Brilio.net - Aksi massa yang mulai terjadi pada Selasa (21/5) terus berlangsung hingga Kamis (23/5) dini hari. Aksi tersebut juga diwarnai kericuhan yang mengakibatkan sejumlah korban tewas dan luka.

Massa yang tidak mau membubarkan diri ini memaksa aparat bertindak tegas. Kericuhan pun tak dapat terhindarkan. Setelah diselidiki, rupanya diduga ada sejumlah pihak yang sengaja membuat kekacauan dan menyerang petugas saat aksi 22 Mei tersebut.

Massa mulai memadati kawasan MH Thamrin sejak Selasa (21/5) siang hari. Sejumlah pasukan keamanan pun terlihat sudah lebih dulu membuat barikade di sekitaran kantor Bawaslu. Namun demonstrasi yang berlangsung sepanjang hari ini mulai terjadi gesekan. Bentrokan pecah menjelang tengah malam dan terulang saat aksi Rabu (22/5).

Kerusuhan tersebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Ratusan luka dan belasan kendaraan yang terparkir di asrama Brimob terbakar. Aksi brutal itu dilakukan oleh segerembolan perusuh. Kericuhan ini terus meluas hingga mengarah ke wilayah Petamburan dan Pasar Slipi, Jakarta Barat, yang sempat membuat aparat keamanan kewalahan dalam membubarkan massa.

Perlawanan massa tersebut membuat aparat keamanan bekerja ekstra keras, apalagi aksi tersebut ditandai dengan pembakaran ban dan sejumlah benda di jalan maupun blokade jalan. Aparat keamanan bahkan menggunakan helikopter yang terpantau berlalu lalang membawa kantong air untuk dijatuhkan di beberapa titik lokasi kerusuhan yang terdapat pembakaran sejumlah benda di jalanan.

Berikut kronologi peristiwa yang terjadi sejak 21 Mei hingga 23 Mei seperti yang brilio.net himpun dari laman Antara, Kamis (23/5).

Selasa, 21 Mei 2019.

Pukul 10.00 WIB.
Massa sudah melakukan demonstrasi di depan Bawaslu. Aksi berjalan dengan kondusif, kooperatif, dan damai. Bahkan koordinator lapangan aksi meminta kepada Kapolres Jakarta Pusat untuk diizinkan berbuka bersama yang dilanjutkan Salat Magrib, Isya, dan Tarawih berjemaah.

Pukul 21.00 WIB.
Setelah Salat tawarih, petugas dari Polres Jakarta Pusat mengimbau untuk membubarkan diri. Dari beberapa imbauan, kooordinator aksi menyambut baik dan akhirnya membubarkan diri dengan tertib, kondusif, dan damai.

Pukul 23.00 WIB.
Tiba-tiba ada massa yang tidak tahu asalnya dari mana. Massa berulah anarkis dan provokatif. Mereka berusaha merusak security barrier dan memprovokasi petugas. Sesuai SOP, tak boleh ada lagi aksi sesudah larut malam. Petugas menghalau dengan mekanisme yang ada.

Namun massa yang didorong polisi ke Jalan Sabang dan Wahid Hasyim, bukan kooperatif tapi malah menyerang. Bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan batu, petasan ukuran besar ke arah petugas. Massa bertindak berutal.

Imbauan untuk membubarkan diri dari kepolisian diberikan hampir lima jam atau hingga pukul 03.00 WIB. Karena tidak kooperatif, terpaksa massa itu didorong. Massa sangat brutal tersebut. Massa itu terpecah ke arah Sabang dan ke beberapa gang-gang kecil.

Ada 200 massa berkumpul di KS Tubun dan belasan mobil di Petamburan hangus terbakar. Garis polisi terpasang pada sejumlah kendaraan yang terbakar di sekitar asrama Brimob Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Barat, Rabu (22/5). Diketahui kerusuhan terjadi di lokasi tersebut, buntut demo depan gedung Bawaslu yang berujung ricuh.

 

Rabu, 22 Mei 2019.

Pukul 02.45 WIB.
Ada massa lain yang berdatangan. Mereka berbeda dari massa yang tadi sudah dihalau petugas.

Pukul 03.00 WIB.
Pada saat bersamaan, ada 200 massa yang berkumpul di KS Tubun, Jakarta Barat. Diduga ini sudah disiapkan dan disetting. Seperti biasa menurut Iqbal, kami imbau pendekatan bahkan Polres Jakbar dibantu tokoh masyarakat pemuka FPI.

Namun seketika itu juga massa tersebut bergerak ke arah asrama Mabes Polri di Petamburan. Mereka menyerang asrama Brimob dengan batu, molotov, petasan, botol-botol. Di asrama itu ada piket petugas lalu dihalau dengan gas air mata.

Massa bukannya mundur, tapi terus masuk ke asrama Brimob. Mereka melakukan perusakan asrama dan membakar beberapa kendaraan yang parkir di sana. Baik kendaraan pribadi maupun dinas.

