunjukkan mobilitas masyarakat mulai meningkat secara signifikan.

"Kalau disertai penurunan kedisiplinan protokol kesehatan bukan tidak mungkin berakibat lonjakan kasus. Jangan sampai lengah," ujarnya.

Sonny kembali mengingatkan semua pihak bahwa pandemi belum selesai. Hal ini didukung data kasus konfirmasi mingguan di 37 Kabupaten/Kota mengalami peningkatan. Lalu jumlah keterisian tempat tidur mingguan di 43  kabupaten/Kota di Jawa dan Bali juga mengalami peningkatan.

Jika dihubungkan dengan kepatuhan prokes, memang terjadi penurunan. Kalau sebelumnya kepatuhan memakai masker di angka 8,3, kini menurun menjadi 8,1. Hal ini tentu perlu jadi perhatian bersama dan satgas daerah. Jangan sampai terus terjadi penurunan kepatuhan terhadap prokes dan berdampak peningkatan kasus.

"Meski saat ini kenaikan kasus masih dalam jumlah kecil namun harus tetap hati-hati dan berusaha melakukan upaya terbaik agar tidak berkembang cepat," pungkas Sonny.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, tiap dua pekan pemerintah melakukan asesmen secara berkala terkait indikator level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di setiap Kabupaten/Kota. Hal ini sangat penting agar bisa mengevaluasi langkah yang perlu dilakukan.

Menurut Sonny, kondisi pandemi yang tengah melandai tidak terlepas karena konsistensi melaksanakan PPKM sesuai level. Selain itu, peningkatan vaksinasi dan perluasan penggunaan aplikasi PeduliLindungi juga berperan besar. Kampanye 3 M (menggunakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan) pun harus terus dilakukan.

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengingatkan, jangan sampai masyarakat euforia dengan kondisi pandemi yang melandai. Miko menilai, masyarakat cenderung gampang lupa dengan badai Covid-19 yang terjadi pada Juli 2021 lalu.

"Hampir tiap hari kita mendengar kabar duka saat badai Covid-19 pada Juli 2021 lalu. Tapi sayangnya masyarakat gampang lupa, protokol kesehatan mulai abai," ujar Miko.

Untuk itu, menurut Miko, prokes harus diatur dalam peraturan daerah hingga tingkat Kabupaten/Kota. Seperti kewajiban menggunakan masker dan larangan berkerumun.

Sementara itu, cucu BJ Habibie yang kini membuka kelas memasak, Putri Habibie mengatakan, protokol kesehatan tidak bisa ditawar. Meski saat ini pandemi tengah mereda, Putri tetap memilih menggelar kelas online, meski permintaan kelas offline tinggi.

Putri memilih tetap menggelar kelas online untuk mencegah penyebaran Covid-19. Meski begitu, ia mengaku mengalami kendala ketika menggelar kelas online, salah satunya harus beradaptasi dengan teknologi.

"Tetapi kesehatan dan keselamatan harus dijunjung tinggi. Karena kelas offline meningkatkan risiko karena harus bertemu banyak orang," tegas Putri.

(brl/lak)