Mobil yang rusak berjumlah 11 unit, dengan kerusakan variasi kaca depan. Mobil terbakar ada 14 unit. Yaitu truk dalmas, mobil dalmas, dan 11 unit mobil umum.

Pukul 05.00 WIB.
Kapolda Metro Jaya Gatot Eddy Pramono dikutip dari Antara tiba untuk menenangkan massa. Mereka masih ada di lokasi. Ada beberapa massa yang terluka dan sedang dicek dan investigasi. Kepolisisan turut mengamankan satu ambulan berlogo partai.

Dari dalam ambulans tersebut aparat keamanan mengamankan benda tumpul yang diduga akan dipakai untuk aksi 22 Mei. Massa aksi di depan kantor Bawaslu melemparkan barang-barang ke arah personel yang sedang berjaga di lokasi. Massa tersulut oleh segelintir pendemo.

Pukul 08.00 WIB.
Massa terlibat saling serang dengan aparat keamanan di kawsan Polsek Gambir Jakarta Pusat. Warga sendiri membakar ban di beberapa sisi sehingga menyebabkan lalu lintas menjadi terhambat. Polisi dan massa tengah bentrok diwarnai dengan lemparan batu dan beling. Polisi sesekali menembakkan gas air mata.

Sementara itu massa melakukan aksi saling dorong dengan aparat keamanan di kawasan MH Thamrin. Aksi itu dilakukan tepat di lokasi Hotel Sari Pan Pacific berada. Massa mendorong aparat keamanan ke arah Bawaslu sehingga ada personel pun mundur perlahan.

Pukul 18.30 WIB.
Massa aksi yang berada di depan Kantor Bawaslu terlihat kondusif hingga Rabu (22/5) sore usai waktu berbuka puasa.

Pukul 20.30 WIB.
Namun kondisi tersebut berubah 280 derajat, ketika massa yang berada di perempatan Bawaslu dan Mandiri Tower mulai melakukan provokasi tepat sebelum pasukan Brimob yang berjaga di depan Bawaslu.

Padahal awalnya massa hendak membubarkan diri, namun sayangnya ada sejumlah orang yang tampak memprovokasi. Massa yang tersulut terlihat melempari barang ke arah polisi. Tampak botol, batu, dan petasan dilemparkan ke arah polisi. Polisi masih berdiam dan tidak melawan.

Kembang api pun diarahkan dari massa yang berada di perempatan Jalan Thamrin dan Jalan Wahid Hasyim serta massa yang berada di lantai atas Gedung Sarinah.

Hampir bersamaan dengan hal tersebut Kepolisisan Daerah Metro Jaya menggelar jumpa pers terkait penangkapan 257 tersangka yang telah berbuat ricuh pada Rabu dini hari. Sebanyak 257 tersangka terdiri dari 72 tersangka diamankan di depan Bawaslu, 156 orang di lokasi kerusuhan Petamburan dan 29 tersangka di Gambir.

Pukul 22.30 WIB.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan Jakarta telahg merawat 161 korban bentrok di sekitar Jalan Thamrin, Tnaah Abang maupun Petamburan, Jakarta Pusat. Sementara itu, korban bentrokan yang tercatat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mencapai 24 orang yang hampir semuanya mengalami sesak nafas karena menghirup gas air mata. Pada saat yang sama, Rumah Sakit Budi Kemuliaan juga tercatat telah menerima sebanyak 177 korban terluka ringan maupun berat.

 

Kamis, 23 Mei 2019.

Pukul 03.00 WIB.
Suara ledakan petasan masih terdengar di kawasan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (23/5) dini hari. Jelang sahur, kericuhan terbagi menjadi dua sisi, yaitu Jalan Wahid Hasyim arah Sabang maupun yang ke arah Tanah Abang.

Hingga pukul 03.00 WIB suara petasan masih terdengar mengarah ke barikade polisi. Tak tinggal diam, polisi pun membalas dengan gas air mata. Aksi massa bergerak mundur sambil membakar warung sate dan pos polisi yang terletak di restoran padang di bilangan Jalan Agus Salim atau kawasan Sabang terbakar saat kerusuhan di sekitar kantor Bawaslu antara massa pendemo dengan aparat keamanan.

Pukul 04.00 WIB
Api yang membakar Pospol Sabang akhirnya dipadamkan oleh warga setempat sekitar pukul 04.00 WIB. Kini, pos itu tak berbentuk dan tak bisa lagi difungsikan sebagaimana mestinya. Di samping itu, polisi juga meringkus para provokator. Satu per satu digiring ke mobil tahanan. Terpantau jumlahnya mencapai puluhan.

Pukul 06.00 WIB
Kerusuhan benar-benar reda pada Kamis (23/5) sekitar pukul 06.00 WIB. Aksi ini menjadi yang kedua, setelah sehari sebelumnya, kerusuhan juga pecah di depan Bawaslu hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat.